Lokakarya Kemajemukan Agama

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, “Perbedaan itu anugerah Allah. Kalau di Muslim disebut sunnahtullah. Kita tidak bisa menolak dan menghindar dari perbedaan. Itu hanya bisa diterima. Karena itu, kita mau dorong agama-agama termasuk gereja agar benar-benar serius dengan misinya. Misi untuk menjadikan kehidupan di dunia ini benar-benar bermakna bagi kehidupan bersama. Ini konsep yang sangat ideal tapi itulah tugas gereja,” demikian pernyataan Elga J. Sarapung, direktris Dian Interfidei, pada acara Lokakarya yang bertema, “Mengelola dan Memaknai Perbedaan Agama dalam Kemajemukan Masyarakat di Kupang-NTT”.

Lokakarya ini bekerja sama dengan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) dan Sinode GMIT melibatkan 30 orang pendeta GMIT. Pdt. Maria Litelnoni, Ketua UPP Teologi mewakili Majelis Sinode Harian dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini dan berharap para peserta berperan aktif.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 27-29 Juli ini bertempat di Hotel T- More dan menghadirkan Pdt. Dr. Andreas Yewangoe, Dr. Ahmad Atang dan Pdt. Emmy Sahertian, M.Th sebagai narasumber.

Menurut Yewangoe, kehidupan beragama di Indonesia sedang terjadi pergeseran-pergeran dalam hubungan-hubungan lintas agama. Di kalangan umat Kristen, gereja-gereja yang tergabung dalam PGI dalam realitasnya tidak seindah cita-citanya. Kasus “pencurian domba”, baptisan ulang dstnya, masih terjadi.  Sementara dalam agama Islam terjadi perseteruan antara Arab Saudi (yang sunni) dan Iran (Syiah). ketegangan ini juga terasa, bukan saja terhadap Syiah melainkan juga terhadap Ahmadiyah yang telah ratusan tahun ada. Sejak era Orde Lama, Orde Baru hingga pada masa transisi dari Orde Baru ke Reformasi terjadi konflik berkepanjangan bernuansa agama di berbagai tempat. Bahkan hingga sekarang ketegangan-keteganan masih nyata dalam kaitan dengan pembangunan rumah-rumah ibadah.

Namun bagi Yewangoe, semua itu masih belum mengganggu kerukunan yang selama ini dijunjung tinggi. Masih banyak orang yang mempergunakan akal sehat sehingga tidak terbawa dalam emosi-emosi yang bisa menimbulkan petaka kemanusiaan, tandasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *