Menuju Kematian – Matius 27:57-66

Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? (Roma  6:3)

Pernah dilakukan lomba sepeda lambat. Lomba dimulai dengan para peserta berjajar di garis start. Setelah aba-aba diberikan, mereka harus mulai mengayuh sepeda masing-masing tapi bukan untuk secepatnya sampai ke garis finish, melainkan justru berlambat-lambat selambat mungkin. Siapa yang paling lambat tiba di garis finish, dengan syarat kaki tidak boleh turun dari pedal sepeda, maka dia pemenangnya. Ternyata para peserta mengaku bahwa perlombaan ini amat sulit karena peserta harus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh dari sepeda dan tidak terlalu cepat tiba di garis finish.

Perlombaan ini seperti gambaran kematian. Upaya untuk menjauhkan diri dan selambat mungkin sampai pada kematian selalu diusahakan manusia. Walau semua orang tahu bahwa ia sedang berjalan menuju kepada kematian. Akan tetapi dengan harapan untuk tidak secepatnya berhadapan dengan kematian. Sayangnya usaha ini sulit karena semakin manusia berusaha untuk berlambat-lambat menghadapi kematian, semakin manusia disusahkan oleh hidup.

Saudaraku, Tuhan Yesus telah mengalahkan kematian saat Ia harus masuk ke lembah maut. Itu artinya maut dan kematian telah kalah dan bukan lagi hal yang menakutkan bahkan justru kematian adalah pintu kesempatan yang melaluinya kita bisa bertemu dengan Tuhan. Di dalam pemahaman iman ini, seharusnya kematian tidak lagi dijadikan sebagai hal yang menakutkan melainkan hal yang menyenangkan sebab memungkinkan kita bertemu dengan Allah. Kematian adalah pintu yang melaluinya kita memiliki kesempatan untuk beralih dari tubuh yang terbatas menuju tubuh yang sempurna.

Kematian Kristus adalah jaminan untuk tidak lagi mengkawatirkan dan takut terhadap. Ini bukan sekedar janji sebab Kristus yang bangkit adalah tanda kemenangan-Nya atas kematian. Maka setiap pengikut Kristus mesti berjalan dengan pemahaman iman bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Tidak perduli berapa panjang umur tapi yang penting adalah menjalani hidup untuk dan di dalam Kristus supaya kematian yang pasti terjadi pada setiap orang menjadi kematian yang indah karena mati di dalam Kristus. Dengan begitu barulah kematian kita menjadi kematian yang cantik dan menguntungkan. Sebab di balik pintu kematian ada Yesus yang menanti kita dengan tangan terbuka sambil berkata, “Marilah masuk anak-Ku.” (LM)

Wise Word : Kadang lambat juga baik. Itu adalah kesempatan untuk menikmati perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *