Yesaya 50:4-11 – Pemimpin : Pdt. Jhonny Riwu Tadu

Pengantar : Yesaya 50:4-11 merupakan bagain dari kitab nabi Yesaya yang biasa disebut dengan istilah Deutero-Yesaya. Inilah kitab yang ditulis oleh murid Yesaya di pembuangan dengan memakai nama serta pengaruh Yesaya sebagai legitimisasi dan otoritas berita yang disampaikannya. Deutero-Yesaya memberitakan tentang kedatangan seorang hamba TUHAN (ebed-YHWH).

Dalam kitab Yesaya berisi banyak nubuat tentang “Hamba Tuhan”, dimulai dengan pasal 42:1-9, dan kemudian pada pasal 49-55.

Nas ini termasuk dalam kumpulan “Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan”, yang juga terdapat di pasal 42:1-6; 49:1-6; dan 52:13-53:12.

Dalam bagian ini memang tidak digunakan istilah ‘Hamba Tuhan”, namun istilah ‘murid’. Di sini kita akan memperhatikan isi syairnya untuk mempelajari bagaimana ‘profil’ seorang murid Tuhan yang dipaparkan.

–  Ayat 4-5a : Bagaimana kehidupan seorang murid dalam hal persekutuannya dengan Tuhan.

–  Ayat 5-6 : Bagaimana penghayatan dan sikap seorang murid dalam menghadapi penderitaan.

–  Ayat 7a, 8a, 9a : Bagaimana keyakinan seorang murid terhadap Tuhannya.

–  Ayat 7b, 8b, 9b : Bagaimana keyakinan itu berdampak khusus dalam diri murid itu sendiri: baik dalam kaitannya langsung dengan Tuhan, maupun dengan sesama.

– Ayat 10-11: Bagaimana jaminan Tuhan, meskipun dalam kegelapan dan tidak tidak ada cahaya bersinar, bahkan ketika diserang oleh panah api musuh.

Penjelasan

Ayat 4-6: Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah atas penderitaan mereka di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang gagal.

Kontras sekali dengan hamba yang dinyanyikan dalam nas ini. Di sini, hamba Allah rela menjadi murid yang taat kepada Allah. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru pada-Nya. Telinganya disendengkan untuk mendengar segala pengajaran-Nya (ay. 5).

Demi melaksanakan panggilan-Nya, Ia menundukkan diri menjadi murid Tuhan. “Lidah” dapat berarti “bahasa”, atau dapat pula berarti “kemampuan berbicara” (ay. 4). Dikaruniai “lidah seorang murid” berarti “diajar untuk mengatakan apa yang didengar dari Tuhan”. Dengan demikian dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Namun lebih dari itu, maknanya ternyata lebih dalam lagi. Kata-kata Sang Hamba juga harus menegaskan dan menggarisbawahi kata-kata Tuhan yang mengampuni dan menyelamatkan. Itu yang Tuhan harapkan dari Hamba-Nya. Sebab itu, setiap pagi Tuhan membukakan dan menajamkan pendengaran-Nya. Segenap kehidupan Sang Hamba harus diserahkan untuk meneruskan firman Tuhan yang Ia dengar. Berserah berarti juga tetap taat dan setia meski orang lain menolak pemberitaan-Nya (ay. 6).

Ayat 7-9: Dalam menanggung derita dan aniaya ‘Hamba Allah’ itu tidak merasa takut apalagi malu sebab Ia tahu bahwa Ia menyatakan kebenaran Allah. Dan sangat yakin bahwa Allah ada di pihaknya dan akan membela serta membuktikan kebenaran-Nya (ay. 7-9).Jangan biarkan “lidah” kita menjadi “lidah yang tak bertulang”, yang tidak bisa kita kontrol. Sebaliknya berusahalah dengan segenap daya menjadikan lidah kita sebagai “lidah seorang murid”. Artinya lidah seorang yang sudah diajar, yaitu yang dikendalikan sehingga bermanfaat. Banyak pelayan Tuhan yang kegunaannya menjadi sangat berkurang karena lidah yang tidak dikekang. Entah karena kata-kata yang sembarangan atau kuasa rohani yang bocor melalui percakapan yang sembrono (Pkh. 5:2). Mungkin juga karena kata-kata digunakan bukan untuk memberitakan kebenaran melainkan untuk menyenangkan pendengaran orang lain. Maka yang ada hanyalah penyesatan, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Mat. 12:36-37). Salah satu ukuran kedewasaan atau kematangan rohani seseorang adalah apa yang dikeluarkan dari mulutnya. Murid Tuhan yang dewasa pastilah berkata-kata sekualitas kata-kata Tuhannya.

Ayat 10-11 : Sang Hamba yang menghormati TUHAN dan mendengarkan perkataan-Nya, walaupun jalan yang ditempuh mungkin gelap dan tak ada cahaya yang bersinar, akan tetapi TUHAN akan menopang dan menjaganya. Allah akan memberikan kelepasan kepada orang-orang beriman yang bersandar pada-Nya, tetapi penghukuman berat kepada orang-orang yang memberontak terhadap kedaulatan-Nya. Perhatikan bahwa Sang Hamba akan berbicara dengan otoritas yang harus ditaati, dan bahwa keselamatan bagi orang-orang berdosa hanya diperoleh melalui iman, dengan percaya pada anugerah Allah. Orang-orang yang melepaskan panah-panah api ke kemah Tuhan akan binasa oleh api yang mereka rencanakan untuk menimpa orang lain itu.

Di sini tampil satu pribadi hamba Tuhan yang sangat menarik, sebab walaupun hidupnya sederhana bahkan menderita, namun juga kuat, tabah, taat, rela berkorban dan memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Tuhan! Mengenai dia, dalam Alkitab diberi judul Ketaatan hamba Tuhan.Coba kita tinjau sepintas keistimewaannya: Dia merasa sudah diberi oleh Tuhan lidah seorang murid supaya dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Sebagaimana Tuhan yang menjadi gurunya, maka hamba itu dengan perkataannya telah menghibur sesamanya, memberi dorongan serta pengharapan kepada yang berputus asa. Setiap hari ia juga terlatih untuk mendengar dengan penuh pemahaman, sampai hanya melaksanakan kehendak guru dan Tuhannya tanpa memberontak. Kesediaannya melayani orang lain sedemikian besar sampai ia rela dipukuli punggungnya, disakiti pipinya dan diludahi wajahnya. Saudara, sampai di sini kita lalu ingat kepada Yesus Kristus. Bukankah nasib hamba Tuhan tadi begitu miripnya dengan Yesus Kristus? Kalau begitu pribadi dalam Yesaya 50 ini adalah nubuat dan menggambarkan Kristus, sebab Kristus juga melakukan tiga langkah yang penting dalam hidup-Nya: Pertama, dengan lidah-Nya menyampaikan firman Tuhan dan berbagai pelajaran, kotbah, teguran, penghiburan serta memberi dorongan kepada yang letih lesu dan berputus asa. Kedua, dengan telingaNya yang tajam dan terlatih selalu siap mendengar keluhan, permohonan, penuh pemahaman serta kepedulian kepada semua lapisan masyarakat. Ketiga, dalam sikap taat kepada Bapa, dengan konsistensi yang tinggi, rela mengorbankan jiwa raga serta kemuliaan-Nya demi kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa. Pelayanan Yesus Kristus di sepanjang hidup-Nya ditandai dengan tiga hal tadi, begitu jelas, begitu konkrit, dan semakin memuncak! Inilah yang kita rayakan melalui masa Prapaskah sekarang ini.

Menjadi hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total untuk diperbarui senantiasa oleh Allah, dan bersedia menghadapi tantangan. Kesediaan memberi diri total dan sedia menghadapi tantangan adalah kunci keabsahan pelayanan seorang hamba sebagai “mulut” Allah. Hamba Allah tidak berhak menyuarakan suara lain, selain suara Allah sendiri. Bila tidak, ia bukan lagi hamba Allah sejati, tetapi hamba palsu.

Hamba Allah yang sejati taat kepada firman dan yang tabah menanggung derita itu memiliki wewenang illahi. Dia kini memanggil orang yang merindukan kebebasan dan mendambakan kehidupan yang berbahagia.

Relevansi : Kita sudah melihat bagaimana profil hamba Tuhan yang digambarkan dalam Kitab Yesaya, khususnya Yesaya 50:4-11, dan juga telah melihat penggenapan nubuat nabi Yesaya yang dipenuhi dalam diri Yesus Kristus, Hamba Tuhan yang sejati itu. Lalu bagaimana profil kehamba-Tuhanan kita sekarang bagi setiap pengikut Kristus?

  1. Sekarang sulit membedakan hamba dalam arti hamba Tuhan dan yang bukan. Maka masing-masing orang hendaknya berefleksi apakah benar saya hamba Tuhan atau bukan? Supaya jangan sampai kepada kita dikenakan penilaian orang ‘jangan lihat dia punya perbuatan dan cukup dengar dia punya perkataan saja.’
  2. Dari pasal 42 kita menemukan banyak uraian tentang hamba Tuhah yang diutus untuk pemulihan Israel. Gambaran bangsa Israel tentang Mesias yang gagah perkasa dan penuh kemenangan digantikan dengan hamba Tuhan yang menderita. Berbeda dengan harapan Sion yang gagah perkasa danmemberikan kemenangan, hamba di sini adalah hamba yang merendahkan diri. Ini bukan Kristologi dari atas tapi dari bawah artinya Allah yang merendahkan diri. Namun jalan masuk terhadap keselamatan melalui kehambaan tidak berarti bahwa hamba tidak berdaya. Sebagai seorang murid, hamba Tuhan diberi lidah untuk memberikan semangat baru. Artinya ia tahu bahwa ia harus terus mendengar dan belajar. Spritualitas ditunjukan dengan kesediaan hati untuk terus menjadi murid kehidupan dan belajar dari bahan tertulis, pergaulan, dan semesta. Seorang hamba Tuhan mesti membuka diri untuk terus menerus belajar. Untuk itu kita mesti belajar dari hamba Tuhan ini yang dipanggil untuk terus menerus membuka diri dan bersedia untuk terus belajar.
  3. Ia mempertajam telinga untuk mendengar yakni kesediaan utnuk mendengar orang lain. Bersedia belajar dari berbagai sumber adalah spirituslias dan kemampuan untuk berempati. Untuk mendengar kadang kita merasa capek karena larut dalam pergumulan orang tapi tetap kita harus mendengar. Kalaujemaat saat ia letih dengan pergumulan maka ia dapat berbicara dengan pendeta tapi banyak hamba Tuhan yang letih dengan berbagai pergumulan pelayanan namun siapa yang menjadi gembala bagi dia? Maka semua kita perlu menyiapkan diri untuk mendengar dan menyimpan cerita itu dalam hati. Agar tidak bocor rahasia pelayanan. Ruang-ruang kita mesti menjadi ruang hamba Tuhan untuk mendengar dan menyimpan dalam hati seperti Maria.
  4. Ayat 6 sepertinya memberi gambaran bahwa hamba Tuhan ini adalah laki-laki ia memberi pipi kepada orang yang mencabut janggutnya. Dan ia juga tidak menyembunyikan muka ketika dinodai dan diludahi. Artinya kita harus siap untuk dikoreksi. Kita mesti memberi yang terbaik tapi sebagai manyusia kita juga bisa membuat kesalahan. Sayangnya kadang kita mudah tersinggung. Orang omong sedikit tentang kita tapi kita langsung jaga harga diri. Padahal kita mesti bersedia untuk direndahkan dan harus malu untuk hal itu. Namun penting sekali untuk hamba Tuhan menjaga integritas. Kalau berjalan pada jalan yang benar maka tidak usah kuatir.
  5. Konteks Yesaya 50:1-4 adalah gambaran tentang relasi persekutuan Israel dan Allah yang digambarkan sebagai persekutuan pernikahan yang landasannya adalah kesetiaan tapi ketika kesetiaan Israel pudar maka konsekwensinya adalah pembuangan dan mengalami proses penderitaan yang luar biasa. Di tengah konteks penderitaan nyanyian hamba Tuhan diperdengarkan. Jadi Allah menyiapkan sang hamba untuk tugas mesianik yakni karya pembebasan di tengah belenggu penderitaan umat. Dan karya pembebasan dilaksanakan dalam spirit kehambaan. Mestinya seorang hamba paling tidak memenuhi sejumlah kualifikasi yakni ia orang selalu duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru kepadaNya. Proses belajar terus menerus dari Allah. Dia juga profil seorang hamba yang telinganya mendengar akan perkataan Allah. Lalu lidah yang putus-putusnya memperkatakan firman Allah. Untuk menguatkan hati yang lemah. Dampak yang bisa didapatkan adalah seorang hamba harus ada pada zona ketidaknyamanan, siap untuk ditolak, siap untuk dihina. Ada saatnya ia ada pada posisi disanjung, dihormati tapi pada saat tertentu ia akan mengalami dilecehkan dihina dan sebagainya. Itu dampak yang harus diterima. Melekat status kehambaan seperti Yesus disanjung dengan teriakan ‘hosana bagi Dia yang datang dalam nama Tuhan tapi sekaligus Ia direndahkan dengan teriakan ‘salibkan Dia salibkan Dia. Akan tetapi hal menarik adalah aspek jaminan akan panggilan kehambaan. Ayat 7-9 berbicara tentang jaminan bahwa Allah dipihaknya, Allah membela dan membenarkan dia. Seorang hamba mesti membangun keyakinan akan pemeliharaan dari Allah bahwa Allah yangmengutus kita adalah Allah yang memelihara dan akan membela kita. Dengan demikian keberhasilan tugas kehambaaan bukan pada keberhasilan melayani tapi mendengar dan melakukan tugas dalam spirit etos kehambaan.
  6. Dalam panggilan untuk mendengar, kelemahan kita adalah kita suka mendengar cerita yang menurut kita enak dan masuk di logika. Padahal kita mesti belajar bahwa seorang hamba tidak saja mendengar apa yang suka didengar tapi juga mendengar secara utuh seperti persoalan gereja. Hamba yang suka mendengar secara terpisah dapat menyebabkan hubungan rusak sebab kita dapat membuat penilaian yang salah.

Penutup : Sebuah Puisi Teguran

Kau sebut Aku Tuhan, tapi tidak menurut perintahK.Kau sebut Aku Terang, tapi tidak mendekati Aku.Kau sebut Aku Jalan, tapi tidak melewati Aku.Kau sebut Aku hidup, tapi tidak menginginkan Aku.Kau sebut Aku bijaksana, tapi tidak meneladan Aku.Kau sebut Aku berterus terang, tapi tidak mempercayai Aku.Kau sebut Aku kaya, tapi tidak minta kepadaKu.Kau sebut Aku kekal, tapi tidak mencari Aku.Kau sebut Aku lemah lembut, tapi tidak mengasihi Aku. Kau sebut Aku mulia, tapi tidak melayani Aku.Kau sebut Aku maha kuasa, tapi tidak menghormati Aku. Kau sebut Aku adil, tapi tidak takut kepadaKu.Jika Aku menghukum engkau, jangan salahkan Aku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *