Membiasakan Diri Baik – Efesus 4:1-16

Nats : Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala. (Efesus 4:15)

 

Pernah kami saat melakukan pelayanan di jalan, kami bertemu dengan seorang pemulung lansia. Kami menyapanya dan menawarkan diri untuk melayaninya dengan makan siang dan mendoakannya. Tapi ia menolak kami dengan penuh kecurigaan. Ia bilang, “Beta orang GMIT. Mau hidup atau mati beta tetap GMIT, besong jang ganggu beta.” Kami lalu menjelaskan bahwa kami juga warga GMIT, ada pendeta, ada calon pendeta GMIT.

Ia lalu menyuruh kami membuktikan bahwa kami benar-benar warga GMIT, apalagi pendeta GMIT. “Kalau besong pendeta GMIT na coba hafal satu nats Alkitab yang beta tahu”. Untuk menyenangkannya salah seorang dari kami menghafalkan Yohanes 3:16, yang selalu menjadi ayat andalan berita anugerah Allah dalam tata liturgi GMIT. Tak disangka, ia berkata, “Yang itu beta sonde tahu, yang lain sa…”

Saat cerita ini saya bagikan di facebook, seorang teman memposting komentarnya, “Saya bisa mengerti pikiran bapa pemulung karena selama ini, yang dia tahu, gereja tidak biasa turun ke jalan dan perhatikan kaum kecil makanya dia bingung dan kaget lalu dia tolak pelayanan.”

Sahabat Kristus, rasa percaya terbangun karena terbiasa. Kebaikan yang ditujukan kepada kita, menjadi hal yang mencurigakan oleh karena kita tidak terbiasa mengalaminya. Hal itu bisa membuat orang menolak. Bukan karena kebaikan itu hal yang tidak baik melainkan karena ia tidak nyaman saat diberikan kasih dan diperlakukan dengan baik.

Orang yang biasa diperlakukan buruk akan merasa aneh saat menemukan ada yang memperlakukannya dengan penuh kebaikan. Secara psikologis, ia telah menanam konsep di kepalanya bahwa ia akan selalu diperlakukan buruk dan tidak pantas menerima perlakukan baik. Maka ia cenderung untuk menolak kebaikan dan tidak mempercayai kasih yang tulus.

Setiap manusia berharga dan pantas untuk mendapatkan kasih dan kebaikan yang sesungguhnya. Maka menilai diri sebagai ciptaan yang dikasihi seharusnya membuat kita punya nilai diri yang baik. Mereka yang punya nilai diri yang baik dan menghargai dirinya sendiri akan juga dihargai dan dikasihi dengan pantas.

Selain itu, setiap kita punya panggilan untuk mengerti orang lain. Saat kasih kita ditolak, saat kebaikan kita dicurigai, bukan karena kita yang salah melainkan orang tersebut punya nilai diri yang salah. Maka tetaplah mengasihi. Tetaplah lakukan kebaikan dengan tulus. Perlu waktu yang panjang untuk meyakinkan orang lain tentang ketulusan kasih dan kebaikan kita yang kita nyatakan, tapi tetaplah lakukan. (LM)

 

Wise Words : Tindakan yang tulus membutuhkan pengorbanan yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *