Ku Temukan Kristus Di Dalam Salibku (Bagian 3) – Markus 15:33-41

Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; (Mazmur 94:14)

Saya ingin mengajak kita menelusuri penderitaan yang Yesus alami. Mulai dari taman Getsemani Ia memohon agar cawan itu lalu daripada-Nya tapi Allah menolak. Yudas mengkhianati-Nya. Semua murid lari meninggalkan-Nya menanggung derita sendirian. Petrus menyangkali-Nya sampai tiga kali. Menghadapi itu semua, Yesus diam. Ia kemudian dianiaya dengan berbagai rupa baik dipukul, ditendang, dihajar, dicaci maki, dihina tapi Ia diam. Ia dibawa dari satu pengadilan ke pengadilan lainnya, Ia diam. Orang banyak yang telah Ia tolong berteriak ’salibkan Dia, salibkan Dia’, itupun Yesus diam. Siksaan terus ditimpakan kepada-Nya, Ia lalu dijatuhi hukuman mati dan dibawa ke Golgota. Sampai di sinipun, Yesus diam.

Beratnya penganiayaan yang telah ditimpakan kepada-Nya membuat Ia tidak sanggup pikul salib padahal Ia anak seorang tukang kayu, yang pastinya selalu membantu ayah-Nya memikul kayu sejak kecil. Tapi sepanjang jalan derita itu, Yesus diam. Hingga Ia mati dalam 3 jam karena kehabisan darah. Dapatkah kita membayangkan seberapa mengerikannya penderitaan Yesus? Sekalipun Ia disiksa dengan begitu mengerikan namun Ia tidak mengeluh dan meminta pertolongan Allah Bapa. Yesus hanya diam.

Baru setelah di salib, setelah semuanya sudah hampir selesai, Ia berteriak, ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’. Teriakan Yesus ini adalah puncak dari penderitaan yang Yesus alami yakni keterpisahan dari Allah dan ditinggalkan oleh Allah. Yesus sekalipun tidak berdosa namun karena Ia memikul dosa seluruh manusia maka Ia ditinggalkan oleh Allah.

Akibat yang paling fatal dari dosa adalah ditinggalkan oleh Allah. Maka semua kita yang merayakan kematian Tuhan Yesus hari ini mestilah berhati-hati dengan dosa-dosa kita. Jangan keenakan buat dosa karena akibatnya kita ditinggalkan oleh Allah. Yesus yang adalah Tuhan saja ketika merasa ditinggalkan, Ia berteriak pedih, ’Eloi, Eloi, lama sabathani’. Apa jadinya kita apabila ditinggalkan oleh Allah?

Sahabat Kristus, betapa teganya kita, sebab karena dosa kita maka Yesus harus menderita dan ditinggalkan oleh Allah, tapi kita malah terus menyakiti hati Allah dengan dosa dan pelanggaran serta ketidaksetiaan kita. Betapa jahatnya kita apabila kita tidak menghargai pengorbanan yang telah dibuat oleh Tuhan Yesus demi kita.

Yesus harus diam menanggung derita, menanggung ditinggalkan oleh Allah karena Ia mengasihi kita. Ia rela menderita karena kasih. Maka hargailah pengorbanan Allah. Yesus yang pernah merasa sakit dan pedihnya ditinggalkan oleh Allah, selalu mengerti setiap duka dan derita kita, sehingga Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Maka jangan pernah meninggalkan Yesus, apapun yang terjadi. (Leny Mansopu)

Wise Words : Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain. (Cicero)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *