Allah Adalah Pemulung – Yesaya 43:1-7

Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. (Yesaya  43:3)

Saya sangat suka berkunjung ke satu keluarga pemulung. Mereka hidup dalam keadaan yang sangat miskin. Rumah mereka hanya terbuat dari kardus. Lantai mereka adalah tanah beralaskan kardus dan tikar kumal. Itu artinya mereka harus menghadapi ancaman kalajengking, semut, ular dan binatang lainnya. Padahal mereka memiliki anak yang masih kecil, dan seorang bayi yang baru lahir. Rumah merekapun penuh dengan berbagai jenis sampah.

Melihat kehidupan mereka mengingatkan saya akan kehidupan kita sebagai manusia. Banyak kali keberadaan para pemulung tidak dihargai padahal mereka adalah penolong yang memungut sampah-sampah yang kita buang secara sembarangan. Sampah itu harus mereka bersihkan lalu timbang untuk membiayai kehidupan keluarga mereka.

Saat istri pemulung merendahkan diri dengan berkata, “Minta maaf ibu, kami cuma pemulung miskin yang tidak punya apa-apa.” Saya menjawabnya, “Mama, Tuhan Allah juga pemulung. Setiap hari Ia melakukan pekerjaan pemulung yakni memungut kita, manusia yang adalah sampah, lalu membersihkan kita dan membuat kita berharga.”

Saudaraku, punya nilai diri yang baik bahwa kita adalah manusia yang berharga, makluk yang paling sempurna adalah baik tapi ingatlah juga bahwa kita sebenarnya sampah yang tidak berharga namun Allah mau memungut kita, membersihkan kita dari setiap noda dan kotoran dosa dan menjadikan kita makluk yang berharga mahal.

Pemahaman ini seharusnya mendorong kita untuk mensyukuri kasih dan kebaikan Allah bagi kita. Betapa berharganya kita di mata-Nya sehingga Ia mau bersusah payah untuk memungut kita dan memproses kita sehingga menjadi indah dan layak di mata-Nya. Kenyataan ini seharusnya membuat kita tahu untuk menghargai dan menerima orang lain apa adanya.

Kalau kita juga sampah yang penuh dosa dan Allah mau menerima kita maka panggilan kita adalah menerima orang lain apa adanya dia. Tidak perduli akan latar belakang, tidak perduli entah dia orang berdosa, orang yang dengan berbagai kekurangan.

Wise Words : Yang harus dibenci adalah dosa dan bukan orangnya. (LM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *