Sidang Sinode dan Batu Akik – Sebuah Paradoks Ekologi

SS GMIT XXXIII – sinodegmit.or.id – Banyak hal menarik yang terjadi selama Persidangan Sinode GMIT ke-33 di Rote. Hal menarik itu mampu menyemangati para peserta sidang di tengah tajamnya sengatan matahari bulan September. Perhatian peserta sidang ditujukan kepada batu akik yang telah dibentuk menjadi berbagai bentuk perhiasan yang indah.

Sehubungan dengan batu akik, Bupati Rote-Ndao dalam sesi siang tanggal 23 September 2015 menjanjikan hadiah cincin batu akik kepada setiap peserta. Batu akik pemberian bupati, katanya diambil dari kandungan rahim pulau Rote, alias batu akik asli Rote. Janji itu disambut tepik sorak oleh peserta. Janji yang kemudian digenapi dengan hadiah cincin batu akik yang langsung dipakai oleh hampir seluruh peserta sidang.

Hal ini berbanding terbalik dengan liturgi ibadah malam 23 September 2015. Ibadah dikemas dalam nuansa etnis yang sangat apik. Dalam ibadah orang Rote berteriak menjerit tentang kekeringan dengannada dan bahasa-bahasa puitis. Teriakan itu berhasil membungkam semua peserta.

Dua hal ini menunjukkan sebuah paradoks. Pada acara siang peserta memekik sukacita mendapatkanhadiah batu akik asli Rote, sementara malamnya mereka tertengun mendengar jeritan bumi Rote karena kekeringan. Ini dua situasi yang menuntut dibuatkan pilihan yang tepat, antara berjuang menjaga alam pulau Rote dari kehancuran lebih parah dan mengais rejeki dari kekayaan alam pulau Rote berupa batu akik. Bergelut dengan kenyataan dilematis ini, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Nona Anggie Mandala, seorang pengusaha batu akik yang menjual produk kerajinannya di arena persidangan Sinode GMIT ke-33.

Anggie mengaku bahwa usaha yang telah dimulainya sejak tahun 2011 hanyalah batu akik Rote dengan kualitas yang tinggi, terutama batu Bacan Doko dan Sisik Naga Merah. “Beta dalam membangun usaha, menerapkan prinsip kerja kolaboratif. Beta cari batu akik, bapak poles lalu katong jual,” kata Anggie, yang melayani sebagai diaken di jemaat Menggelama. Lebih jauh Anggie mengaku penghasilan dari penjualan batu akik lumayan. “Sebenarnya katong sadar bahwa usaha ini dapat menghasilkan krisis ekologi berupa penghancuran alam dan eksploitasi bumi. Untuk itu katong tetap menjaga prinsip mengambil dari alam tanpa menimbulkan kerusakan parah. Caranya adalah katonghanya mengambil batu akik dalam ukuran yang kecil. Beta sonde ambil batu-batu dalam ukuran besar. Paling besar katong ambil sebesar tinju orang dewasa. Itu karena perkakas yang katong pakai juga sederhana,” jelas Anggie.

Prinsip ekonomi yang ramah ekologi ini, menurut pengakuan Anggie dipelajari secara otodidak. “Pendeta-pendeta jarang memberi perhatian kepada kelestarian ekologi dalam khotbah-khotbah mereka. Mereka lebih banyak omong tentang keselamatan jiwa dan hidup batin yang bersih. Ekonomi yang ramah ekologi lebih banyak beta belajar dari pengalaman sa,” kata perempuan cantik yang sekaligus bekerja sebagai perawat ini.

Salah satu harapan yang Anggie Mandala kepada para peserta sidang Sinode GMIT XXXIII adalah supaya lebih sungguh-sungguh lagi menjaga alam, tanah, batu, air dan hutan. “Pendeta-pendeta harus lebih banyak khotbah tentang bumi dan bagaimana menjaga kelestarian alam dan makhluk hidup lain,” seru Anggie. ••• Pdt. Eben Nuban Timo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *