Pembukaan Sidang Sinode XXXIII tahun 2015

Ziarah pelayanan yang telah berlangsung dan berkesimbungan dalam pentas sejarah bukan perjalanan yang mudah dan tidak mulus karena gereja selalu berhadapan dengan berbagaipersoalan yang menuntut gereja memberikan kontribusi bagi dunia di mana gereja berada. Persoalan yang dihadapi seputar kemiskinan, kebodohan, human trafficking, kekerasan anak dan perempuan, masalah pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, masalah ketidakadilan, dan berbagai persoalan sosial telah menjadi bagian perhatian tugas dan panggilan gereja yang tidak boleh diabaikan.

Hal ini dikatakan oleh Pdt. Robert Litelnoni, Ketua Majelis Sinode GMIT pada pembukaan Persidangan Sinode XXXIII di Rote Ndao pada Minggu, 20 September 2015. Menurut Pdt. Robert, berbagai persoalan yang digumuli oleh gereja bukan hal yang mudah untuk diatasi dalam waktu satu periode. “Namun ini tetap disadari sebagai bagian dari panggilan gereja yang tidak boleh diabaikan. Gereja perlu sehati, bergandengan tangan, menyatukan derap langkah dan bermitra dengan berbagai pihak untuk mengatasi persoalan tanpa kehilangan jati diri sebagai gereja dalam kompleksitas persoalan yang membelenggu masyarakat dimana gereja hadir.”

Tema yang dipilih untuk periode pelayanan 4 tahun ke depan : Yesus Kristus Adalah Tuhan (Filipi 2:11). Sub Tema : Berdasarkan Kasih Kristus, Kita Bertolong-tolongan Menanggung Beban Kehidupan Sebagai Sesama Anggota Gereja, Masyarakat, Bangsa dan Negara.

Menjelaskan akan tema yang dipilih, Pdt. Robert mengatakan bahwa pernyataan Yesus Kristus adalah Tuhan bukan berarti GMIT mau bersikap ekslusive tanpa perduli dengan lingkungan sekitar gereja tapi pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan mendorong gereja untukkeluar dengan semangat terhadap semua pihak sebagaimana paggilan gereja yang benar. “Momentum persidangan gereja penting sebagai ruang partisipasi bersama untuk memberi perhatian pada realitas sosial bersama lalu memutuskan hal yang strategis bagi GMIT sebagai gereja yang tidak statis tapi selalu dinamis dan bergerak,” tegas Pdt. Robert.

Hadir dalam acara pembukaan, Menko Polhukam, Luhut Binsar Panjahitan. Ia menyerukan agar gereja berperan untuk mencerdaskan jemaat dengan memberi penjelasan bahwa pemerintahsedang ada dalam proses transformasi untuk merubah bangsa menjadi lebih baik. “Peranan gereja adalah membuat persatuan bisa terjadi. Sinode buatlah warna untuk gereja berperan mencerdaskan dan tidak hanya berkhotbah saja. Gereja harus memainkan peranan untuk mencerdaskan bangsa. Gereja tidak boleh hanya bertikai di dalam,” seru Luhut Panjaitan. Lebih jauh ia memberi apresiasi kepada GMIT yang didengarnya belum pernah bertikai. “Jangan sampai ambisi politik ada dalam gereja karena gereja bukan partai politik. Gereja adalah rumah Tuhan untuk membawa peran Allah sebagai lentera pembangunan dimana manusia ada.”

Persidangan Sidang Sinode XXXIII dibuka secara resmi oleh Luhut Binsar Panjaitan, didampingi Wakil Gubernur NTT, Ketua Majelis Sinode GMIT, Bupati Rote Ndao, Ketua Panitia Persidangan Sinode XXXIII, dan beberapa pejabat pemerintah.

Rangkaian pembukaan Persidangan Sinode XXXIII diakhiri dengan ibadah bersama yang dipimpin oleh Pdt. Petronela Loy Bogha. Dalam khotbahnya Pdt. Petronela mengatakan bahwa pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan lahir dari pengalaman iman manusia. Kristus yang adalah Tuhan tidak mempertahankan keilahian-Nya dan memilih mengalami pengosongan diridan menjadi manusia. Bagi Pdt. Petronela, pengakuan akan Kristus adalah Tuhan, mengingatkan gereja untuk mengoreksi diri benarkah Yesus Kristus adalah Tuhan bagiku, Tuhan bagi GMIT dalam seluruh peziarahannya? “Pertanyaan ini untuk mempertanyakan kemurnian gereja yang menjadikan Kristus sebagai Kepala Gereja. Apa yang Kristus lakukan di dalam pengosongan diri-Nya, seharusnya dilaksanakan gereja. Setiap orang percaya harus menempatkan diri sebagaiKristus bagi sesama dan menjadikan sesama sebagai Kristus. Titik kritis bagi GMIT adalah apakah kala orang melihatmu, ia menemukan Kristus dalam dirimu ataukah Kristus hilang sama sekali?” tanya Pdt. Nella.

Menurut Pdt. Nela, bagi gereja tidak ada jalan lain untuk membuktikan Kristus adalah Tuhan Tuhan selain meneladani Kristus dengan cara mengosongkan diri, menyangkal diri dan taat di jalan Allah. “Gereja perlu melepaskan diri dari kelekatan dengan reputasi, gereja perlu melepaskan diri dari rutinitasnya dan menjadi terbuka. Gereja tidak hanya boleh bermain pada gagasan tapi pada kebenaran yang hakiki yakni Yesus Kristus,” tandas Pdt. Nela.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *