SION SEBAGAI PUSAT KERAJAAN DAMAI – (PA Minggu ke-3 Advent)

SION SEBAGAI PUSAT KERAJAAN DAMAI

YESAYA  2:1-5

(Pdt. Wanto Menda, S.Th)

Latar Belakang

Yesaya memulai tugasnya sebagai nabi di kerajaan Yehuda pada tahun 742 sM. Masa ini ditandai dengan gejolak dan ketegangan sosial politik akibat munculnya kerajaan Asyur sebagai kekuatan baru di Timur Tengah kuno  selain Mesir. Kerajaan Aram, Fenesia, Israel dan Yehuda bahkan Mesir merasa terancam dengan kemunculan Asyur yang sedang memperluas wilayah kekuasaannya. Sebagai tindakan antisipatif, Pekah raja Israel Utara dan Rezin, raja Aram bersekutu melawan Asyur. Untuk memperkuat barisan militernya, kedua raja ini juga memaksa Ahas, raja Yehuda berkoalisi tapi Ahas menolak. Tidak terima dengan penolakan itu, raja Aram dan Israel Utara balik mengepung Yerusalem (Yehuda). Guna mengimbangi kekuatan militer 2 vs 2, Ahas raja Yehuda minta bantuan kerajaan Asyur. Pada situasi krisis ini, Yesaya tampil dan memperingatkan Ahas agar mengurungkan niatnya. Namun Ahas tidak menggubris teguran sang Nabi. Akibatnya sudah bisa ditebak. Perang tidak terelakan. Asyur dengan kekuatan militer yang tangguh berhasil menaklukan Israel Utara dan Aram. Bahkan sebagian penduduk Israel Utara dibuang ke Asyur sebagai tawanan/budak. Peristiwa itu terjadi antara tahun 734-726.

Bagaimana nasib kerajaan Yehuda?  Sebagai kerajaan yang cuma numpang kekuatan pada Asyur, lama-kelamaan mereka tidak tahan dengan tekanan-tekanan dari Asyur. Yehuda kemudian mencari sekutu baru untuk memberontak melawan Asyur.  Asyur yang dulu kawan sekarang jadi lawan. Mesir menjadi kawan baru. Kalau di Indonesia, mirip-mirip koalisi Merah Putih versus Indonesia Hebat. Akrobat politik itu menegaskan tesis Lord Acton “dalam politik tidak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”. Ujungnya tentu saja perseteruan yang tiada habisnya.

Sudah tentu, ibarat peribahasa “Gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah”rakyat kecillah yang paling merasakan dampak dari konflik politik dan perang yang senantiasa mengancam dan berkepanjangan. Rakyat tidak bisa mengolah tanah dengan aman. Kalau pun mereka bisa bekerja, hasil dari kerja mereka habis untuk pajak dan ongkos perang. Situasi ini mendorong nabi Yesaya menyerukan suara kenabian. Nabi berulang kali berpesan, bersandarlah kepada Tuhan. Hanya Tuhan saja. Jangan yang lain. Jangan bersekutu dengan Asyur; Mesir juga jangan. Namun, lagi-lagi Yehuda menutup telinga terhadap suara Tuhan. Akibatnya sungguh tragis: tahun 701 Asyur dibawah raja Sanherib menyerang kerajaan Yehuda dan berhasil mendudukinya.

Pendalaman Teks

Siapa Yesaya? Sedikit sekali informasi tentang salah satu nabi besar ini. Ayahnya bernama Amos (bukan Amos orang tekoa). Ia bekerja di jaman 4 raja: Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia. Sejumlah penafsir berkesimpulan Yesaya berasal dari keluarga terhormat dan punya koneksi dengan keluarga istana. Bisa jadi ia keturunan bangsawan. Ia memanfaatkan posisinya itu untuk mengingatkan para pemimpin (raja-raja) Yehuda. Ia sungguh-sungguh terlibat dalam masalah-masalah sosial politik negaranya. Ia gigih memperjuangkan keadilan sosial bagi segenap rakyat meski karena itu pemberitaannya tidak digubris bahkan menurut legenda tubuhnya di gergaji. Ia menubuatkan hukuman dan kehancuran tetapi juga harapan dan masa depan.

 

Ayat 2 dan 3 menyebutkan bahwa pada hari-hari yang terakhir segala suku bangsa akan berduyun-duyun menuju ke gunung TUHAN (Sion). Di sana (di rumah Allah Yakub) bangsa-bangsa (termasuk yang memusuhi Israel) akan mendengar mengajaran Tuhan dan mereka akan berjalan di jalan-Nya. Nubuatan itu terdengar menyejukan hati umat Yehuda oleh karena perang akan berakhir dan nanti mereka akan hidup dalam suasana toto tentrem kerto raharjo (tentram damai), tetapi segera timbul tanda tanya, mengapa bangsa-bangsa lain yang adalah musuh-musuh Yehuda juga diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk menikmati persekutuan dengan TUHAN di rumah Allah Yakub? (gunung kami punya, Tuhan juga kami punya Tuhan, terus kamu datang datang bekin apa)  Mengapa Tuhan tidak membinasakan mereka? Kalau nubuatan itu digenapi apakah mungkin bangsa Yehuda yang menganut paham partikularis -bahwa keselamatan itu hanya untuk mereka- rela menerima dan hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain? Sedangkan saudara mereka di Israel utara saja dimusuhi apalagi bangsa-bangsa lain? Jadi, menurut saya, selain mengandung harapan, nubuatan ini menyimpan batu sandungan.

Ayat 4. Tuhan akan menghakimi semua bangsa di gunung Sion. Jika sebelumnya bangsa-bangsa saling memerangi satu dengan yang lain, tapi kelak akan tiba saatnya di mana bangsa-bangsa yang saling bermusuhan itu mengadakan genjatan senjata di gunung TUHAN. Senjata-senjata yang sebelumnya dipakai untuk saling mematikan akan berubah fungsi menjadi perlengkapan yang menunjang kehidupan. Perang akan dihapus dari kamus hidup bangsa-bangsa.“pedang-pedang menjadi mata bajak dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas”.   Sampai pada penggalan ayat ini saya teringat pada lirik lagu “Imagine”ciptaan John Lenon. “ imagine there’s no countries/ it isn’t hard to do/ nothing to kill or die for/ no religion too/ imagine all the people/ living life in peace.  I hope some day you’ll join us/ and the world will live as one (bayangkanlah tidak ada Negara/ tidak sulit melakukannya/ tidak ada alasan untuk membunuh dan terbunuh/ juga tidak ada agama/ bayangkan semua orang menjalani hidup dalam damai. Aku harap suatu saat kamu akan bergabung dengan kami. Dan dunia akan bersatu.

Ya, Saya kira John Lenon benar: Dunia akan bersatu kalau semua orang menjalani hidup dengan damai. Menjadikan damai sebagai visi bersama untuk dunia baru yang lebih baik. Imajinasi-nya John Lenon selaras dengan nubuatan Yesaya. Bangsa-bangsa berduyun-duyun menuju ke Sion. Sion akan menjadi pusat kerajaan damai. Tapi Kapan peristiwa itu akan terjadi? Jawabnya adalah: Apabila bangsa-bangsa terutama Israel (Yehuda) memandang Tuhan sebagai Tuhan yang Satu untuk segala bangsa. Ia tidak dikurung sebagai milik agama tertentu saja. Damai dalam pandangan Yesaya adalah membangun koalisi antar bangsa-bangsa untuk memperjuangkan kesejahteraan yang berkeadilan bukan koalisi untuk saling menjegal, memusuhi dan memerangi. Damai dalam pengertian Yesaya adalah ketika bangsa-bangsa duduk bersama untuk mengubah pedang dan tombak menjadi mata bajak dan pisau pemangkas, bukan sebaliknya menciptakan senjata pemusnah yang baru. Hans Kung berkata, “Tidak ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama”. Adalah mustahil bangsa-bangsa berduyun-duyun menuju Sion kalau diantara mereka tidak berdamai dan penduduk Sion sendiri tidak menciptakan damai.

Untuk itulah, pada ayat 5, Sang Nabi mengajak kaum keturunan Yakub, “Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.”Kalimat ini mau mengatakan bahwa sebenarnya bukan bangsa-bangsa lain saja yang hidup dalam kegelapan, tetapi umat Yehuda sendiri pun belum sungguh-sungguh hidup dalam terang Tuhan.

 

RELEVANSI

1)      Apa relevansi teks ini bagi kehidupan keberagaman dan keberagamaan di Indonesia? Kasus Ahok adalah sebuah panggung di mana keberagaman dan keberagamaan kita kembali dipertanyakan. Apakah sebagai sesama anak bangsa kita sungguh-sungguh mau menjadikan Indonesia sebagai “Sion”di mana semua agama, suku, ras , bahasa gender, dst, bisa hidup bersatu dan merawat kebhinekaan ataukah masing-masing mempertahankan klaim kebenarannya sendiri lalu saling memerangi entah sampai kapan?

2)      Gereja diutus untuk membawa damai. Tetapi pada saat yang sama kedamaian tersebut diobok-obok oleh kelompok tertentu. Gereja dibuat menjadi tidak damai. Ada kondisi serba salah. Bila gereja diam, kelompok-kelompok radikal akan terus berbuat sewenang-wenang. Tapi bila beraksi akan timbul kekacauan yang lebih parah. Dalam situasi dilematis ini, apa yang sebaiknya gereja lakukan demi menjaga kedamaian? Apakah kita mesti perang supaya ada damai? (di medsos, ada yang bilang, kalo dong bungkus kotong pung sodara di Bandung, kotong ju bungkus dong pung sodara di sini, biar ko dong tahu kalo Indonesia bukan hanya Jawa)

3)      Pelajaran (nilai-nilai) apa yang bisa dipetik dari keterlibatan Yesaya dalam menanggapi gejolak sosial politik yang menimpa bangsanya.

                                                                       

TANGGAPAN:

  • Yesaya bernubuat di dan dari pusat lingkaran istana. Ini berbeda dengan Amos yang bernubuat dari pinggir. Ini menginspirasi kita untuk berjuang memperbaharui dunia sekitar kita dari berbagai arah.
  • Menjadikan Indonesia sebagai ‘sion’di mana damai dipancarkan mesti dimulai dari tiap-tiap orang.
  • NTT mendapat predikat provinsi paling toleran tapi pada saat yang sama NTT juga menempati rangking pertama angka kekerasan tertinggi. Jadi toroleransi yang kita agungkan kita tidak jatuh sama dengan fakta kekerasan yang sedang terjadi.
  • Meski fakta hari ini Indonesia sedang mengalami carut marut politik tapi kita punya pengharapan. Pengharapan yang aktif bukan pasif. Pengharapan berbeda dengan optimis karena dalam pengharapan ada iman kepada Allah.
  • Terkait pembubaran ibadah natal di Bandung, sebagai umat Kristen, meski pembubaran itu tidak sesuai dengan konstitusi tapi di sisi lain tata cara beribadah kita juga perlu dirancang sedemikian rupa sehingga tidak demonstrative yang bisa menimbulkan agitasi (gelisah) bagi umat lain.
  • Konsistensi kita untuk menyuarakan suara kenabian tidak bisa di tawar. Berhadapan dengan kelompok-kelompok kharismatik eksklusif kita tetap menunjukan GMIT adalah gereja yang inklusif. Selama kita punya landasan teologi yang kuat mengenai hal itu dan yakin bahwa itu kehendak Tuhan, lakukan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *