SPIRITUALITAS KENOSIS

Pemahaman Alkitab

(Pdt. Niftrik Tanau)

Filipi 2:1-11

Rasul Paulus memandang bahwa kebutuhan Jemaat Filipi saat itu adalah persekutuan yang kuat. Bagaimana mungkin mereka dapat bertahan menghadapi penganiyayaan dari “musuh-musuh” mereka, jika ada perpecahan di antara mereka. Sebab itu, Paulus menyerukan agar mereka sehati sepikir dalam satu kasih, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Ada empat alasan yang dia kemukakan: pertama, di dalam Kristus ada nasihat; kedua, ada penghiburan kasih; ketiga, ada persekutuan Roh; keempat, ada kasih mesra dan belas kasihan. Semua yang ada dalam dalam pikiran dan perasaan Kristus ini, mesti menjadi bagian juga dalam pikiran dan perasaan jemaat Filipi. Rasul Paulus menghadapkan kepada jemaat Filipi suatu teladan untuk menjaga agar mereka tetap teguh berdiri dalam satu roh dan tidak digentarkan oleh  lawan mereka. Teladan itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kristus Yesus. Bahwa Yesus dalam rupa Allah telah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di Kayu Salib. Atas semua yang dikerjakan Kristus Yesus, maka Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan pada-Nya nama di atas segala nama, yakni Yesus Kristus adalah Tuhan.

Jika Jemaat di Filipi yang baru bertumbuh diperhadapkan dengan ancaman perpecahan, lebih lagi kita saat ini. Persekutuan orang percaya saat ini bahkan diguncang oleh rupa-rupa angin pengajaran. Dalam konteks kehidupan berbangsa kita juga diperhadapkan dengan ancaman perpecahan.  Pengerasan identitas agama yang berwujud dalam gerakan-gerakan radikalisme. Pengerasan identitas kedaerahan yang berwujud dalam primordialisme yang sempit. Selain itu, korupsi yang sudah merasuk sampai ke pelosok-pelosok negeri di desa-desa juga menjadi ancaman baru dalam mera