Perhadapan BPPS UPPMS – Saat Pembaharuan Komitmen Pelayanan

Minggu, 12 Juni 2016, di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana dilangsungkan perhadapan Badan Pembantu Pelayanan Sinode dan Unit Pelayanan Majelis Sinode.

Mereka yang diperhadapkan antara lain:

Badan Pertimbangan dan Pengawasan Pelayanan (BP3S) : Pdt. Emr. Marthen Lada, M.Si (Ketua merangkap anggota), Pdt. Yos Boeky, (Sekretaris merangkap anggota), Pdt. Emr. Alfred Luase, Sm.Th (Anggota), Pdt. Emr. Yakobis Adu, Sm.Th (Anggota), Pnt. Herman Banoet (Anggota).

Badan Diakonia Gereja Masehi Injili di Timor (BDG) : Pdt. Emr. Daniel Nenot’Ek, S.Th (Ketua), Pdt. Jes Djo Naga, M.Th (Sekretaris), Pdt. Sarlinda Angal-Kisek, M.Si (Bendahara), Pdt. Dra. Naomi Rosalin Hotty-Day (Sekretaris Bidang Pelayanan RS, LP dan Rutan), Pdt. Selvince Kale, Sm.Th, SE (Sekretaris Bidang Umum), Pnt. Jifta Babys-Djunina (Sekretaris Bidang Investasi).

Panitia Tetap Tata Gereja (PTTG): Pdt. Yos Asbanu, M.Si (Ketua merangkap anggota), Pdt. Batsyeba Fanggidae-Nunuhitu, M.Th (Sekretaris merangkap anggota), Pdt. Emr. Messakh J. Karmany, S.Th (Anggota), Pdt. Emr. Maria E. Bire-Manuain, S.Th (Anggota), Pnt. Dedy Manafe, SH, M.Hum (Anggota).

Badan Perencana, Penelitian dan Pengembangan Pelayanan (BP4S): Pdt. Yuda Hawu Haba, M.Th (Ketua), Pdt. Delfiana K. Poyck-Snae, S.Th, M.Pd.K (Sekretaris).

Badan Advokasi Hukum dan Perdamaian : Pdt. Marieta N.G. Sahertian, M.Th (Ketua), Pnt. Dorce W. Puling-Bolla, SH (Sekretaris).

Badan Pendidikan GMIT : Pdt. Elisa Maplani, S.Th, M.Si (Ketua), Pdt. Sally Bulan, S.Th (Sekteraris).

Badan Pemberdayaan Aset dan Pengembangan Ekonomi GMIT : Pdt. Yaksih Nuban Timo, M.Si (Ketua), Pdt. Soleman Uli Lomi, S.Th (Sekretaris).

 

Unit Pembantu Pelayanan MS (UPP)

UPP Personil : Ketua Merangkap Sekbid Administrasi Penempatan dan Mutasi : Pdt. Jenny C. De Fretes-Lulan, S.Th, Sekbid Penilaian Kinerja Karyawan : Pdt. Felipus Ukat, Sm.Th, Sekbid Pengembangan Personil : Pdt. Dina W. Dethan-Penpada, M.Th, Sekbid Pastoral : Pdt. Laazar P.F. de Haan, Sm.Th.

UPP Kategorial : Ketua merangkap Sekbid PAR : Pdt. Richard B. Mengi, S.Th, Sekbid Perempuan : Pdt. Pao Ina Ngefak-Bara Pa, S.Th, Sekbid Pemuda-Kaum Bapak : Pdt. Jahja A. Millu, S.P, S.Th.

UPP Fungsional, Profesional, Liturgi dan Muger : Ketua merangkap Sekbid Liturgi dan Muger : Pdt. Johny E. Riwu Tadu, S.Th, M.Sn, Sekbid Fungsional dan Profesional : Pdt. Joseph Manobe, S.Th

UPP Umum dan Kerumahtanggan : Pdt. Gutten A.K. Selan, S.Th

UPP Komunikasi, Informasi dan Perpustakaan : Ketua merangkap Sekbid Komunikasi Informasi : Pdt. Ambrosius Menda, S.Th, Sekbid Perpustakaan : Pdt. Abner S. Wabang, S.Th

UPP Teologi dan PAG : Ketua merangkap Sekbid PAG : Pdt. Maria A. Litelnoni-Johannes, MA. Sekbid Teologi : Pdt. Nikolas St. E. Lumba Kaana, M.Th

UPP Perbendaharaan : Ketua merangkap Sekbid Keuangan : Pdt. Rebeca R.M. Logo-Mozes, S.Th, Sekbid Penggajian : Pnt. Lambertus J. Mboeik, SE, Sekbid Kolportase : Pdt. Erna Manafe-Saudale, S.Th, Sekbid Harta Milik : Pdt. Imanuel Bangngu, S.Th

UPP Hubungan Oikumenes dan Kemitraan : Pdt. Emille R. Hauteas, S.Th

UPP Tanggap Bencana Alam dan Kemanusiaan : Pdt. Pao Ina Ngefak-Bara Pa, S.Th

Peneguhan dan perhadapan BPPS dan UPPMS dilakukan dalam sebuah kebaktian yang dipimpin bersama oleh Pdt. Agustina Oematan-Litelnoni sebagai liturgos dan Pdt. Maria Evi Ratu-Pada sebagai pengkhotbah. Dalam khotbah yang diambil dari bacaan Ulangan 30:11-20, Pdt. Evi menekankan tentang pembaharuan komitmen yang harus dilakukan oleh BPPS dan UPPMS yang diteguhkan dan diperhadapkan. “Bagian pembacaan ini adalah pidato perpisahan Musa dengan umat Israel sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian. Dalam pidatonya, Musa mengingatkan Israel tentang perbuatan Allah terhadap Israel dan ajakan kepada bangsa itu untuk berhati-hati dengan dosa. Untuk itu Musa memperhadapkan dua pilihan yakni berkat yang menyertai ketaatan dan kutuk yang menyertai ketidaktaatan. Kemudian Musa meminta Israel untuk memilih setia kepada Allah,” kata Pdt. Evi. Selanjutnya ia memberi penggambaran bahwa Israel memberontak kepada Tuhan karena itu mereka dihukum selama 40 tahun di padang gurun dan seluruh generasi pertama dibinasakan di gurun dan tidak diijinkan masuk Kanaan. “Musa mengajak Israel untuk mengingat akan hal itu dan tidak lagi melakukan hal yang sama. Musa menantang Israel agar kembali hidup taat kepada Tuhan. Apalagi negeri yang akan dimasuki adalah negeri yang penuh kemakmuran dan kekayaan karena itu Israel harus waspada supaya tidak terpengaruh dan meninggalkan Allah. Ajakan untuk memilih kehidupan dan kematian, mengingatkan bahwa mereka yang hidup sesuai jalan Tuhan akan beroleh keberuntungan sementara mereka yang tidak akan memperoleh kutuk. Ketetapan ini selamanya akan berlaku di masa depan. Maka Musa mengingatkan bangsa itu akan apa yang harus mereka lakukan ketika tiba di tanah perjanjian yakni tidak boleh kembali melakukan kesalahan yang pernah dilakukan dan jatuh pada dosa yang sama. Karena sangat mungkin  di tanah Kanaan, di tanah yang penuh susu dan madu akan menawarkan banyak hal nikmat. Umat yang sebelumnya budak akan menjadi bangsa yang merdeka. Di Kanaan, mereka akan mengalami kemajuan dan dalam situasi kemakmuran itu, godaan untuk menyimpang menjadi sangat mungkin untuk terjadi. Dalam situasi makmur umat cenderung tergoda untuk mengabdi pada illah lain sehingga tidak hidup di jalan Tuhan. Di tapal batas negeri, umat Israel melakukan pembaharuan komitmen dengan Allah dan pembaharuan komitmen itu tidak boleh ditunda. Pembaharuan komitmen itu juga punya konsekwensi bagi diri dan keturunan mereka,” khotbah Pdt. Evie.

Lebih jauh Pdt. Evi mengajak semua BPPS dan UPPMS untuk menyediakan waktu guna berefleksi tentang penyertaan Tuhan dalam perjalanan pada masa kemarin. “Ketika tiba di tapal batas untuk memasuki tanggung jawab yang baru, baik sekali untuk berhenti sejenak dan mengenang kembali penyertaan Tuhan yang telah memimpin hingga titik tertentu. Lalu belajar setia dalam dalam hal yang kecil, belajar tentang ketidaksetiaan dan pelanggaran kita di hari yang lalu, belajar dari kesalahan di masa lalu dan bergerak menuju masa depan supaya kita jangan melakukan kesalahan yang sama,” kata Pdt. Evi. Selanjutnya ia mengajak jemaat untuk jangan menyimpang dari kehendak Tuhan. “Banyak kali kita akan diperhadapkan pada tawaran yang luar biasa jadi apabila tidak berhati-hati, kita akan tergoda. Jabatan dapat menjadi ilah yang disembah. Kedudukan, posisi, harta, sex, kekerasan, materi dan kenikmatan dunia dapat menjadi illah yang disembah di negeri yang akan didududki. Hidup jauh dari Tuhan akan membuat kita menjadi tidak tahan dan tergoda dengan segala cobaan dunia. BPPS dan UPPMS akan melakukan pembaharuan perjanjian dengan Tuhan bahwa mereka akan setia kepada tugas dan tanggung jawab yang baru di tempat yang baru. Mereka akan melakukan pembaharuan perjanjian dengan Tuhan bahwa mereka tidak akan menyimpang dari kehendak Tuhan. Mereka tidak akan mengulang kesalahan masa lalu dan tidak akan menyimpang. Sementara tawaran pilihan akan kehidupan atau kematian, Tuhan memberi manusia kesempatan untuk memilih jalan berkat atau jalan kutuk. Namun sekaligus Tuhan menawarkan keselamatan melalui memilih kehidupan. Maka apapun tantangan, apapun kelemahan, Tuhan telah menetapkan kita menjadi kawan sekerjanya. Pilihlah jalan kehidupan sekalipun banyak resiko sebab keberutungan hidup akan diperoleh,” kata Pdt. Evi.

Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Evi mengajak semua untuk memperbaharui komitmen untuk setia, taat pada Tuhan, mengasihi Tuhan dan tidak memperillah hal lain dalam hidup.

Pada kesempatan itu, Ketua Majelis Sinode GMIT memberikan suara gembala. Dalam suara gembalanya, Pdt. Mery Kolimon mengatakan bahwa Sidang Sinode 33 di Rote memberi amanat dan rekomendasi untuk dikerjakan MS. Maka struktur dibentuk demi melayani fungsi yang dimanatkan, termasuk pembentukan, pengukuhan dan perhadapan BPPS dan UPPMS. “Hari ini kita mengukuhkan dan memperhadapkan teman-teman yang memberi diri untuk melayani. Sebagai MS kami menyadari bahwa ada banyak hal perlu dibenahi dalam kehidupan bergereja kita. Evaluasi pada persidangan sinode memberi signal bahwa kita mesti bersedia menjadi gereja yang berubah. GMIT diutus oleh Allah untuk menjadi tanda rahmat bagi NTT. Sampai hari ini kita masih bergumul tentang kemiskinan, gizi buruk, perdagangan orang, kerusakan lingkungan hidup, kekeringan, perubahan iklim dan dampaknya. Pertanyaan bagi agama-agama di NTT, termasuk GMIT adalah bagaimana gereja telah menjadi tanda rahmat Allah bagi damai sejahtera umat dan alam?” kata Pdt. Mery.

Selanjutnya ia berbagi tentang sejumlah nilai yang menjadi pegangan dalam pelayanan di periode ini. “Kami berkomitmen untuk menjadi tim yang bekerjasama dalam semangat kesetaraan. Mereka yang diperhadapkan adalah hamba Tuhan dan bukan hamba MS atau hamba siapapun. Kami memberi diri karena terpanggil oleh Tuhan untuk bersama melayani di periode ini dan berkomitmen untuk menjadi tim yang bekerja dalam semangat kesetaraan dan semangat untuk saling melengkapi, transparan, akuntable, hemat, tidak mentolerir korupsi, dan kekerasan. Kamiekslesias perikorisis yakni masing-masing memberi diri terpanggil untuk Tuhan sendiri. Tidak menjadi hamba siapapun tapi memberi diri secara sukarela untuk saling melengkapi. Posisi MS sangat strategis untuk mendorong nilai masyarakat. Kami berkomitmen untuk tidak saja melakukan tugas rutin tapi mengembangkan tugas yang berdampak pada gereja dan masyarakat. Kami berkomitmen untuk tidak mentolerir korupsi, gratifikasi, dll. Seperti Abraham yang hendak diberi hadiah oleh raja Melkisedek, Abraham menolak. Kami sudah berkomitmen untuk tidak akan memperkaya diri melalui tugas dan kepercayaan yang diberikan gereja. Masih dalam semangat yang sama, kami berkomitmen untuk hidup hemat, berugahari dan menunjukkan solidaritas kepada sesama yang mengalami kesulitan seperti kekeringan. Tahun ini tahun susah, lumbung yang biasanya penuh tidak lagi. Jemaat tidak saja gagal panen tapi juga gagal tanam tapi dalam kesusahan mereka, jemaat memberi yang terbaik kepada para pendeta maka gereja harus berkomitmen untuk memberi yang terbaik untuk jemaat,” ungkap Pdt. Mery.

Pdt. Mery juga mengingatkan semua elemen gereja tentang komitmen yang berhubungan dengan politik dimana hak politik dijunjung tapi Majelis Sinode gereja berkomitmen untuk tidak memanfaatkan fasilitas lembaga guna mengggalang dukungan bagi kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Ia berharap nilai ini juga dijaga di kasis dan jemaat-jemaat.

Pdt. Mery juga menyatakan harapan tentang semua pelayan yang bekerja di Kantor Sindoe untuk menyelesaikan perbedaan dengan cara berkomunikasi santun dan hormat. Baginya perbedaan mesti diselesaikan dengan berkomunikasi santun dan hormat. “Nilai ini kiranya menjadi nilai bersama di jemaat. Cita-cita kita adalah mendampingi jemaat untuk mandiri dalam daya dan teologi sekaligus menjadi gereja misioner sebagai gereja yang terutus menjadi tanda rahmat bagi masyarakat dan semesta. Kami telah menyepakati nilai bersama maka kami mohon doa jemaat di seluruh GMIT untuk mendoakan kami untuk pelayanan bersama majelis sinode di periode ini dengan dukungan kritis dan produktif. Terima kasih jemaat yang telah memberikan pendeta terbaik mereka untuk melayani di kantor sinode. Terima kasih kepada keluarga yang bersedia berkomitmen bersama dalam mengemban amanat yang dibebankan,” kata Pdt. Mery

Di bagian terakhir, Pdt. Mery mengingatkan jemaat sebagai umat yang hidup dalam masyarakat majemuk, untuk menghargai umat muslim yang sedang menjalani masa puasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *