MAJELIS SINODE GMIT GELAR PERTEMUAN LINTAS AGAMA PASCA TRAGEDI KEMANUSIAAN DI SABU

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Pasca peristiwa penyerangan dan pembacokan terhadap 7 orang murid SD negeri Seba, di kabupaten Sabu-Raijua, Selasa, 13/12 yang lalu, sejumlah langkah baik secara internal maupun eksternal telah ditempuh Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) guna merawat NTT yang aman dan damai. Langkah-langkah tersebut diantaranya: Rapat konsolidasi seluruh pendeta di dua klasis di Sabu, kunjungan kepada korban, rapat koordinasi dengan seluruh pendeta se-Kupang daratan dan TTS, suara gembala, pernyataan pers, mengutus tim konseling, mengirim bantuan diakonia, rapat koordinasi dengan komunitas-komunitas pemuda serta pertemuan dengan pihak pemerintah dan keamanan.

Lebih dari itu, terkait perayaan natal dan tahun baru yang kian dekat, Jumat, 16/12, Majelis Sinode GMIT kembali menggelar pertemuan bersama pimpinan-pimpinan agama di kota Kupang guna membangun visi yang sama. Hadir dalam tatap muka tersebut,  Jalaluddin Bethan (Sekjen MUI NTT), Indra Effendi (Ketua Magabudhi NTT), Pdt. Rio Fanggidae (Ketua FKUB Kota Kupang), Pdt. Yeremia Priyanto (Sekretaris FKIPGK), Pdt. Daniel Nenotek (ketua FKUB Kabupaten Kupang), Pdt. Ngakan Nyoman (Pimpinan GBI Roh), Pdt. Yes Hede (Pimpinan GMMI) dan Pdt. Jack Karmany (Ketua PGIW NTT) serta sejumlah pendeta GMIT.

Ketua sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon yang memimpin rapat tersebut selain menjelaskan langkah-langkah yang telah ditempuh GMIT terkait peristiwa di Sabu, tetapi juga melalui tatap muka itu GMIT bermaksud membuka ruang perjumpaan bagi semua pimpinan umat beragama untuk saling mengenal dan berbicara terbuka tentang berbagai kekuatiran dan kecurigaan yang mungkin saja ada. Melalui pertemuan ini kata Ketua Sinode, “Kami ingin NTT yang damai. Itu visi gereja kami. Kami mau memastikan gereja sebagai tanda rahmat dalam segala situasi. Itu yang kami telah wujudkan di Sabu di mana teman-teman pendeta mengunjungi saudara-saudara Muslim, itu membesarkan hati kami. Itu juga yang mesti dilakukan agama-agama. Di tengah keterbatasan pemerintah dan kepolisian menjamin keamanan, kita perlu bahu-membahu menciptakan ruang untuk  bertemu dan saling menguatkan. ”

Sekjen MUI NTT, Jalaluddin Bethan dalam kesempatan ini menyatakan rasa prihatin dan mengutuk tindakan penyerangan dan kekerasan di Sabu. Ia juga menyampaikan klarifikasi terkait 9 orang jamaah tabligh yang sebelumnya dipulangkan dari Kupang. Ditegaskan bahwa ke-9 orang tersebut bukan kelompok radikal seperti informasi yang beredar. Mereka merupakan aliran dalam Islam yang berkeliling  sambil berdakwah mengajak umat untuk intens menjalankan  ibadah shalat dll.

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan yakni:  Merawat NTT sebagai rumah bersama bagi semua entitas, mewaspadai segala bentuk adu domba antar umat beragama, pimpinan dan umat beragama saling memperkuat relasi, pimpinan umat beragama menjadi sumber informasi yang bertanggungjawab dan menahan diri membagikan informasi di media sosial yang provokativ, serta menghindarkan diri dari ibadah-ibadah yang demonstratif  yang dapat memicu kegelisahan dan keresahan umat lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *