JANGAN POTONG BEKIN MATI “POHON” YAPENKRIS

SINODEGMIT.OR.ID-ALOR, Kamis 14/9, Yapenkris telah berkiprah selama hampir 60 tahun di NTT dan mengelola lebih dari 500 sekolah. Tidak ada Yayasan di bumi NTT bahkan di Indonesia yang mengelola sekolah sebanyak itu dengan rentang waktu lebih dari setengah abad, bahkan sekolah-sekolah kristen warisan pemerintah Belanda itu telah ada 2 abad sebelum Indonesia merdeka. Itulah kerinduan dan semangat yang mendorong Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) untuk membenahi dan memajukan sebagian besar sekolah-sekolahnya yang sejak lama terabaikan melalui pertemuan raya selama empat hari di Kalabahi-Alor yang melibatkan 13 Yayasan yang menyebar di seluruh NTT.

Kebaktian pembukaan Pertemuan Raya Rabu, 13 September berlangsung khidmat. Setidaknya 500 orang peserta, siswa-siswi dari sekolah-sekolah GMIT dan jemaat selaku tuan dan nyonya rumah sejak pukul 07:00 pagi antusias memenuhi aula serba guna jemaat GMIT Pola Tribuana mengikuti kebaktian yang dipimpin Pdt. Kondrad Penlaana, S.Th.

Dalam khotbah, Pdt. Kondrat mengajak jemaat belajar dari perumpamaan tentang “Pohon Ara yang Tidak Berbuah”. Pemiliknya menghendaki agar pohon ara yang tidak berbuah itu dipotong saja, namun pengurus kebun memohon agar janganlah dipotong dulu. Berilah kesempatan sekali lagi untuk dicangkul, diberi pupuk dan dirawat, siapa tahu musim berikutnya ia akan berbuah lagi.

Yapenkris yang sebelumnya bernama Yupenkris dalam pandangan Pdt. Kondrat seumpama pohon ara dalam cacatan Injil Lukas ”saya yakin tahun-tahun sebelumnya pohon itu berbuah banyak dan banyak orang telah merasakan manfaatnya, hanya beberapa tahun terakhir saja ia tidak berbuah. Karena itu, jangan sekali-kali kita menghendaki pohon itu ditebang karena tidak berbuah,”tegas Pdt. Kondrat.

Pendidikan adalah sebentuk pemeliharaan dan perawatan oleh pengurus kebun. Gereja Masehi Injili di Timor hadir melalui Yapenkris dipanggil untuk menjadi pengurus kebun Tuhan yang baik dan setia supaya pohon-pohon yang ditanam yakni anak-anak didik asuhannya berguna bagi keluarga, gereja, bangsa dan negara dan bagi kemuliaan Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *