GEREJA PRESBYTERIAN KOREA JAJAKI KEMITRAAN DENGAN GMIT CEGAH HUMAN TRAFFICKING

SINODEGMIT.OR.ID-KUPANG. Pdt. Kweon Dong Yong dan Pdt. Kim Yong Seng, selaku Ecumenical Co-worker dari Presbyterian Chruch of Korea atau Gereja Presbyterian Korea, berkunjung ke Kupang dan bertemu ketua sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon. Di dampingi Paul Bolla S.Th, mereka ingin mengenal GMIT dan pergumulannya serta berharap ada kerja sama antar kedua gereja. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin 28 Agustus 2016 di kantor sinode GMIT itu, Pdt. Mery Kolimon, memaparkan sejumlah persoalan sosial dan kemanusiaan di NTT khususnya human trafficking dan buruh migran yang belakangan menjadi isu hangat baik lokal maupun nasional.

Belajar dari pengalaman kemitraan Gereja Presbiterian Korea dengan Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) juga Gereja Kristen Pasundan (GKP), dalam hal penanganan korban human trafficking dan pemberdayaan ekonomi bagi para korban, baik Pdt. Mery maupun Pdt. Kweon berharap kerja sama dapat segera direalisasikan. “Kami senang bapak mengontak dan bertemu kami, kami sudah mendengar hal baik yang telah dilakukan oleh gereja Korea dengan GKP, kami berharap kalau nanti kerja sama antar kedua gereja terjalin, kita bisa saling melengkapi. Ada sesuatu yang bisa gereja Korea sumbangkan dan kami juga bisa menyumbang sesuatu bagi gereja Korea,”tutur Pdt. Mery.

Menyinggung kerja sama yang telah dilakukan oleh Gereja Kristen Pasundan dan gereja Korea dalam menangani korban human Trafficking melalui konser musik dari artis-artis Korea, Pdt. Kweon menawarkan apakah ada kemungkinan konser yang sama diselenggarakan di Kupang? Menanggapi tawaran ini Pdt. Mery memaparkan bahwa isu utama di NTT sekarang adalah perdagangan orang. “Sebagai gereja kami mau terlibat untuk pencegahan supaya orang tidak gampang ditipu, dan salah satu media pendidikan yang efektif dalam mencegah perdagangan orang adalah melalui musik,”jelas ketua sinode GMIT.

Meski agak terbata-bata berbicara dalam bahasa Indonesia, Pdt. Kweon mengaku senang dan bersedia membantu pendampingan bagi para korban perdagangan orang. “Kalau kami mau bantu, kami harus mengetahui kasus-kasus yang terjadi di Kupang dan menyampaikannya ke gereja kami untuk membantu korban di Kupang,” ungkap Pdt. Kweon. Merespon hal ini, Majelis Sinode GMIT akan menginventarisir sejumlah kebutuhan GMIT yang bisa menjadi pintu masuk dalam rangka membangun kerja sama yang saling melengkapi dan menguatkan di antara kedua gereja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *