Coffee Morning MSH – Bersama pendeta se-Klasis Kota Kupang dan Jemaat Zaitun Tenau

Salah satu rencana pelayanan yang direncanakan oleh MSH GMIT adalah melakukan coffee morning dengan dengan berbagai unsur pelayanan yang ada di wilayah pelayanan GMIT.

Sebagai langkah awal, Majelis Sinode Harian  GMIT mengundang para pendeta se-Klasis Kota Kupang, KMK Kupang Tengah dan Kupang Barat serta Majelis Jemaat Zaitun Tenau untuk melaksanakan pertemuan yang diberi nama Coffee Morning MSH.

Kegiatan dilaksanakan pada Senin, 10 Maret 2014. Dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Yandy Manobe sebagai liturgos dan khotbah oleh Pdt. Yuda Hawu Haba.

Acara dilanjutkan dengan kesempatan kepada Ketua Majelis Jemaat Zaitun Tenau, Pdt. Constansa A.M. Dano-Daulima, S.Th untuk menyampaikan pergumulan jemaat soal penyelesaian masalah status tanah jemaat.

Pdt. Daulima, memberikan penggambaran pergumulan yang dihadapi oleh Jemaat Zaitun Tenau sehubungan dengan kepemilikan tanah. Pergumulan telah dimulai sejak tahun 1997 sejak tanah diserahkan oleh keluarga NN. Pada perkembangan kemudian di antara keluarga NN terjadi gugat-menggugat soal kepemilikan tanah dan berakhir dengan kemenangan salah satu pewaris keluarga NN dan imbasnya adalah hak milik tanah tempat gereja berdiri beralih kepemilikan.

Persoalan terus digulirkan oleh ahli waris keluarga NN hingga mereka hendak menjual tanah tempat gedung kebaktian Jemaat Zaitun berdiri. Untuk itu gedung gereja mesti digusur. Akan tetapi menurut penjelasan dari Pdt. Daulima, Majelis Jemaat dan Jemaat Zaitun Tenau meminta Majelis Sinode GMIT untuk memfasilitasi penyelesaian masalah jemaat.

Dari hasil mediasi, Jemaat  Zaitun Tenau diharuskan untuk membayar harga tanah dengan nilai yang sangat tinggi. Berkat doa dan negosiasi yang panjang akhirnya tanah seluas 3851 m2 tersebut dibeli dengan harga Rp.450.000 per meter2. Total nilai jual beli adalah Rp.1,5 milyar.

Menurut informasi dari Bendahara MS GMIT, Pnt. Welem Nunuhitu, jumlah seluruh pembayaran tersebut telah dibayar secara tunai oleh Badan Diakonia Gereja dengan kesepakatan intern mengenai pembagian pembayaran, sebagian dibayar oleh APB BDG dan sebagian oleh kas Jemaat Zaitun Tenau.  Sementara pajak senilai Rp.75 juta ditanggung oleh APB Majelis Sinode.

Akan tetapi persoalan yang dihadapi oleh jemaat adalah mereka tidak sanggup membayar biaya sebesar itu. Itulah sebabnya Coffee Morning MSH diadakan untuk meminta sumbangan pikran dan bantuan dari jemaat-jemaat se-Klasis Kota Kupang, Kupang Barat dan Kupang Tengah untuk membantu.

Pertemuan ini menghasilkan komitmen dari pemimpin-pemimpin jemaat untuk membantu menanggung bersama biaya pembelian tanah yang harus dibayarkan oleh Jemaat Zaitun Tenau.  Kepada masing-masing jemaat akan diberikan tanggungan untuk membantu Jemaat Zaitun Tenau. Selain itu akan diselenggarakan beberapa malam dana untuk membantu pembiayaan.

Masalah yang terjadi di Jemaat Zaitun Tenau dinilai oleh beberapa pendeta peserta Coffee Morning harus menjadi bahan pembelajaran bagi GMIT untuk mengurus sertifikasi tanah-tanah milik gereja supaya tidak mengalami persoalan yang sama. Menurut Pdt. Laazar de Haan, “Kasus di Jemaat Zaitun Tenau jangan sampai jadi preseden buruk bagi jemaat supaya melakukan hal yang sama.”

Menanggapi uluran tangan dan kepedulian pemimpin-pemimpin jemaat yang ada, Ketua Majelis Jemaat Zaitun Tenau sambil berlinang air mata, menyatakan terima kasih dan syukurnya untuk bantuan yang telah diberikan oleh jemaat-jemaat.

Setelah dicapai kesepakatan bersama mengenai Jemaat Zaitun Tenau, agenda kedua adalah Konven para pendeta yang akan dilaksanakan pada bulan Mei. Jumlah pendeta yang ikut kalau semuanya maka ada 1072 orang. Dan persoalan yang akan muncul adalah di semua jemaat akan terjadi kekosongan pelayanan oleh pendeta. Oleh karena itu disepakati agar Konven dilakukan dua tahap. Tahap pertama di Maumere dan tahap kedua di Soe. Ini menolong supaya di jemaat-jemaat tetap ada pendeta yang melayani pelayanan.

Agenda ketiga, kesepakatan sumbangan bagi pembangunan aula Fakultas Teologi UKAW. Para almamater diharapkan bersama membantu biaya pembangunan tersebut. Bahkan para pendeta yang bukan almamater Fakultas Teologi UKAW juga terlihat mengulurkan tangan untuk membantu.

Agenda terakhir adalah pengumuman tentang kenaikan gaji pokok dan tunjangan para pendeta. Menurut informasi dari Bendahara MS, Pnt. Welem Nunuhitu, sesuai dengan Keputusan Sidang Majelis Sinode, kenaikan akan diperhitungkan berdasarkan masa pelayanan setiap pendeta. ••• Leny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *