Perintah Allah Kepada Para Hamba – I Petrus 2:18-25

Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:19)

Secara sepintas sepertinya bacaan ini membenarkan adanya perbudakan dan penindasan dari orang-orang kelompok yang kuat kepada orang-orang dari kelompok yang lemah. Kalau benar begitu maka betapa menyedihkannya hidup orang-orang yang berada pada posisi lemah secara ekonomi, sosial dan politik. Apakah pasal ini memang bermaksud melanggengkan institusi perhambaan, termasuk di dalamnya perhambaan dalam lingkungan gereja?

Pernah dalam sebuah acara pembekalan Majelis Jemaat GPIB Semarang, seorang penatua bertanya kepada saya: “Pak pendeta, kalau di perusahaan tempat saya bekerja, majikan memerintahkan saya untuk melakukan satu hal yang jahat, seperti mark up harga pembelian sebuah barang, apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menolak ataukah melakukan saja perintah itu? Kalau saya menolak, bisa saja saya diberhentikan. Lalu bagaimana dengan nasib keluarga saya karena saya kehilangan pekerjaan? Kalau saya melakukan perintah itu, bukankah saya ikut melakukan dosa? Jadi apakah yang harus saya perbuat dalam situasi itu?

Sahabat Kristus, ini pertanyaan yang rumit dan menimbulkan masalah etis yang serius. Jawaban yang saya berikan untuk pertanyaan itu adalah sebagai berikut: setiap orang Kristen memiliki dua status kewarga-negaraan. Pertama dan utama, kita adalah warga kerajaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk ‘Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu’. Artinya, ketaatan pada kehendak Allah adalah harga mati.

Kedua, kita tidak bisa sangkali bahwa selama di bumi kita adalah warga dari satu organisasi dan wajib tunduk pada aturan organisasi, termasuk pada pimpinan di atas kita. Masing-masing kita haruslah hidup dengan memperhatikan kewargaan ganda yang kita miliki. Sebagai bawahan patutlah kita tunduk pada perintah majikan, tetapi karena perintah itu secara moral dan iman adalah salah dan jahat, baiknya saya memberitahukan kepada majikan bahwa permintaan itu berat untuk dilakukan. Kalau majikan saya memaksa untuk kejahatan itu tetap dilakukan, bicarakanlah dengan dia bahwa sebagai bawahan saya taat, tetapi janganlah saya yang dipersalahkan karena saya lebih memilih taat kepada Allah.

Bagaimanapun ketaatan kepada Allah mesti menjadi hal utama yang dijunjung. Pada ahkirnya, mereka yang memilih taat kepada Allah akan mendapatkan perlindungan Allah. Sekalipun untuk itu kita menjadi dibenci dan dihindari dunia. (Pdt. Dr. Eben Nuban Timo).

Wise Words : Ketaatan mesti berjalan bersama kebenaran. Dengan begitu ketaatan akan berubah menjadi kebaikan bagi semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *