Ibadah dan Coffee Morning MSH dan DPRD – Sebuah Upaya Gereja Melaksanakan Fungsi Pastoral

Sebagai bagian dari melaksanakan panggilan untuk hadir dalam setiap lini kehidupan anggota jemaat dan masyasrakat maka maka Majelis Sinode Harian GMIT melaksanakan Ibadah Bersama dan Coffee Morning bersama DRPD Propinsi NTT, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Ibadah bersama ini dilaksanakan pada Senin, 13 Oktober 2014 di Lantai 3 Kantor Sinode GMIT. Ibadah dipimpin oleh Pdt. Jeane Pandie-Litualli, S.Th.

Anggota DPRD Propinsi, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang yang hadir tidak seberapa dikarenakan berbagai kegiatan yang sedang digeluti.

Ibadah dilanjutkan dengan sharring berupa gambaran tentang apa yang menjadi pergumulan anggota-anggota DPRD dalam melaksanakan tugasnya. Masing-masing anggota DPRD yang hadir, selain memperkenalkan diri, jabatannya di DPRD dan asal partai politiknya, mereka juga berbagi secara pribadi tentang perjuangan masing-masing dan harapannya dari gereja. Beberapa anggota DPRD membeberkan harapannya agar pihak gereja mau membantu mereka dalam melaksanakan tugas.

Beberapa hal umum yang dibagikan oleh anggota DPRD kepada gereja antara lain informasi sepihak tentang apa yang telah dilakukannya bagi gereja. Nelson Matara, anggota DPRD Propinsi NTT menyatakan penting baginya untuk memberikan informasi tentang apa yang telah dilakukannya bagi jemaat-jemaat GMIT karena menurutnya para pendeta yang telah dibantu tidak pernah bilang apa-apa kepada jemaat-jemaat tentang apa yang telah dilakukannya secara pribadi bagi gereja. “Apalagi pendeta dan pastor tidak bekerja apa-apa untuk partai-partai politik yang ada padahal banyak hal yang sudah saya lakukan untuk gereja ini.” kata Nelson Matara.

Sementara itu anggota DPRD lain menyatakan rasa bangga untuk apa yang telah dimulai oleh Majelis Sinode dengan pertemuan dan ibadah bersama. Termasuk juga harapan agar pertemuan tersebut dapat terus dilanjutkan setidaknya tiga bulan sekali. “Saya berharap Majelis Sinode dapat menjadwalkan secara berkala untuk bertemu dengan DPRD. Kami sendiri butuh gereja untuk menolong kami melakukan apa yang menjadi tugas kami. Terlebih kami adalah anggota GMIT, kami mau bekerja juga bagi gereja.” kata Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Yos Lede.

Anggota DPRD lain menawarkan untuk bersama melaksanakan apa yang menjadi Sub Tema Pelayanan Majelis Sinode tahun 2015 yakni Berdasarkan Damai Sejahtera Kristus, Kita Tingkatkan Peran Serta Anggota GMIT Dalam Pelayanan Holistik, Menuju Kemandirian Ekonomi Kreatif. Tawaran yang diberikan yakni bersama memajukan ekonomi kreatif. Untuk itu mereka berjanji akan menindaklanjuti apa yang menjadi program pelayanan GMIT dengan bantuan dana dan sebagainya.

Hal yang dikeluhkan oleh hampir semua anggota DPRD adalah menyangkut proposal pembangunan dan proposal kegiatan pelayanan yang disodorkan oleh jemaat-jemaat kepada anggota DPRD. “Masalah anggaran bagi gereja bisa diperjuangkan oleh teman-teman DPRD dalam politik anggaran. Untuk itu saya mengajak teman-teman untuk sama-sama berjuang bagi pelayanan GMIT dengan pengalokasian anggaran ke beberapa kerja besar yang sedang digumuli oleh GMIT yakni Sidang Sinode di Rote, pembangunan GMIT Center dan pembangunan rumah sakit serta klinik GMIT. Ini lebih efektif dibanding menyodorkan proposal yang pasti nilainya tidak seberapa,” kata Winston Rondo.

Anggota DPRD Propinsi NTT, Alex Ena, mengusulkan agar Tim Pastoral Politik yang telah dibentuk oleh Majelis Sinode GMIT dapat melaksanakan tugasnya. “Tim Pastoral Politik bisa membentuk kelompok diskusi antara gereja dan DPRD.”

Ketua Majelis Sinode, Pdt. Robert St. Litelnoni, yang memimpin alur diskusi  mengatakan, “Melalui wadah ini kami berharap, DPRD bisa menyampaikan kepada kami secara langsung apa yang menjadi pergumulan dan harapan ke depan. Dan kajian pertemuan kali ini akan diberikan sebagai masukan kepada Tim Pastoral Politik yang baru diperhadapkan untuk melakukan tugasnya.”

Menanggapi apa yang diharapkan oleh anggota-anggota DPRD terhadap gereja, Pdt. Robert berterima kasih kepada DPRD yang telah memberikan data dan informasi terbaik. “Untuk semua informasi dan usulan, gereja tidak melakukan politik praktis. Akan tetapi gereja akan melakukan bagiannya, tidak saja dalam hal menjalankan fungsi pastoralnya tapi gereja akan konsisten untuk terus membekali anggota-anggota gerejanya yang duduk di legislatif.” ••• Leny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *