MEMBACA KISAH RAHAB DARI PERSPEKTIF FEMINIS

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Pengalaman masa kecil di sekolah minggu memengaruhi cara orang memahami kisah-kisah alkitab hingga dewasa. Apa yang diketahui di masa kanak-kanak kadang menjadi fondasi kebenaran mutlak padahal belum tentu benar seluruhnya. Kisah Rahab dalam Yosua 2 misalnya, banyak kali dipahami tidak lebih dari perempuan pelacur yang berbaik hati kepada dua orang pengintai Israel.

Seiring perkembangan ilmu teologi, para teolog menolong pembaca awam memahami teks-teks alkitab secara lebih luas. Dalam diskusi berkala yang dilaksanakan oleh Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), Rabu 16 November 2016, di Aula Fakultas Teologi UKAW, kisah Rahab dibaca kembali dan ditelaah untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat memperluas perspektif teologis terutama dari sisi kaum perempuan.

Dr. Ira Mangililo, Pengajar dari Universitas Kristen Satya Wacana, selaku pemateri mengajukan satu pertanyaan menarik: Apa yang mendorong perempuan seperti Rahab sehingga ia meninggalkan rajanya sendiri dan bekerja sama dengan orang luar (asing)? Apakah ada penindasan internal yang dialami oleh pelacur ini? Melalui analisis sosio historis, Dr. Ira yang menyebut diri sebagai anak So’e ini, tiba pada kesimpulan bahwa Yeriko sebagai wilayah takhlukan membayar pajak yang tinggi kepada Mesir. Tentu saja pajak tersebut dibebankan kepada rakyat terutama kaum marginal yang di dalamnya para pelacur.  Selain itu, raja dan para elit juga menuntut pajak yang sama guna memperkaya diri sehingga beban yang diderita kaum kelas bawah sungguh berat.

Kondisi ini mendorong Rahab melakukan perlawanan. Meski seorang diri, dengan cerdas ia bekerja sama dengan kedua pengintai Israel sekaligus dengan cerdik ia mengelabui para prajurit yang datang kerumahnya mencari kedua pengintai tersebut. Pada situasi genting tersebut ia sukses memainkan perannya sebagai tokoh kunci yang memegang kendali kekuasaan baik terhadap rajanya maupun terhadap kedua pengintai. Di satu sisi raja tidak bisa menghukumnya karena sebagai pelacur bukan urusannya mencari tahu identitas pelanggannya. Tetapi pada saat yang sama tatkala pintu gerbang ditutup agar pengintai tidak bisa meloloskan diri, kedua pengintai ini tidak berdaya sama sekali sebab keselamatan mereka bergantung pada belas kasihan sang pelacur.

Pada titik inilah seorang pelacur seperti Rahab “bermain cantik” untuk membebaskan dirinya dan kaum tertindas lainnya dari penindasan penguasa lalim. Tidak berhenti di situ, dengan menjamin keselamatan kedua pengintai Israel, ia menuntut jaminan yang sama kepada kedua pengintai tersebut baik terhadap dirinya maupun keluarganya. Melalui perjanjian dengan kedua pengintai yang ia bebaskan, Rahab membuka masa depan bagi dirinya dan seisi keluarganya. Di jaman dimana kaum laki-laki sering memahami diri sebagai penjaga keselamatan kaum perempuan, kisah Rahab menunjukan fakta terbalik yang mencengangkan. Rahablah yang mampu menjaga keselamatan kaum laki-laki paling tidak ayah dan sauadara laki-lakinya kalau seandainya mereka masih hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *