KEMATIAN YESUS HAPUSKAN DISKRIMINASI MANUSIA – Kebaktian Jumat Agung GMIT Kota Kupang

KUPANG (18/4) —-Peristiwa kematian Yesus yang diperingati dalam ibadah Jumat Agung mengandung makna pendamaian Allah dan manusia, karena itu kitapun agar membangun kembali relasi-relasi yang rusak di antara manusia. Kematian Yesus juga telah menghapus segala bentuk diskriminasi dan menjadikan semua manusia sama dimata Tuhan, sebagai orang berdosa yang telah diselamatkan.

Demikianlah sari khotbah ibadah Jumat Agung di GMIT Jemaat Kota Kupang, gereja yang tahun ini berulang tahun ke 400, Jumat (18/4). Ibadah pada jam 06.00 wita dipimpin oleh Pendeta Diana Chandra-Messakh, STh dan jam 08.30 wita dipimpin Pendeta Ester Mariani Gah, STh, M.Si.

Mendasari khotbah keduanya dengan membaca kitab Markus 15:33-41, Pendeta Diana Chandra Messakh dan Pendeta Ester Mariani Gah mengatakan bahwa makna peristiwa kematian Yesus juga bias dipahami dari pesan-pesan simbolik saat disalibkan di bukit Golgota melalui  tanda-tanda alam yang menyertai detik-detik kematian Yesus.

Pertanda alam pertama saat Yesus menghembuskan nafas terakhirnya adalah kegelapan meliputi seluruh daerah dimana Yesus disalibkan. Dahsyatnya penderitaan membuat Yesus berteriak “Eloi-eloi lama sabakhtani?” Yang artinya Allahku-Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Teriakan ini memberi pesan kepada manusia, bahwa saat kita mengalami penderitaan yg luar biasa dalam hidup, berteriaklah dan meminta tolonglah hanya kepada Tuhan Allah. Jangan mencari pertolongan dari sumber-sumber diluar Tuhan Yesus.

Peristiwa alam kedua adalah tirai bait Allah terbelah menjadi dua. Dijelaskan, didalam  Bait Allah terdapat Ruang Suci dan Ruang Mahasuci ini. Di antara kedua ruang ini, digantung sebuah tirai/tabir yang berfungsi untuk memisahkan kedua ruang ini. Tirai pertama memisahkan ruangan kudus tempat  Imam Besar yg tidak bisa diakses umat. Tirai yang kedua memisahkan antara umat keturunan Yahudi dan bukan Yahudi.

Saat Yesus menghembuskan nafas terakhir, tirai bait Allah terbelah dua yang membuat batas antara kedua ruangan menjadi bisa terlihat atau tidak ada pembatas lagi ruang Imam Besar dan umat, dan antara ruang orang Yahudi dan bukan Yahudi. Kejadian in memiliki pesan simbolik telah berakhir atau runtuhnya  tembok-tembok pemisah yg dibangun oleh manusia dengan manusia.

Peristiwa kematian Yesus telah menghancurkan semua ego dalam diri manusia, menghancurkan tembok-tembok psikis  yang memisahkan relasi kita dengan sesama. Semua manusia dimata Tuhan adalah orang berdosa yg semuanya sudah diselamatkan tanpa dibeda-bedakan. “Kita harus bersyukur dan menghormati Tuhan Yesus yg sudah menyelamatkan manusia dan membebaskan manusia dari sekat-sekat dunia,” kata Pendeta Diana.

Kematian Yesus, lanjutnya, menggambarkan besarnya cinta Allah pada manusia, mewujudkannya dengan harga yg mahal, melalui pengorbanan nyawa Yesus. Karena itu, setiap kali merayakan Jumat Agung mengingatkan kita akan pengorbanan darah Yesus bagi keselamatan kita.   Manusia harus menjaga dan merawat keselamatan yang sudah diberikan.

Pengorbanan Yesus juga mendamaikan Allah dan manusia, seperti tema GMIT Kota Kupang mendamaikan hubungan dengan sesama, suami-istri, kakak-adik, kawan sekerja, orangtua-anak. “Jadilah anak-anak Tuhan yang baik, yg membawa perdamaian,” tandas Pendeta Diana.

Pendeta Ester Mariana Gah, mengingatkan tabir bait Allah yg terkoyak juga menjadi pesan agar gereja tidak boleh membeda-bedakan, mengkotak-kotakan atau mengelompokkan jemaat atau manusia ke dalam berbagai kategori apapun. “Gereja juga harus berani mempertaruhkan dirinya untuk menghadirkan kedamaian, damai sejahtera, menghadirkan persekutuan dengan menyalibkan egonya,” tandas Pendeta Ester.

Dalam kedua kebaktian ini, khotbah diawali dengan pementasan fragmen kisah Yesus yang dihina hingga disalibkan. Pementasan fragmen yang dramatis ini, membuat umat yg beribadah larut dalam kegetiran kisah Yesus hingga banyak yang meneteskan air mata.

Pada Jumat sore hingga malam, perayaan Jumat Agung ditandai dengan perayaan perjamuan kudus dalam tiga kali ibadah, yakni jam 15.00, 17.00 dan jam 19.00 wita. Setiap ibadah perjamuan kudus diikuti rata-rata 1.300 orang anggota sidi yang boleh mengikuti perjamuan.

Sedangkan perayaan Paskah, GMIT Kota Kupang akan mementaskan drama kolosal Paskah dalam ibadah subuh Paskah, Minggu (20/4) di halaman gereja jam 04.00. wita. Paul Bolla

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *