Menghukum tanpa Kekerasan – Yesaya 53:1-7

Nats : Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes. 53:5)

 

Dr. Arun Gandhi, cucu dari Mahatma Gandhi, bercerita tentang pengalaman saat ia berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua yang bertugas di pedalaman Afrika Selatan. Hal yang paling menyenangkan Arun adalah kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop. Suatu hari ayahnya memintanya mengantarkannya ke kota untuk menghadiri konferensi. Sambil menunggu, Arun memperbaiki mobil di bengkel. Mereka berjanji untuk bertemu jam 5 sore lalu pulang ke rumah bersama-sama.

Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya. Kemudian, ia pergi ke bioskop, dan menonton 2 judul film sekaligus. Ia benar-benar lupa waktu hingga tanpa disadari sudah pukul 6 sore. Arun cepat berlari ke bengkel untuk mengambil mobil dan menjemput ayahnya. Ayahnya menanyakan keterlambatan Arun dan karena malu mengakui bahwa ia menonton film, ia menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal, ayahnya telah menelepon bengkel dan diberitahu kalau mobil sudah selesai diperbaiki sejak pagi.

Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah pada diri saya dalam membesarkan kau sehingga kau tidak berani menceritakan kebenaran kepadaku. Untuk menghukum kesalahan ini, saya akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sampai rumah dan memikirkannya baik- baik.” Ayahnya pun mulai berjalan kaki. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan di belakang ayahnya. Melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya maka sejak itu Arun tidak pernah berbohong lagi.

Arun berkata, “Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai menghukum tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan menghukum tanpa kekerasan.”

Sahabat Kristus, peristiwa penderitaan dan salib Yesus adalah bentuk penghukuman kasih bagi manusia tanpa kekerasan. Di dalam tindakan itu, Tuhan menginginkan kita belajar bahwa akibat dari ketidaksetiaan dan ketaatan kita maka Allah menghukum diri-Nya sendiri supaya kita berubah dari setiap keberdosaan kita dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih yang rela menghukum diri-Nya sendiri supaya mereka yang dikasihi-Nya mengerti bahwa kasih-Nya lebih besar dari murka-Nya. Bahwa di dalam pengorbanan-Nya, Ia ingin kita belajar menjadi lebih baik. (LM)

 

Wise Words : Kasih yang besar adalah kasih yang mengorbankan dirinya sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *