Sebuah Proses Sukacita – Emeritasi Pdt. Benyamin Lalus

Emeritasi pendeta adalah proses sukacita karena bukti bahwa seorang pendeta yang mengangkat komitmen untuk melayani Tuhan telah mengakhiri penugasan yang diberikan Tuhan sampai pada garis akhir. Proses itu dijalani oleh Pdt. Benyamin Apollus Lalus, Sm.Th.

Rangkaian kebaktian emeritasi dimulai dengan kebaktian penggembalaan yang dipimpin oleh Pdt. Marselintje Ay-Touselak, S.Th, pada tanggal 25 Januari 2014 di Jemaat Nazaret Taum Klasis Amanuban Selatan.

Esoknya, Minggu, 26 Januari 2014 dilaksanakan kebaktian emeritasi terhadap Pdt. Benyamin Appolos Lalus. Pada kebaktian itu juga sekaligus diperhadapkan Pdt. Un Ninu Budi Izak Holbala, S.Th. yang menggantikan Pdt. Benyamin melayani di Jemaat Nazaret Taum. Pemimpin kebaktian emeritasi dipimpin bersama antara Pdt. Clara Enny de Fretes-Lulan, S.Th. sebagai liturgos dan pengkhotbah, Pdt. Marselintje Ay-Touselak melakukan emeritasi terhadap Pdt. Benyamin. Dan Pdt. Un melanjutkan pelayanan mimbar setelah selesai ia diperhadapkan.

Hadir dalam kebaktian jemaat Nazaret Taum dan jemaat-jemaat sekitarnya, beserta seluruh pendeta-pendeta di Klasis Amanuban Selatan dan pemerintah beserta para undangan.

Dalam khotbahnya, Pdt. Enny menekankan nasehat bagi pendeta untuk tidak melalaikan pelayanan demiselera, tidak mencari kepentingan dan kenyamanan diri. Menyoroti komitmen pelayanan Paulus dari Kisah Para Rasul 20:17-38, maka pelayanan mesti dilakukan dengan hidup yang bersih. Allah sendiri yang menugaskan seorang pendeta melayani. Itulah yang menjadi dasar pelayanan seorang pendeta. Karena penugasan itu maka pelayanan harus dilakukan dengan benar dan baik di tengah-tengah jemaat. Apalagi jemaat yang dilayani adalah milik Allah yang ditebus dengan darah Kristus.

Kebaktian diisi dengan 13 PS dan VG serta soloist. Menandai pelepasan Pdt. Benyamin melepaskan jabatan organiknya sebagai karyawan GMIT, ditiupkan tois, alat musik tiup yang terbuat dari tanduk sapi, oleh KMK Amanuban Selatan, Pdt. Jefry Watileo. Juga disertai deraian air mata para pendeta, penatua, diaken dan jemaat yang telah merasakan pelayanan Pdt. Benyamin.

Dalam suara gembalanya, Pdt. Ince menyatakan pujian untuk ukiran karya pelayanan yang telah dilakukan oleh Pdt. Benyamin hingga akhirnya mencapai status kehormatan karena telah melayani selama 32 tahun 4 bulan. Telah ada buah-buah pelayanan yang baik dan nilai pelayanan yang  menggoreskan makna pada gereja, jemaat dan para penerus pelayanan. Buah-buah pelayanan telah dipersembahkan berbau harum dari Rote sampai ke Taum. Menurut Pdt. Ince, “Selama jadi pendeta, Pdt. Benyamin melayani di desa dan meninggalkan tapak pelayanan ibarat pelangi yang indah. Ada juga warna kelam ibarat kain tenunan. Semua itu dipakai Tuhan.”

Saat memberikan sambutan, Pdt. Benyamin bercerita tentang prinsip pelayanannya, “Kalau jemaat hidup maka saya juga pasti hidup. Kalau jemaat susah maka biarlah saya juga susah.” Dengan keberanian itu maka ia berangkat untuk pertama kalinya ke Rote tahun 1979. Dibayar gaji hanya setengah sebesar Rp.12.000,- perbulan. Sepuluh tahun kemudian ia pindah ke Amanuban Selatan.

Lebih jauh Pdt. Benyamin menghimbau para pendeta, penerus pelayanan bahwa salah satu hal yang paling mendasar agar pelayanan pendeta bisa maksimal adalah belajar bahasa. Saat melayani di Rote, ia belajar bahasa dan budaya Rote. Itulah yang membuatnya menjadi bagian dari jemaat. Juga saat melayani di Amanuban. Belajar bahasa dan budaya memungkinkan ia masuk dan menyatu dengan jemaat dan menjadi bagian dari mereka.

Selama menjadi pendeta ia pernah menjadi Ketua Klasis selama 16 tahun kemudian menyerahkan jabatannya.Kemampuannya sehingga bertahan cukup lama di jemaat adalah menyatu dengan jemaat. Ia juga tidak pernah menuntut dilayani oleh jemaat. Menyinggung lamanya ia berada di satu jemaat, Pdt. Benyamin mengatakan, “Memang terlalu lama di jemaat dapat menyebabkan jenuh. Kita juga tidak berkembang. Maka membaca adalah mesti. Tiap bulan saya beli 2 buku karena tanpa baca pendeta seumpama pelita yang kehabisan minyak, hangus dan terbakar sumbu-sumbunya.”

Selesai kebaktian dilakukan penandatanganan berita acara serah terima pelayanan dari Pdt. Benyamin kepada Pdt. Un dengan saksi Pdt. Ince. Kemudian penyerahan simbolis administrasi dan memori pelayanan.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata kepada Pdt. Benyamin. Cindera mata perpisahan berupa selimut, cincin, uang dan sebuah sepeda kotor. Kepada Pdt. Un, jemaat juga menyambutnya dengan natonis dan penyerahan cindera mata yang mewakili ungkapan menerima yang bersangkutan untuk melayani jemaat. Seorang tokoh jemaat mengalungkan sebuah selimut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *