Nyanyian Yang Tidak Akan Lapuk – Mazmur 23

Nats : Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (Yohanes 14:2)

 

Sahabat Kristus, dari 150 buah nyanyian dalam kitab Mazmur, sepertinya Mazmur 23 yang paling terkenal. Dalam kidung jemaat saja ada 4 lagu tentang gembala: KJ. 283, 285, 407, 415 yang menurut saya pasti penulisnya terinspirasi dari Mazmur 23. Syair dari keempat lagu itu jelas mengikuti Mazmur 23.

Apa yang unik dari Mazmur ini sehingga terkenal? Mazmur yang pendek ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama dari ayat 1-4. Bagian kedua dari ayat 5-6. Bagian pertama berbicara keberadaan manusia selagi di luar rumah yang digambarkan dengan domba di padang. Ada banyak ancaman dan bahaya. Dalam situasi penuh bahaya tadi, domba, yaitu manusia tidak sendiri. Tuhan ada bersama-sama dan siap menolong.

Bagian kedua suasananya baru, bukan lagi di padang melainkan di rumah. Dari hidup yang keras, penuh ancaman dan bahaya, sekarang kita ada di rumah. Masa pengembaraan sudah berakhir. Sekarang kita telah tiba di rumah. Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Bapa? Di sana kita disambut dengan luar biasa hangat oleh tuan rumah, yakni Allah.

Sambutan itu digambarkan dalam kalimat berikut: “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Tidak ada hal yang lebih indah bagi seorang anak kalau setelah masa pengembaraan yang berat dan lama di luar rumah, akhirnya ia tiba di rumah sang Bapa dan disambut dengan luar biasa hangat. Sang Bapa membolehkan dia diam bersama sang Bapa selama-lamanya dan menikmati segalanya.

Aduh… asyik sekali. Inilah yang menurut saya membuat mazmur 23 menempati tempat tersendiri di antara nyanyian lainnya. Saya menamakan mazmur ini: nyanyian yang tak akan lapuk. Mengapa? Karena nyanyian ini memberi kekuatan kepada kita selama masih di padang bergumul dengan banyak tekanan dan kesulitan. Waktu menghadapi kematian sekalipun, nyanyian ini menjadi sumber penghiburan dan kekuatan. Coba perhatikan syair berikut: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Akhirnya, nyanyian itu tetap menemani kita waktu tiba di rumah Bapa. Nyanyian yang tidak lapuk karena menemani kita menjalani tiga babak kehidupan: hidup masa kini, pada waktu kita mati, dan nanti dalam kebangkitan, saat kita di rumah Bapa. Nyanyiannya tidak lapuk, gembalanya apa lagi. Berbahagialah mereka yang mengenal Mazmur itu. Tetapi lebih berbahagia mereka yang hidup bersama gembala yang dinyanyikan oleh Mazmur itu. (Eben Nuban Timo)

 

Wise Words : Memiliki sesuatu lebih baik dari pada hanya menyukai sesuatu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *