Kata-Kata vs Pedang – Mazmur 34:12-23

Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu. (Mazmur 34:14)

 

Suatu hari datanglah seorang wanita menemui seorang bijak, “Guru, saya menyesal telah memakai lidah saya untuk berkata bohong. Semua orang sekarang tidak menyukai saya lagi. Saya ingin memperbaiki keadaan supaya mereka memaafkan saya dan merubah penilaian mereka atas saya. Apa yang harus saya lakukan?” kata wanita itu terlihat frustrasi.

Sang bijak berkata, “Hal pertama yang harus anda lakukan adalah pergi ke kamarku, ambil bantal di atas tempat tidurku. Bawa bantal itu ke atas gedung yang paling tinggi di kota dan naiklah ke atas tingkatnya yang tertinggi. Sampai di sana, buka bantal itu dan biarkan bulu-bulu ayam dan kapas yang ada di dalamnya ditiup angin.”

Si wanita mengikuti apa yang diperintahkan orang bijak. Setelah selesai, ia pulang menemui orang tua bijak dengan wajah cerah, “Saya sudah melakukan apa yang guru katakan. Sekarang, apakah mereka sudah memaafkanku dan nama baikku sudah dibersihkan?”

“Oh, tugasmu belum selesai. Supaya orang merubah penilaian mereka atasmu dan menerimamu kembali maka sekarang pergi lagi dan pungut semua bulu ayam dan kapas yang tadi telah ditiup angin,” Kata orang bijak.

Sahabat Kristus, sangat mudah mengeluarkan kata-kata tanpa berpikir efeknya. Kita seenaknya berkata-kata buruk tentang orang lain, padahal kata-kata itu hanyalah praduga kita semata. Kita menceritakannya pada seseorang, yang kita kira dapat kita percayai, sambil menyelibkan kalimat, “Jangan bilang sapa-sapa ee… beta hanya kasi tau lu saja.” Lalu kita pergi dan mengira semuanya aman. Padahal tidak. Kata-kata kita akan menyebar dengan cepat, lebih parah dari penyakit menular yang bisa mematikan orang lain. Saat kita sadar bahwa apa yang kita katakan itu salah dan kita menyesalinya, ternyata kita tidak bisa lagi menarik kembali kata-kata kita.

Seharusnya kita lebih menjaga lidah kita. Sebab penyesalan selalu datang terlambat. Tak perduli seberapa dalam penyesalan kita, tak perduli kita harus berlutut dan meminta maaf, namun kata-kata yang telah kita ucapkan akan menggema selamanya dan membuat orang yang tak bersalah menjadi rusak namanya dan dinilai tidak benar oleh orang banyak.

Kata-kata seperti pedang yang ditikam kepada orang lain. Tak perduli seberapa dalam penyesalan anda lalu anda menarik pedang itu, namun luka itu akan tetap ada. Luka karena kata-kata sama akibatnya dengan luka karena tikaman pedang. (LM)

 

Wise Words : Saat orang berbicara buruk tentang anda, berbuatlah baik sedemikian rupa sehingga tidak ada seorangpun yang akan mempercayai kata-kata itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *