PENTAHBISAN GEDUNG GEREJA DAN PERHADAPAN PENDETA DI JEMAAT PAULUS RUTAN

Hari Minggu, 11 Mei 2013 adalah hari yang istimewa bagi anggota gereja yang ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kupang. Hari itu ditahbiskan dan diresmikan gedung kebaktian yang dibangun di dalam bagunan Rutan. Gedung kebaktian Jemaat Paulus Rutan.

Gedung kebaktian Jemaat Paulus Rutan adalah gedung kebaktian oikumene yang dipakai untuk kebaktian yang dilaksanakan oleh GMIT. Sejak awal didirikan, belum ada seorang pun pendeta yang melakukan pelayanan secara tetap di dalamnya. Hanya pendeta yang melayani secara sukarela atau persekutuan-persekutuan doa yang terpanggil untuk melakukan pelayanan.

Gedung kebaktian  yang dinamai Paulus, baru saja didirikan. Pendiriannya bersamaan dengan didirikannya Rutan. Lokasinya di samping LP Wanita, Penfui.

Gedung kebaktian ini diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM, Leo Detri, SH, MH. Sementara kebaktian pentahbisan dilakukan oleh beberapa pendeta GMIT yakni Pdt. Ishak Hendrik, S.Th, M.Sc, Pdt. Elisa Maplani, S.Th, Pdt. Leny H.F. Mansopu, S.Th, Pdt. Irene Tulle, S.Th, dan Pdt. Yus Boboy, S.Th.

Kebaktian dimulai tepat pukul 09.00 wita. Persiapan dilakukan dengan baik oleh semua warga binaan yang terlibat aktif dan para petugas. Demi kesempurnaan jalannya kebaktian dan perayaan, maka di Rutan dibentuk panitia yang terdiri atas warga binaan, tanpa perduli gereja asalnya. Ada warga GMIT, umat Katholik dan jemaat denominasi lainnya.

Warga binaan yang ditahan di Rutan adalah mereka yang sedang menjadi tahanan dan menunggu proses persidangan. Oleh karena itu maka jumlah warga jemaat di sana berubah dengan cepat. Pergantian warga terus-menerus terjadi. Ada yang pulang karena dinyatakan tidak bersalah lalu dibebas oleh pengadilan. Ada pula yang dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan. Waktu tinggal di Rutan juga relatif cepat.  Hal yang pasti, semua warga binaan adalah orang-orang yang sedang berada dalam kondisi membutuhkan penguatan dan pembinaan rohani.

 

Kehadiran seorang pelayan tetap di Rutan menjadi harapan warga Rutan. Menjawab akan kebutuhan itu maka Majelis Sinode GMIT menempatkan Pdt. Adolfina Ndaumanu-Uy untuk secara khusus melayani di Rutan. Dengan penempatan Pdt. Adolfina artinya Majelis Sinode GMIT telah menempatkan 4 orang karyawan pendeta di Lembaga Pemasyarakatan dan Rutan Kupang.

Sebagaimana diungkapkan oleh Pdt. Daniel Nenot’Ek, Ketua Badan Diakonia GMIT, dalam suara gembalanya, “Penempatan ini adalah tanda nyata keperdulian gereja untuk pelayanan pada semua bidang pelayanan. Pemulihan hidup disadari oleh Majelis Sinode, bukan untuk warga binaan saja tetapi untuk semua orang karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Rutan merupakan tempat proses rehabilitasi untuk memungkinkannya berjumpa dengan Tuhan. Di sini peranan gereja sangat penting. Gereja bertugas untuk menguatkan, terlebih lagi bagi mereka yang sedang menunggu proses persidangan. Gereja yang baru saja ditahbiskan adalah tanda kehadiran Allah di tempat ini maka muliakanlah Allah di dalam rumah-Nya.”

Sementara Kepala Kantor Kementrian Hukum dan HAM , Leo Detri, dalam sambutannya mengatakan, “Pelayanan dari GMIT dapat memberi kekuatan untuk mengosongkan Rutan. Tugas setiap orang percaya adalah mencegah orang datang ke Rutan. Rutan yang kosong tanda bahwa manusia semakin baik perbuatannya. Tetapi Rutan juga tempat paling indah untuk membuka kesempatan datang menghadap Tuhan setiap saat. Belum tentu orang mau mencari Tuhan bila berada di luar.” Ungkapannya disambut tepuk tangan riuh warga binaan.

Ketua Panitia Pentahbisan Gereja dan Perhadapan Pendeta, mewakili warga binaan lain, menyatakan ungkapan hati dan terima kasih kepada semua yang telah hadir. Ia menyatakan bahwa Rutan telah menjadikannya seorang manusia yang lebih mengasihi Tuhan dan mencari Tuhan setiap saat. Pernyataannya disambut tepuk tangan semua warga binaan lain.

Hadir dalam kebaktian itu, Wakil Walikota Kuipang, dr. Hermanus Man, pelayan dari Gereja Katholik, Jemaat Ebenhezer Matani, tempat Pdt. Adolfina melayani sebelumnya.

Jemaat Ebenhezer Matani hadir lengkap dengan Paduan Suara, Vokal Group dan Solo. Ada juga Paduan Suara Pemuda Jemaat Pniel Oebobo, dan keluarga-keluarga dari warga binaan Rutan. Tentu saja semua warga binaan hadir dalam kebaktian dan perayaan hari itu. Mereka mempersiapkan Paduan Suara dan beberapa Vokal Group.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *