TAK ADA ROTI DAN ANGGUR DI PERJAMUAN KUDUS

(Sebuah Pengalaman dari Rote – Indonesia)

Pdt. Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo

Abstrak

Artikel ini merupakan kajian kritis-kontekstual terhadap pelaksanaan Perjamuan Kudus di salah satu jemaat protestan di pulau Rote – Nusa Tenggara Timur Indonesia. Dalam perjamuan roti dan anggur diganti dengan makanan lokal masyarakat setempat. Perserta juga diberi keluasan untuk makan dan minum lebih dari satu kali. Penulis memberi penjelasan terhadap model ini dari perspektif perayaan Paskah Yahudi.

Keyword: Holy Communion, Bread and Wine, Contextualization, Church, Island Rote

Pemakaian roti dan anggur dalam Holy Communion merupakan tradisi yang sudah berlangsung 20 abad dan diterima secara universal. Roti dan anggur adalah makanan pokok masyarakat Timur Tengah dan Eropa. Bangsa Indonesia makanan pokoknya adalah nasi. Ini menjadi alasan di banyak gereja lokal di Indonesia ada upaya untuk menggantikan roti dan anggur dengan makanan pokok masing-masing masyarakat. Di Gereja Kristen Indonesia Dagen-Palor Jawa Tengah nasi tumpeng dan sirup dipakai dalam perayaan Perjamuan Kudus.[1] Banyak pendeta muda di Timor juga bereksperimen menggantikan roti dan anggur dengan ketupat dan air putih. Di bulan Oktober 2016 majelis salah satu jemaat di Rote, pulau paling Selatan Indonesia menyelenggarakan sakramen itu dengan cara yang unik. Si pendeta membagikan cerita itu disertai foto-fotonya kepada saya di dalam sebuah kapal cepat waktu kami berdua menyeberang dari Kupang ke Rote.

Posisi duduk diatur sesuai pertalian keluarga atau kekerabatan. Tiap kelompok mengelilingi satu meja. Dia atas meja terdapat beberapa haik, alat minum tradisional orang Rote terbuat dari daun pohon lontar. Ukuran haik itu sebesar gelas. Tiap peserta perjamuan diminta membawa sendiri haik itu dari rumah masing-masing. Haik-haik itu berguna sebagai cawan. Anggur untuk Perjamuan Kudus adalah tuak, nira segar pohon lontar ditampung pada sebuah haik berukuran besar yang digantung di dekat mimbar di meja utama tempat pendeta dan majelis jemaat duduk. Isi haik besar itu kira-kira lima liter nira segar. Menurut Pak Pendeta, isi haik yang lima liter itu ternyata habis dan tiga kali diisi. Peserta perjamuan yang berjumlah 80-an orang tidak hanya sekali minum.

Dalam perjamuan itu tidak dipakai roti melainkan daun kelor (marungga) rebus. Jumlahnya juga lumayan banyak untuk disantap semua anggota keluarga bersama sambal. Bisa dibayangkan betapa nikmatnya momen makan dan minum bersama di perayaan sakramen perjamuan kudus itu. Model perayaan itu sudah disosialisasikan sejak bulan Mei 2016. Seorang penatua memberikan penjelasan kepada warga jemaat berikut: “Kita tahu bahwa roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus merupakan lambang (simbol) yang menunjuk kepada Tubuh dan Darah Kristus. Roti adalah simbol dari Eropa. Bagi kita simbol-simbol itu bisa diganti dengan makanan yang kita miliki, tetapi satu hal tetap tidak tergantikan yakni iman kepada Yesus sebagai Tuhan. Kalau ada warga jemaat yang belum menerima pergantian simbol itu, kami tidak memaksa untuk hadir dalam Perjamuan Kudus.”

Ternyata sejumlah besar warga jemaat hadir. Foto-foto yang ditunjukkan membuktikan hal itu. 15 liter nira diminum sampai habis. Sayur rebusan marungga beserta sambalnya juga ludes. Usai perayaan, sepulang ke rumah mereka berkata kepada rekan yang tidak hadir: “Kalian rugi… dengan suasana persaudaraan dan sukacita yang terasa dalam ibadah tadi.” Saya mendengar cerita Pak pendeta sambil melihat foto-foto dengan penuh pesona dan sukacita. Inilah model perayaan yang berakar pada pengalaman sehari-hari orang Rote.

“Luar biasa…” begitu komentar saya kepada Bapak pendeta. “Tahun depan… kalau mau diadakan lagi perjamuan serupa saya mau hadir untuk mengalaminya.” Seorang rekan yang ikut mendengarkan cerita tadi berkata: “Pak pendeta… bolehkah orang merayakan Sakramen Perjamuan Kudus dengan mengganti elemen roti dan anggur dengan tuak atau nira segar?” Spontan saya katakan: “Kenapa tidak? Roti dan anggur itu khan makanan pokok orang Palestina dan Eropa. Kita bukan orang Palestina atau Eropa. Kita boleh memakai makanan pokok kita untuk melambangkan tubuh dan darah Kristus. Apa salahnya?”

“Iya pak… tetapi masa mereka boleh makan dan minum dua sampai tiga kali. Itu khan jadi kaco?” Dengan santai saya menjawab: “Kaco gimana…? Perjamuan Kudus yang kita rayakan itu khan berakar dari pesta paskah orang Yahudi. Pesta Paskah Itu khan makan malam anggota keluarga. Masa makan malamnya hanya roti seukuran satu sentimeter. Pastilah rotinya besar, malah ada yang makan dua atau tiga potong roti. Minumannya juga ditambah dua tiga kali. Namanya juga makan malam. Selain itu pesta makan malam itu yang sekarang kita buat dalam liturgi. Waktu diliturgikan kita bikin rotinya jadi kecil sekali dan anggurnya hanya seteguk. Itu untuk menjaga ketertiban liturgi. Tetapi kalau ada model liturgi kreatif, di mana suasana keakraban dan persaudaraan terjadi serta ketertiban dijaga… apanya yang salah kalau pengalaman sukacita di sekitar Kristus dengan makan dan minuman diperpanjang?”

Mendengar jawaban saya, rekan yang bertanya itu diam. Saya tidak tahu apakah dia setuju atau keberatan dengan petualangan teologis-kontekstual tadi serta jawaban yang saya berikan. Untuk membuat gejolak hati pembaca yang pasti juga bergelora berikut ini pendalamannya. Dalam upaya mengerjakan teologi kontekstual, Robert Schreiter menganjurkan dua terapi penting. Pertama: membuka tradisi gereja. Itu berguna untuk meningkatkan kewaspadaan gereja lokal akan pemahaman yang  dangkal terhadap tradisi. Tidak jarang para misionaris memiliki agenda menjadikan gereja-gereja muda sebagai duplikat gereja asal mereka. Pola-pola dominasi dan penaklukan gereja muda pada agenda monokultur dari negeri asal para misionaris dianggap sebagai hukum yang tidak dapat diubah. Tradisi gereja dimanfaatkan untuk melegitimasi agenda tadi.[2] Pemakaian roti dan anggur dalam perayaan Sakramen Perjamuan Kudus merupakan salah satu agenda dominasi dan penaklukan itu. Kalau tradisi gereja dibuka dengan teliti menjadi jelas bahwa roti dan anggur merupakan bagian dari pendangkalan terhadap perayaan Perjamuan Paskah. Bagaimana itu mungkin? Begini ceritanya.

Sakramen Perjamuan yang diperintahkan dan dicontohkan Yesus, berakar pada Perjamuan Paskah Israel untuk memperingati keluaran dari Mesir. Ciri terpenting dari ritus ini adalah makan malam bersama dalam keluarga. Adalah tidak mungkin hidangannya irit, terbatas jumlah yang disajikan. Dalam Keluaran 12:10 ada kesan bahwa menu makan malam itu melimpah, para peserta makan beberapa kali… bahkan harus menghabiskan daging anak domba yang dipanggang. Kalau toh masih ada daging yang tinggal sampai pagi, daging itu haruslah dibakar habis dengan api. Kita bisa simpulkan bahwa sepotong roti dan seteguk anggur yang menjadi kebiasaan dalm sakramen Perjamuan Kudus saat ini adalah upaya meliturgikan pesta Paskah. Dalam perayaan aslinya, yang juga dilakukan Yesus orang boleh makan dan minum dalam jumlah banyak.

Coba baca Lukas 22:17-20. Di ayat 17 tertulis: “And He took a cup, and when he had given thanks he said: take this, and divide it among yourselves.” Ini terjadi setelah ayat 14 yang mengatakan bahwa Yesus duduk makan bersama murid-muridNya. Kata makan dalam ayat ke-14 adalah makanan pembuka yang terdiri dari sayur pahit, sayur hijau dan semacam kuah. Makanan pembuka ini ditutup dengan cawan pertama dalam perayaan Paskah Israel yang Lukas sebutkan dalam ayat 17. Dalam ayat 20 Lukas menyebutkan sebuah cawan lagi. Kali ini disebut sesudah mereka makan. Yang disebut makan dalam ayat 20 adalah makanan inti dalam perayaan Paskah Israel yakni daging anak domba Paskah yang dipanggang lalu disajikan di meja bersama roti tidak beragi, sayur pahit, kuah buah-buahan dan air anggur. Jadi ada dua buah cawan yang beredar dalam perjamuan malam terakhir yang Yesus adakan dengan murid-muridNya.[3]

Di perayaan Perjamuan Kudus yang dilakukan jemaat GMIT di Rote roti diganti dengan rebusan daun kelor. Pertanyaan yang muncul: Apakah itu tidak merusak makna sakramen itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu kembali berkonsultasi kepada Robert Schreiter. Terapi kedua yang patut dikerjakan dalam berkontekstualisasi teologi kata Schreiter adalah membuka budaya. Tujuan tugas ini adalah untuk dapat melihat seterang-terangnya konfigurasi nilai-nilai utama, makna, kebutuhan, minat satu budaya. Membuka budaya dimaksud untuk menangkap makna satu budaya secara holistik dan dengan keseluruhan kompleksitasnya sehingga orang bisa sampai pada keputusan apakah Kristus perlu dibawa masuk ke dalam budaya ataukah menemukan Kristus yang sudah aktif dalam budaya itu?[4] Romantisme budaya merupakan bahaya yang selalu ada, yakni kekaguman overdosis terhadap keindahan dan keutamaan nilai-nilai dalam kebudayaan sehingga hilang kepekaan terhadap adanya dosa dalamnya. Dalam tugas berteologi, kombinasi antara romantisme budaya dan pemahaman secara dangkal terhadap tradisi gereja dapat mengakibatkan hilangnya kewaspadaan terhadap masuknya agenda lain yang berseberangan dengan core value gereja.

Makanan utama penduduk Asia termasuk Indonesia, begitu kata Masao Takenaka adalah nasi.[5] Penduduk di Pulau Rote sebelum mengenal nasi makan mereka adalah daun pepaya dimakan bersama-sama dengan gula yang dibuat dari nira segar (tuak).[6] Dalam Perjamuan Paskah Israel makanan yang dijadikan santapan utama bukan roti tetapi daging anak domba. Jadi seharusnya yang dibagi-bagikan Yesus kepada para murid dalam perayaan Paskah adalah daging anak domba. Tetapi Yesus justru membagi-bagikan roti. Setelah melakukan penelitian mendalam tentang soal ini H. Ridderbos dan H. Baarlink mengajukan pertanyaan: “Apakah sebabnya Yesus tidak mengambil daging anak domba paskah itu, melainkan yang diambil-Nya adalah roti dan anggur?”[7]

Jawaban mereka menarik. Pertama, Perjamuan Kudus sama seperti Perjamuan Paskah bukanlah korban melainkan perjamuan korban, yakni perjamuan yang didasarkan pada korban yang telah dipersembahkan.[8] Kedua, Perjamuan Kudus adalah perbuatan peringatan sekaligus perbuatan pengharapan. Itu sebabnya ia terus dirayakan. Dalam pengulangan itu pikiran kita tidak lagi boleh terikat hanya pada roti dan anggur saja, tetapi lebih dari itu yakni kepada Tubuh dan Darah Kristus yang diperlambangkan oleh roti dan anggur. H. Ridderbos dan Baarlink menulis begini:[9]

Pada kata yang pertama dalam kalimat, yakni kata “ini” (= roti ini), seolah-olah pikiran orang harus berkisar pada roti saja, sedang sesudah ucapan kata “tubuhKu” pikiran sama sekali tidak boleh ada pada roti lagi…. Dalam masa yang lebih baru keterangan ini, juga oleh para teolog Lutheran, dinyatakan tidak dapat dipertahankan lagi. Oleh Gollwitzer dikatakan bahwa dalam rangka perjamuan malam yang terakhir para murid-murid itu tidak timbul pertanyaan tentang zat daripada apa yang diberikan Yesus kepada mereka, karena pada mereka sekali-kali tidak ada pikiran bahwa yang diterima itu lain daripada roti.”

Jadi, yang penting dalam Perjamuan Kudus bukanlah roti dan anggur pada dirinya sendiri, melainkan pada fungsinya sebagai yang menunjuk kepada Tubuh dan Darah Kristus yang sudah dikorbankan. Makanan dalam bentuk apapun (roti, tumpeng, ketupat, daun kelor, anggur, sirup, air putih, tuak manis) bisa dan boleh dipakai sejauh dipahami sebagai yang menunjuk pada penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita. Hal senada juga ditegaskan oleh H. Ridderboos dan H. Baarlink. Mereka katakan begini: “Apa yang direpresentasikan di dalam Perjamuan Kudus, itu bukan persembahan itu sendiri, melainkan dayanya, keampunan dan perdamaian. Atau dengan kata lain, yang diaktuilkan dan direpresentasikan, ialah bukan peristiwa yang menciptakan keselamatan (kematian korban) melainkan perbuatan yang membagi-bagikan dan memastikan keselamatan itu.”[10]

Mengenai formasi duduk berkelompok mengelilingi meja berdasarkan kesatuan marga atau keluarga hal itu tidak lebih dari metode. Tidak ada ketentuan baku mengenai komposisi duduk. Posisi para undangan dalam pesta-pesta orang Yahudi adalah tidur di lantai. Ini juga formasi duduk para murid bersama Yesus saat merayakan Perjamuan Paskah.[11] Penggunaan meja di mana semua peserta duduk berkeliling dengan tuan pesta di kepala meja adalah kebiasaan Eropa di abad pertengahan. Meja Perjamuan Kudus berbentuk salib menunjukkan petualangan imajinatif kristen yang diterapkan dalam tradisi makan bersama. Belakangan ini peserta pesta makan dan minum dalam keadaan berdiri dalam kelompok sambil berbagai cerita. Tradisi makan di pesta-pesta di daerah pedalaman di Timor agak lain. Pelayan-pelayan mengisi piring dengan makanan lalu membagi-bagikan kepada para tamu yang sudah dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk yang sudah disiapkan. Minuman pun dibawa kepada tamu oleh pelayan-pelayan. Kepelbagaian formasi seperti tadi bukanlah esensi dari sakramen Perjamuan Kudus.

Gereja-Gereja memiliki kebebasan untuk memilih formasi mana yang nyaman. Gereja sebagai sakramen Kerajaan Allah dalam arti menjadikan visi akan masa depan (yang telah disingkapkan secara definitif meskipun belum menyeluruh pada peristiwa salib dan kebangkitan) sebagai sumber energi kehidupan masa kini haruslah menjadi paguyuban iman yang menikmati kebhinekaan seluas-luasnya tetapi tetap menjadi keesaan yang berintikan pada komitmen bersama kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Kalau inti ini hilang maka kebhinekaan itu berubah menjadi kekacauan. Sebaliknya mengabaikan kebhinekaan demi menjadi inti bersama hanya akan membuat Gereja terperangkap dalam kolonialisme budaya tertentu berkedok Injil. Menuntut jemaat-jemaat untuk tunduk sepenuhnya pada pengaturan para klerus di tingkat klasis dan sinode bukan hanya mengekang kebebasan liturgi jemaat-jemaat tetapi juga merampok tugas berteologi yang juga menjadi panggilan dari jemaat-jemaat sebagaimana ditegaskan para refomator abad ke-16 dalam semboyan imamat am orang percaya. Peter Ward menganjurkan sikap bergereja yang dia sebut gereja cair (liquid Church) sebagai alternatif bagi gereja padat (solid church).[12] Dalam liquid church kebenaran merupakan pencarian bersama, bukan yang diturunkan dari pemegang posisi kepemimpinan gerejawi.[13]

 

[1] Retno Dwi Hastuti. (2017). Disertasi. Salatiga: Satya Wacana Universty Press.

[2] Robert Schreiter. Racang Bangun Teologi Lokal. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 53-4.

[3] H. Ridderboos dan H. Baarlink. Pemberitaan Yesus Menurut Injil-Injil Sinoptik. (Jakarta: BPK Gunung Mulia 1975), 184.

[4] Robert Schreiter. Racang Bangun Teologi Lokal…, 47-8.

[5] Masao Takenaka. (1993). Nasi dan Allah. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). 19.

[6] Ebenhaizer I Nuban Timo (2014). Rote Punya Cerita. Salatiga: Satya Wacana University Press.

[7] H. Ridderboos dan H. Baarlink. Pemberitaan Yesus Menurut …. 185.

[8] H. Ridderboos dan H. Baarlink. Pemberitaan Yesus Menurut …. 186.

[9] H. Ridderboos dan H. Baarlink. Pemberitaan Yesus Menurut …. 188.

[10] H. Ridderboos dan H. Baarlink. Pemberitaan Yesus Menurut …. 190.

[11] Albert Nolan. (2005). Yesus Bukan Orang Kristen. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 76.

[12] Peter Ward, Liquid Church. (Eugene: Wipf and Stock, 2013).

[13] Joas Adiprasetya. “Gereja Padat dan Gereja Cair.” Johannes Setiawan. Dalam Satu Roh Berbagai Karunia Merawat Keutuhan. (Cianjur: STT Cipanas, 2016), 81.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *