Wakil Gubernur NTT Puji Lagu Mars GMIT. Siapa Dibalik Lagu itu?

Wakil Gubernur NTT, Yosef Nae Soi

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Kendati telah berusia 15 tahun sejak ditetapkan, tidak banyak warga GMIT yang familiar dengan lagu Mars GMIT. Bahkan judulnya saja belum tentu diketahui. Hal ini tidak heran, karena memang lagu ini hanya dinyanyikan dalam acara seremonial gerejawi.  

Namun, tiga hari lalu, tepatnya Rabu, 27 Februari 2019, sebuah pernyataan mengejutkan keluar dari mulut Wakil Gubernur NTT, Yosef Nae Soi tentang lagu ini. Yosef bukan warga GMIT. Ia beragama Katolik. Akan tetapi tatkala mendengar kumandang lagu itu, ia langsung terkesima dan menyebutnya sebagai lagu yang luar biasa.

“Saya sangat tertarik dengan mars ini. Ini mars luar biasa,” puji Yosef.

Lantas, ia minta diajarkan.

“Sesekali saya minta adik saya Ibu Frouke ajar saya lagu ini,” pintanya kepada Frouke Rebo-Bubu, salah satu pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) GMIT.

Orang nomor dua di NTT ini lalu membacakan baris terakhir lagu ini di hadapan lima ratusan peserta Konsultasi Gereja, Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT yang 80% berprofesi sebagai guru.

“Berjuang tak jemu. Untuk semua manusia. Kini dan sepanjang masa,” ucap Yosep perlahan seperti merenung kata-kata lagu itu. Usai membaca, ia melanjutkan, “Luar biasa, Bapak-Ibu,” puji Yosef sekali lagi, sambil melanjutkan sambutannya menutup kegiatan Konsultasi Gereja, Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT yang diselenggarakan Badan Pendidikan Sinode GMIT di Aula Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi NTT.

Bisa jadi bukanlah sebuah kebetulan seorang Wakil Gubenur NTT begitu terkesan pada salah satu lagu “kebangsaan” GMIT, tepat pada sebuah momentum bersejarah dimana GMIT baru saja ‘bangkit’ dari mati suri di bidang pendidikan setelah 50 tahun, GMIT abai mengurus lebih dari 500 sekolahnya.

Tak ada yang menyangka, ketertarikan Yosef Nae Soi pada lirik lagu yang ia sampaikan di hadapan ratusan guru sekolah GMIT itu justru sang pencipta lagu itu sendiri adalah seorang guru. Ia bernama Frans R. Lapenangga.

Frans, lahir 73 tahun lalu di Alor. Ia mengaku lulusan SMOA (Sekolah Menengah Olahraga). Saya mencoba mencari tahu singkatan ini di mesin pencari Google namun tidak menemukannya. Bisa jadi karena Frans dan SMOA lahir terlebih dulu dari Google.

Frans pernah menjadi kepala sekolah SMA di Sabu dan terakhir ia menjabat wakil kepala sekolah SMA Negeri 4 Kupang.

Bagaimana kisahnya sehingga lagu ini terpilih menjadi Mars GMIT?

Bapak empat anak ini berkisah, tahun 2004, ia mendengar pengumuman bahwa Majelis Sinode GMIT menggelar sayembara cipta lagu Himne dan Mars GMIT. Berbekal bakat seni dari profesinya sebagai guru olahraga dan kesenian, ia lantas mendaftar sebagai peserta.

Terkait bagaimana menyusun karya ciptanya, Frans mengaku beruntung karena menguasai peraturan-peraturan sinode dalam buku “Tata GMIT” sehingga tidak terlalu sulit membuat liriknya.

“Saya kuasai Tata GMIT, jadi itu memudahkan saya menulis syairnya,” ungkap mantan wakil kepala sekolah SMA Negeri 4 Kupang ini.

Pdt. Johny Riwu Tadu, selaku Ketua Komisi Musik Gereja MS GMIT tahun 2005 mengatakan waktu itu terdapat sekitar 20 lagu yang diseleksi oleh panitia untuk dipilih sebagai Mars maupun Hymne GMIT. Dan, lagu Mars ciptaan Frans masuk dalam nominasi sebagai yang paling memenuhi kriteria panitia.

Namun bukan tanpa koreksi. Frans mengaku lirik awal yang ia tulis berbunyi  “Di Bumi Nusa Tenggara Timur” bukan “Di Bumi Indonesia“. Karena pikirnya, GMIT hanya ada di NTT. Sedangkan faktanya, wilayah pelayanan GMIT ada juga di tempat lain seperti di Sumbawa, Batam dan Surabaya. Lalu, atas saran panitia, kalimat pertama lagu itu kemudian diubah “Di Bumi Indonesia”.

Selanjutnya menurut Pdt. Johny, panitia meminta Paul Widyawan seorang ahli musik gereja dari Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta milik Gereja Katolik, membuat arrensemen empat suara pada lagu itu seperti yang dikenal sekarang.

Akhirnya tahun 2007, pada Sidang Sinode GMIT di Alor, Frans terpilih sebagai pemenang lomba dan lagunya ini ditetapkan sebagai Mars GMIT. Keuletan warga Jemaat GMIT Rehobot Bakunase ini membuktikan bahwa dokumen gereja jika dipelajari dan dihayati dengan sungguh maka bisa menjadi sarana berteologi termasuk mengejawantahkannya secara kreatif dalam bidang seni.

Meski telah pensiun dari tugasnya sebagai guru, Frans belum pensiun apalagi bosan melaksanakan tugasnya sebagai saksi Kristus. Ia terus membaktikan diri pada GMIT diusianya yang senja sebagai Ketua Paduan Suara di Jemaat GMIT Rehobot Bakunase-Kupang. Persis seperti yang ia tulis dalam refrain karya ciptanya:

“Majulah, jayalah, dalam karya baktimu…

Berjuang tak jemu dalam pelayananmu.

Untuk semua manusia, kini dan sepanjang masa.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.