Banyak Yang Peduli Pendidikan di GMIT – PAUD Imanuel Nenas

Sejak awal berdirinya gereja di Indonesia selalu diikuti dengan berdirinya sekolah dan rumah sakit. Hal itu menginspirasi banyak anggota gereja untuk peduli pada bidang pelayanan pendidikan sehingga pelayanan yang penuh pengorbanan tidak saja terjadi dalam tembok gereja tapi juga dalam tembok pendidikan.

Salah satu cerita tentang mereka yang melayani dengan hati dan penuh pengorbanan demi majunya pendidikan dilakoni oleh Ince Damaris T. Tabelak. Saya bertemu dengannya dalam perjalanan pelayanan ke Nenas. Ince adalah gadis berusia 30 tahun yang lahir dan besar di Nenas, desa kecil di kaki Gunung Mutis.

Di kampungnya yang terpencil dan tergolong sulit dicapai karena kondisi jalan dan jarak yang jauh dari kampung lain, ia menemukan persoalan yang serius yakni anak-anak sulit sekolah. Di kampung sudah ada SD dan SMP namun anak-anak di bawah usia SD cukup banyak dan mereka tak tersentuh dengan pendidikan. “Kondisi ini menyebabkan saya terpanggil untuk membangun PAUD di kampung Nenas. Apalagi waktu itu ada program pemerintah untuk mendirikan PAUD di berbagai wilayah. Waktu kami membangunnya tahun 2009, kami tidak punya dana dan teman-teman yang saya ajak untuk sama-sama bangun PAUD semuanya mengajar satu tahun lalu mulai mengundurkan diri hingga sisa dua orang yang tetap setia,” cerita Ince tentang awal mula pendidikan PAUD yang dibangunnya. Kondisi tidak adanya dana untuk mengelola PAUD yang dinamai PAUD Imanuel menjadi penyebab utama mundurnya teman-temannya.

Baru tahun 2011 mereka mendapatkan dana dari Dinas Pendidikan berupa Bantuan Operasional Pendidkian (BOP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS. Dana itu dipergunakan untuk membeli alat permainan dalam dan luar serta membayar tenaga pendidik.

PAUD Imanuel kemudian mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan. “Tidak mudah mendapatkan perhatian bagi PAUD kami karena kami di kampung terpencil namun saya pakai trik untuk menarik perhatian. Setiap saya ke Dinas Pendidikan, saya bawa ole-ole berupa bawang putih dan merah, madu untuk teman-teman di Dinas. Bukan untuk menyogok tapi hanya supaya mereka mengenal saya dan bisa akrab dengan teman-teman di dinas,” ceritanya lugu.

Perhatian terus diberikan kepada PAUD Imanuel dengan bantuan tetap setiap tahun. Tidak banyak dana yang diperoleh yakni Rp.7.200.000,- pertahun. Dana itu kemudian dipergunakan untuk membiayai tenaga pendidik, proses belajar-mengajar, pembelian alat belajar-mengajar dan berbagai alat permainan. “Tiap bulan saya beritahu dua orang teman pendidik yang lain bahwa uang sedikit yang diberikan hanyalah uang transport. Kadang Rp.100.000,-, tapi lebih banyak tidak mendapatkan uang transport. Kalau saya dapat berkat dari jualan hasil kebun maka saya berbagi dengan mereka. Puji Tuhan mereka tetap setia mengajar karena saya selalu menguatkan mereka bahwa apa yang kami lakukan adalah perpuluhan bagi Tuhan,” kata Ince.

PAUD Imanuel saat ini memiliki gedung yang baik dengan satu ruangan yang dilengkapi kamar mandi dan WC. Alat pemainan juga beragam. Jumlah anak didik 36 orang dan 3 tenaga pendidik. “Tidak pernah ada pungutan dana dari orangtua sama sekali karena kalau sampai kami pungut biaya maka tidak akan ada anak yang akan sekolah. Sudah gratis saja terkadang orangtua tidak memberikan anaknya sekolah dan memilih membawa anak-anaknya ke kebun,” kata Ince prihatin. Lebih jauh Ince bercerita bahwa pernah disepakati dalam rapat dengan orangtua agar setiap bulan anak menyumbang uang sebesar Rp.10.000,- tapi kemudian setelah rapat, besoknya tidak ada anak-anak yang ke sekolah. Mereka baru masuk sekolah setelah kami umumkan bahwa tidak ada lagi pungutan,” cerita Ince sambil tertawa. “Kita ikut maunya orangtua saja. Yang penting anak-anak bisa sekolah supaya kampung kami maju,” cerita Ince bersemangat.

Sebuah realitas yang membanggakan tapi juga memedihkan hati. Pengorbanan dari mereka yang rela memberi diri untuk melayani tanpa mempedulikan upah sebagai hak yang patut diterima. Namun di pihak lain, perjuangan mereka bukan saja untuk mencerdaskan anak-anak milik Tuhan namun mempengaruhi seluruh masyarakat tentang pentingnya pendidikan walau tidak sedikit pengorbanan yang harus diurai. ••• Leny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *