Sopir Banting Setir Jadi Petani

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Meskipun terlahir sebagai anak petani, ia tidak menyukai pekerjaan ini. Ia lantas memilih menjadi sopir mobil pick up. Profesi ini ia tekuni sekitar 10 tahun terakhir.  Akan tetapi tiga bulan yang lalu, James Lassa, pemuda berusia 38 tahun ini memutuskan beralih menjadi petani.

Apa yang mendorong James Lassa,  banting setir?

“Semua ini berawal dari kehadiran Pak Pendeta Markus Leonupun. Pak Pendeta motivasi kami. Beliau bukan hanya omong tapi mendampingi kami dan membuktikan bahwa bertani memberi hasil,” ujar James di sela-sela panen  sayur buncis di kebunnya di Noelsinas, desa Tunfeu-Kupang Barat.

Mendengar dorongan terus-menerus dari Pendeta Leonupun, James mulai mencoba. Tanah miliknya seluas setengah hektar yang sekian lama terlantar dan ditumbuhi semak belukar, ia bersihkan dan jadikan kebun.

Melalui bimbingan Pdt. Leonupun, ia mulai usaha barunya. Mempersiapkan bedeng, pesemaian bibit, pemupukan, perawatan dst.nya.

“Sebagai awal saya tanam 1000 anakan buncis, 1200 cabe dan 400 terung dan bedeng-bedang yang sedang dipasang mulsa itu untuk tanam melon,” sambung lagi sambil menunjuk sejumlah bedang yang telah siap ditanami.

James bukan satu-satunya pemuda yang mulai menekuni kebun holtikultura. Di Jemaat GMIT Oemathonis Noelsinas-klasis Kupang Barat, sudah terbentuk 4 kelompok tani yang berada di bawah dampingan Pdt. Leonupun, pendeta di jemaat ini. Masing-masing kelompok berjumlah kurang lebih 20 orang.

Salah satu kelompok yang dinamai “Kelompok Tani Pemuda Pelangi” terdiri dari pemuda-pemuda gereja putus sekolah yang mengganggur, mabuk-mabukan dan sering membuat onar. Berkat dorongan Pendeta Leonupun, pemuda-pemuda meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dan menjadi pemuda yang produktif. Hal ini diakui oleh kepala desa setempat, Martinus Leli.

“Dulu anak-anak muda khususnya di dusun 4 Noelsinas ini kerjanya duduk-duduk di deker dan minum mabuk. Tetapi berkat dorongan dari Bapak Pendeta, sekarang mereka sudah bertobat dan rajin kerja kebun. Ada yang tanam melon, tomat, buncis, semangka dan sebagainya,” ungkap Martinus.

Melihat keseriusan pemuda dan warga jemaat yang membentuk kelompok-kelompok tani, pemerintah desa Tunfeu di tahun 2018 ini melalui dana desa menggelontorkan dana sebesar Rp. 50 juta, untuk pemberdayaan ekonomi dalam bentuk pengadaan bibit sayur-mayur bagi kelompok-kelompok tani.

Menyambut respon pemerintah desa setempat, Pdt. Leonupun yang juga sekretaris Komunitas Pendeta Suka Tani (KOMPASTANI) GMIT, menyampaikan terima kasih banyak dan berharap para petani makin bersemangat memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam.

Kamis, 25/1-2018, kelompok-kelompok binaan Pdt. Leonupun mengadakan kegiatan Farmers Field Day (FFD) yang berlangsung di Gereja Oemathonis Noelsinas. Kegiatan ini semacam wadah sharing para petani yang merupakan kerja sama MJ Oemathonis Noelsinas, Pemerintah Desa Tunfeu dan PT Panah Merah.

Pada kesempatan ini James Lassa, pemuda yang baru beralih profesi menjadi petani 3 bulan terakhir ini menyampaikan rasa syukurnya. Ia mengaku senang dengan upaya-upaya gereja dalam mendorong warga jemaat untuk bertani secara profesional.

“Saya sudah rasakan manfaatnya bertani. Dalam 3 bulan ini saya sudah panen buncis 4 kali dengan hasil lebih dari 400 kilogram. Jadi saya memilih fokus urus kebun sayur daripada jadi sopir,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published.