Keluarga Korban Human Trafficking Menunggu Gubernur NTT Hingga Pingsan

Rabu (3/8) Purniati Tamonob (15) jatuh pingsan di depan teras pintu masuk kantor gubernur NTT lantaran lapar dan kelelahan setelah 8 jam ikut dalam aksi damai menuntut penuntasan kasus kematian saudari mereka Yufrinda Selan. Purniati adalah salah satu dari 30 anggota keluarga korban human trafficking  yang ingin bertemu gubernur NTT, Frans Leburaya. Sebagaimana dikabarkan media lokal belakangan ini, korban Yufrinda Selan meninggal di Malaysia dan dikirim pulang ke kampung halamannya dengan tubuh penuh jahitan sepanjang 1 meter dari leher hingga perut bagian bawah. Sebelumnya, korban Yufrinda Selan adalah pelayan PAR dari mata jemaat Getsemani Tuakole, wilayah Tetas, klasis Mollo Barat.

“Kami naik oto dari kampung jam 7 pagi datang ke sini. Tadi kami ikut aksi dengan mahasiswa terus mau ketemu Kapolda tapi tertahan di depan pintu Polda berjam-jam, sekarang su sampe kantor gubernur juga bernasib sama, kami tidak bisa masuk, jadi mungkin dia lapar dan cape ko pingsan,” ujar salah satu ibu dari keluarga korban yang berasal dari Desa Tupan, Tuasene-kabupaten TTS.

Sekitar pukul 15:30, Purniati yang memegang foto korban Yufrinda tiba-tiba saja roboh. Anggota keluarga lalu menggotong tubuh Purniati ke dalam mobil pick up menuju kantor Sinode GMIT ditonton puluhan karyawan dan petugas keamanan kantor gubenur. “Coba dari tadi kalian buka pintu ko kami masuk pasti orang sonde perlu jatuh pingsan begini,” kesal salah seorang aktivis.

Bersama puluhan orang dari berbagai elemen organisasi  kemahasiswaan peduli kemanusiaan, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) dan beberapa pendeta dari BPP Advokasi Hukum dan Perdamaian Majelis Sinode GMIT berorasi dan meminta audiens dengan gubernur namun terhalang di depan pintu gerbang yang tidak mau dibuka oleh petugas keamanan dengan alasan Drs. Frans Leburaya tidak berada di tempat. Sekitar satu jam bernegosiasi dengan petugas Pol PP, akhirnya rombongan diperbolehkan masuk, namun hanya dengan berdiri di depan teras kantor gubernur karena Leburaya tidak berada di tempat. Kabag Dokumentasi Biro Humas, Elisabeth Lenggu, yang menerima rombongan, menyatakan akan menyampaikan surat pernyataan sikap dan aspirasi dari keluarga dan para aktivis.

 

Keluarga korban dan para aktivis mengaku kesal dan kecewa dengan sikap Frans Leburaya, yang sebelumnya telah disurati untuk audiens namun lebih memilih pergi ke Jakarta ketimbang memberi waktu untuk bertemu keluarga korban. “Kami datang baik-baik kamu tidak mau terima kami, nanti pemilihan baru kalian datang mengemis suara di TTS,” teriak salah satu aktivis mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *