Ku Temukan Kristus Di Dalam Salibku (Bagian 2) – Markus 15:33-41

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34)

Pernah terjadi pada perang dunia kedua, tentara Jerman menangkap dan memenjarakan orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi. Setiap hari ada saja orang yang dibunuh. Orang-orang tua yang tak mampu bekerja dimasukkan ke dalam oven yang besar hingga hangus terbakar. Anak-anak kecil dimasukkan ke dalam ruangan tertutup lalu disemprotkan gas beracun. Setiap kesalahan yang dibuat oleh orang Yahudi akan berdampak kematian.

Suatu hari diumumkan bahwa ada tiga orang yang akan dihukum gantung di alun-alun. Tepat pada waktunya, semua orang diharuskan berkumpul dan menyaksikan peristiwa itu. Dua orang diantaranya adalah orang dewasa yang kedapatan hendak kabur dari kamp konsentrasi. Seorang yang lain adalah anak kecil, dengan wajah lembut seperti wajah malaikat. Setelah tali gantungan dililitkan pada ketiga orang itu, kursi tempat mereka berdiri dijatuhkan oleh tentara jerman dan seketika itu juga dua orang dewasa tersebut meninggal. Sementara anak kecil berwajah malaikat itu terus terayun di tiang gantungan antara hidup dan mati. Tubuhnya yang kecil dan ringan membuat ia menderita lama di gantungan. Melihat itu banyak orang yang menangis. Ada orang yang bertanya dalam tangis, ”Tuhan di mana? Tuhan di mana?”.

Sahabat Kristus, saat masalah menerpa, rasanya seperti kita sendirian menghadapi hidup. Terkadang kala sakit, duka, diperlakukan dengan buruk lalu kita berteriak meminta tolong tapi tak terjadi apa-apa. Lalu apakah saat pertolongan tidak juga tiba, tidak ada jawaban sama sekali, seperti anak kecil yang digantung itu, akhirnya mati di tiang gantungan, maka artinya Tuhan tidak menjawab? Ataukah Tuhan menulikan diri-Nya?

Tuhan yang kita imani pernah mengalami situasi merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Pada saat itu Kristus berteriak, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” Padahal Kristus adalah Anak Tunggal Allah Bapa. Bagaimana mungkin Bapa meninggalkan Kristus?

Kita mengimani bahwa Tuhan selalu mendengar doa-doa kita. Tuhan tidak pernah mengabaikan kita, sekalipun kita selalu mengabaikan Tuhan dengan dosa-dosa kita. Namun menjadi anak-anak Tuhan, bukanlah jaminan bahwa hidup tanpa soal, tanpa derita. Tapi kala terasa Tuhan tidak mendengar, bukan berarti Tuhan mengabaikan atau meninggalkan kita sendirian menanggung derita. Tuhan tidak pernah meninggalkan atau mengabaikan kita. Pada saat anak kecil yang digantung itu menderita di tiang gantungan, sesungguhnya Tuhan hadir di situ. Tuhan tergantung dan mati bersamanya di tiang gantungan. Kehadiran Tuhan adalah harapan yang memungkinkan kita melewati kesulitan dan beratnya beban. (Leny Mansopu)

Wise Words :  Manusia dapat bertahan hidup 40 hari tanpa makanan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara. Tapi hanya 1 detik jika tanpa harapan. (Hal Lindsey)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *