MENGELOLA KONFLIK DALAM GEREJA – Pdt. Isakh Hendrik, M.Si

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk pribadi maupun sosial dan terikat dalam relasi dengan ciri dan karakter masing-masing yang sudah tentu memiliki perbedaan. Oleh karena perbedaan-perbedaan inilah maka seringkali terjadi konflik karena tidak saling menerima satu sama yang lain. Pemicu utama konflik ialah perbedaan, berlanjut menjadi pertengkaran, pertentangan dan kemudian bisa berpotensi menjadi konflik yang lebih serius, bahkan bisa berlanjut menjadi kekerasan. Konflik sekecil apapun kelihatannya tidak boleh dianggap sepele, tetapi juga tidak harus disikapi secara berlebihan. Kita bisa mengelolah sikap kita dalam menghadapi konflik dengan mengetahui dan memahami akar masalahnya.

Ada dua hal utama yang berhubungan dengan manusia dan konflik; Pertama, konflik muncul karena seseorang tidak terbiasa menyikapi perbedaan dengan tepat. Manusia diciptakan dengan sifat dan watak yang berbeda, sehingga cara dan hidup setiap orang tidaklah selalu sama. Kesadaran akan adanya keragaman dan perbedaan ini yang mutlak diperlukan untuk kelangsungan setiap hubungan baik perssonal maupun sosial. Kedua, timbulnya konflik juga dipicu oleh sikap egoistis, selalu membenarkan pendapat sendiri dan merasa diri paling benar sehingga kurang bahkan tidak mau menerima dan mengakui pendapat orang lain.

Di dalam pola komunikasi dan relasi mulai dari lingkungan keluarga, gereja, maupun masyarakat sikap seperti ini sering kita temukan. Berbeda pendapat sering dianggap sebagai ancaman bahkan serangan terhadap eksistensi seseorang sehingga tak jarang orang tidak lagi mencerna isi/substansi kritikan tetapi langsung menanggapinya secara subyektif dan emosional. Itulah sebabnya maka cara pandang setiap orang terhadap konflik akan menentukan pula cara ia menghadapi dan mengelolah konflik tersebut.

Gereja merupakan miniatur Kerajaan Allah di dunia bergumul dengan masalah-masalah konflik dan kekerasan, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal gereja terus menata persekutuannya yang terdiri dari berbagai latar belakang manusia yang berbeda dengan pikiran, sikap dan prilaku yang berbeda pula  tidak luput dari konflik. Selain itu gereja juga memiliki tanggung jawab untuk terlibat secara aktif membangun perdamaian dimana gereja hadir dengan segala konteks masyarakatnya (garam dan terang dunia). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak ada gereja sebagai komunitas orang beriman yang menyambut Kerajaan Allah dalam iman kepada Yesus Kristus yang kebal terhadap konflik. Gereja bukan sorga dan tempat berkumpulnya para malaikat yang sempurna tanpa cacat cela. Gereja merupakan kumpulan orang-orang yang terus menerus mengalami proses pengudusan hingga mencapai tahap yang sempurna kettikan Tuhan Yesus datang kembali. Kalau begitu persoalannya adalah bagaimana mengelolah konflik dalam gereja dengan baik, tepat dan benar sehingga semua anggota gereja dapat menikmati kasih Kristus dan saling berbagi kasih itu sehingga bisa terus bertambah, bertumbuh dan berbuah. Konflik yang dikelolah dengan baik pasti produktif bagi pribadi maupun kelompok dan organisasi, sebaliknya konflik yang tidak dikelolah dengan baik bahkan disepelehkan atau diabaikan pasti kontra produktif.

 

APA ITU KONFLIK

Konflik berasal dari kata Latin CONFLIGERE yang berarti ‘percikan api’ (sparking fire). Pada zaman dahulu orang membuat api dengan cara menggesekan dua batu, lalu terciptalah percikan api, itulah konflik. Percikan api itu tidak berbahaya bagi dirinya sendiri jika ia dikelolah dengan baik akan menciptakan api unggun termasuk memasak nasi, mendidikan air dan manfaat lainnya. Namun sebaliknya jika tidak dikelolah atau dikelolah dengan tidak tepat dan benar maka percikan api tersebut dapat membakar rumah, menghanguskan makanan, dll.

Terdapat banyak defenisi tentang konflik dari para ahli yang saya simpulkan sebagai berikut :

–          Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki tujuan/sasaran yang berbeda.

–          Konflik adalah suatu pertentangan yang bersifat alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok karena memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan kebutuhan.

–          Konflik juga adalah suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negatif mempengaruhi pihak lain dengan melakukan tindakan yang mengganggu perasaan, fisik maupun mental.

Bila sudah terjadi konflik maka akan terjadi beberapa dimensi perubahan yakni:

–          Dimensi personal: perubahan yang terjadi dalam diri seseorang baik aspek mental maupun spiritualnya, misalnya mudah tersinggung, marah dan sensitif.

–          Dimensi relasional: tingkat kepercayaan terhadap pihak lain menurun, muncul prasangka dan stereotype, pola relasi dan komunikasi berubah.

–          Dimensi struktural: perubahan dalam struktur dan sisitim. Misalnya seorang ketua umum sebuah organisasi cenderung mengambil ahli semua keputusan.

–          Dimensi kultural: perubahan secara meluas dan membentuk norma, kebiasaan. Misalnya sikap dan pandangan negatif yang akhirnya dianggap sebagai norma.

Kita juga harus membedakan antara konflik dan kekerasan karena keduanya berbeda. Konflik bisa positif dan konstruktif bila dikelolah dengan baik, sebaliknya konflik negatif bila salah mengelolahnya. Kekerasan adalah tindakan, perkataan, sikap, struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental dan menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara maksimal.

 

KONFLIK DALAM GEREJA

Gereja sebagai organisasi spiritual mengajarkan cinta kasih dan perdamaian. Namun tidak dapat disangkali bahwa di dalam gereja juga terjadi konflik dan kekerasan, langsung maupun tidak langsung. Hal ini terjadi karena gereja adalah kumpulan dari orang-orang yang berdosa yang sedang dalam proses pengudusan yang tidak dapat menghindari diri dari konflik. Konflik dalam gereja bisa terjadi karena masalah-masalah yang berkaitan dengan organisasi, seperti program kerja, konflik antar pribadi, antar kelompok-kelompok dalam gereja, bisa juga antar anggota dalam kelompok, konflik pimpinan gereja dan tokoh jemaat, konflik pendeta dan pengurus gereja bahkan tak jarang terjadi konflik antar pendeta,dsb.

Pada dasarnya spirit konflik yang terjadi dalam gereja berakar pada tiga hal, yaitu kesombongan, ketidaksetiaan dan kekuasaan. Bila ini dibiarkan maka akan merusak iklim bergereja, gairah, persekutuan, relasi dan komunikasi. Kondisi seperti ini sama dengan tanah yang kering dan gersang, perlu disirami air hujan anugerah dan pembajakan ulang supaya menjadi tanah yang subur.

Bila dicermati dengan seksama ada beberapa penyebab munculnya konflik dalam gereja:

  1. Perbedaan persepsi. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang apa yang diterima oleh panca inderanya (melihat, mendengar, meraba, merasa, dan mencium).
  2. Perasaan yang terganggu. Seringkali konflik dalam gereja juga disebabkan oleh adanya perasaan yang terganggu karena ucapan-ucapan yang menyinggung perasaan sesama anggota dalam gereja. Dalam gereja yang terdiri dari bermacam-macam tempramen dan karakter seringkali perkataan, perilaku dan sikap seseorang dapat memicu terjadinya konflik.
  3. Persaingan keinginan atau kepentingan. Seringkali kita temukan ada orang-orang yang memaksakan kinginannya dalam gereja sehingga bisa menimbulkan konflik.
  4. Kurangnya penguasaan terhadap aturan gereja.
  5. Konsistensi dalam menegakan peraturan gereja
  6. Kurangnya penghayatan yang sungguh terhadap Firman Tuhan.

Ada beberapa gejala atau tanda Munculnya Konflik dalam Gereja

Ketika di dalam gereja terjadi konflik yang berkepanjangan dan tidak dikelolah dengan baik dan sehat,maka akan terjadi dampak yang negatif bagi gereja:

  1. Berkurangnya kehadiran jemaat dalam kebaktian/ibadah. Ini dapat dilihat secara kasat mata melalui kehadiran jemaat dalam Kebaktian Utama, ibadah RT, Kategorial, dst. Jemaat tidak merasa nyaman dalam lingkungan gereja yang tidak kondusif. Banyak kasus perpindahan anggota jemaat ke ‘gereja lain’ bisa juga karena faktor ini.
  2. Partisipasi Jemaat menurun. Apabila gereja penuh dengan konflik maka berdampak pada penurunan partisipasi jemaat dalam aktifitas pelayanan gereja.
  3. Pelaksanaan Program Pelayanan tidak dapat berjalan dengan baik dan lancar (dalam konteks GMIT Panca Pelayanan).
  4. Muncul banyak keluhan. Hal ini sebagai akibat dari reaksi ketidakpuasan terhadap kondisi pelayanan yang terjadi di dalam gereja.
  5. Sistem kepemimpinan dalam gereja mengalami gangguan sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

LEVEL-LEVEL KONFLIK

  1. Problem Solving. Pada level ini mereka yang terlibat konflik sadar akan situasi mereka sehingga ada keinginan untuk menyelesaikan konflik. Karena itu fokus mereka yang berkonflik pada masalah (problem oriented), bukan pada pribadi yang berkonflik (person oriented). Ada keterbukaan dari pihak yang berkonflik untuk berdialog mencari jalan keluar bersama.
  2. Disagreement (ketidaksepahaman). Pada level ini terjadi ketidaksepahaman antar pihak yang berkonflik sehingga tercipta jarak, tidak ada komunikasi dan cenderung untuk melindungi diri (self protection). Akibatnya persoalan/konflik terus mengambang dan membuka ruang dan kesempatan berkembangnya persoalan lebih besar lagi.
  3. Kompetisi. Pada level ini pihak berkonflik cenderung untuk berupaya menang dan mengalahkan lawannya (win/lose). Akibatnya terjadi pemaksaan kehendak dan sulit untuk menemukan solusi.
  4. Fight/Flight. Level ini adalah kelanjutan dari level tiga dimana konflik sudah mengarah kepada tindakan kekerasan. Masing-masing pihak kehilangan rasa saling percaya sehingga berupaya untuk saling menyingkirkan. Satu-satunya jalan adalah menyingkirkan orang/pihak yang dianggap lawan, bila perlu keluar dari persekutuan. Ini tentu akan mengancam persekutuan gereja (perpecahan).
  5. Situasi Sulit/krisis. Pada level ini konflik tidak dapat lagi dikontrol dan merupakan krelanjutan dari level empat, di mana pihak pihak yang terlibat konflik berupaya menghancurkan lawannya dengan melakukan tindakan kekerasan, baik secara verbal maupun non verbal.

 

MENGELOLAH KONFLIK

Beberapa solusi dalam mengelolah Konflik :

  1. Fokus untuk menyelesaikan masalah (problem Solving). Pengeloaan konflik yang baik dan benar adalah dengan fokus pada masalah. Dengan demikian kita dapat melakukan identifikasi tentang akar yang menjadi penyebab persoalan serta mencari langkah yang tepat untuk menyelesaikannya. Langkah ini memang membutuhkan waktu tetapi dapat menyelesaiakan akar persoalan.
  2. Memperbaiki relasi. Pasca penyelesaian masalah harus diikuti dengan memperbaiki hubungan antara pihak yang berkonflik untuk memulihkan luka batin, kebencian dan dendam. Ini yang disebut sebagai rekonsiliasi, dimana pihak yang berkonflik duduk bersama, membuka hati dan saling memaafkan dan akhirnya menerima satu sama lain dan tidak ada diksi ‘menang-kalah’.
  3. Perubahan sistem. Seringkali sistem bisa menjadi penyebab konflik, maka langkah selanjutnya harus merubah sistem yang tidak menolong dalam persekutuan, seperti aturan, keputusan, dsb.

 

PERSPEKTIF TEOLOGIS TENTANG KONFLIK:

  1. Melihat konflik dalam pemahaman penciptaan Allah, bahwa manusia diciptakan Allah segambar denganNya dan diberi mandat untuk mengelolah kehidupan ini menurut kehendak-Nya, yaitu kehidupan yang penuh damai sejahtera.
  2. Melihat konflik dalam pemahaman dosa manusia. Dosa selalu mengintip dalam setiap konflik, di manamembuat konflik menjadi sesuatu yang menghancurkan persekutuan Kristen. Konflik itu tidak selamanya dosa, tetapi konflik yang tidak dikelolah memberi kesempatan kepada pihak-pihak yang terlibat menjadi berdosa.
  3. Melihat konflik dalam pemahaman penebusan Kristus, di mana dengan kuasaNya Kristus melakukan rekonsiliasi antara manusia berdosa dengan Allah.
  4. Melihat konflik dalam konteks persekutuan Kristen. Dalam pemahaman iman sebagai persekutuan (gereja), kita harus melihat konflik sebagai suatu sarana untuk bertumbuh dan dibangun ke arah kedewasaan di dalam Kristus. Dalam konflik kita dapat belajar kembali membentuk sinergi, memadukan perbedaan menjadi satu keutuhan yang lebih solid.

 

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa, di dalam gereja konflik tidak dapat dihindari, konflik menjadi bahagian dari dinamikan pelayanan gereja. Menghindarinya adalah tindakan tidak cerdas dan kekanak-kanakan, memperjuangkannya untuk sekedar memenangkannya adalah tindakan egois dan tidak membangun apa-apa, mengelolahnya supaya menjadi proses belajar yang membangun hubungan antar pribadi dan komunitas, itulah yang harus dilakukan supaya gereja terus bertambah, bertumbuh dan berbuah.

 

BEBERAPA USUL SARAN

  1. Visi dan misi pelayanan gereja mesti terus disegarkan agar baik para pelaku pelayanan maupun jemaat selalu memiliki semangat, kesegaran, komitmen dan motivasi. Bagaimana mempersembahkan pelayanan yang terbaik bagi jemaat (misalnya melalui khotbah/renungan kita, kualitas perkunjungan pastoral bagi jemaat dengan segala problematika hidup mereka).
  2. Adanya program pembekalan yang terencana bagi para pelaku pelayanan (presbiter) berhubungan dengan pengetahuan dan ketrampilan pelayanan maupun secara organisatoris. Menurut saya hal ini penting karena para presbiter adalah orang-orang yang setiap waktu ada bersama dengan jemaat dengan segala kebutuhan pergumulan mereka, membutuhkan banyak sekali ‘jawaban gereja’ melalui para hambanya. Konteks Paulus dengan sumber daya dan dana yang besar sangat memungkinkan hal ini.
  3. Program penyegaran spiritualitas bagi para presbiter sangat penting di erah yang sangat ‘melelahkan’ ini. Gereja kita (GMIT) identik dengan ‘gereja sidang/rapat’ di mana banyak energi tersita sehingga kita juga membutuhkan waktu untuk menyepi bersama Tuhan merefleksikan hidup dan pelayanan kita sehingga kita tidak mengalami kekeringan/kelesuhan secara spiritual. (hati dan otak perlu disegarkan untuk mengatasi godaan konflik).
  4. Wadah pastoral gereja perlu dikembangkan untuk menjangkau secara spesifik persoalan-persoalan yang dihadapi jemaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *