GMIT Perduli Anak dan Perempuan

Peluncuran Buku Advokasi Perduli Perempuan dan Anak, dan Pencanangan Gereja Ramah Anak serta Lounchi

Dalam menjalankan panggilan untuk melakukan pelayanan secara holistik, maka Majelis Sinode GMIT melakukan Peluncuran Buku Advokasi Perduli Perempuan dan Anak, dan Pencanangan Gereja Ramah Anak serta Lounching Gereja Pojok Pintar.

Rangkaian kegiatan dilakukan pada Minggu, 20 Juli 2014 di Jemaat Agape Kupang. Dibuka dengan ibadah yang dipimpin oleh liturgos Ellen Amalo, S.Pd.K dengan pengkhotbah Pdt. Benjamin Nara Lulu, M.Th.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antar GMIT, UNICEF dan BAPPEDA. Sebagai bentuk keperdulian gereja maka kegiatan ini dilaksanakan seiring dengan peringatan Hari Anak sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2014.

Pdt. Benjamin dalam khotbahnya mengatakan agar gereja menunjukkan keberpihakan kepada kaum perempuan dan anakyang seringkali menjadi korban kekerasan.

Pada kesempatan ini hadir pimpinan UNICEF Indonesia, Angela Kearney. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh GMIT adalah suatu kesempatan indah bagi anak-anak di Indonesia, NTT dan Kupang. “Apresiasi bagi para pendeta yang telah memberi perhatian bagi anak selaku masa depan kehidupan. Lounching buku ini adalah bentuk evolusi untuk mulai mendengarkan keinginan dan harapan anak dan menanggulangi berbagai bentuk kekerasan.” Lebih jauh Angela menyerukan, bahwa anak punya hak untuk berkata tidak pada kekerasan. “Jadi anak-anak, kami membutuhkan partisipasi untuk mengetahui apa yang kalian inginkan.”

Sementara itu menurut perwakilan BAPPEDA, dalam sambutannya, apa yang dilakukan adalah kolaborasi dari GMIT, UNICEF dan pemerintah. Tujuannya adalah pemenuhan hak anak. “Harapan kami, buku ini bisa digunakan dalam kegiatan gereja dan bina iman demi pemenuhan hak anak.”

Peluncuran buku ini ditandai dengan penandatanganan halaman pertama buku oleh Ketua sinode GMIT, UNICEF dan BAPPEDA.

Selanjutnya penyerahan buku dari penulis, yang diwakili oleh Pdt. Nonce Pellu, kepada Ketua Majelis Sinode untuk dipergunakan. Ketua Majelis Sinode kemudian kembali menyerahkannya kepada Ketua Majelis Jemaat Agape, dan beberapa Ketua Majelis Klasis, yang diwakili oleh para pendeta dari Kantor Sinode GMIT.

Ketua Majelis Sinode GMIT dalam suara gembalanya mengatakan kekerasan yang sering dialami oleh perempuan dan anak-anak terstruktur. Itu dimulai dari rumah tangga dimana sekalipun orang tua mengasihi anak namun tetap melakukan kekerasan kepada anak. “Gereja berusaha melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan ini. Akan tetapi perlu gerakan bersama untuk mengatasinya. Gereja tidak bisa sendiri kecuali bermitra dengan pihak lain, yakni UNICEF dan BAPPEDA.”

Bagian terakhir adalah Lounching Pojok Pintar Jemaat Agape Kupang. Pengguntingan pita peresmian dilakukan oleh Pdt. Robert St. Litelnoni dan Ibu Angela Kearney. ••• Leny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *