YAYASAN PELITA HARAPAN BANTU BEBERAPA SEKOLAH GMIT JADI SEKOLAH MODEL

SINODEGMIT.OR.ID-KUPANG. Ditengah kemelut rendahnya mutu pendidikan sekolah-sekolah GMIT yang jumlahnya mencapai 500-an, Rabu, 29/8-2016 Ir. Budhi T. Yuwono, MM, M.Pd, dan Imanuel Hendra dari Yayasan Pelita Harapan didampingi Wem Nunuhitu, Pembina Yapenkris Nehemia bertemu Ketua sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon, membahas rencana MoU yang baru antara kedua lembaga mengenai peningkatan mutu sekolah-sekolah GMIT.

Sebelumnya, 4 Sekolah Dasar dan 1 SMP dan  1 SMA di kota Kupang milik GMIT, selama 13 tahun, sejak 2010 hingga  2023  diambil-alih pengelolaanya oleh Yayasan Pelita Harapan melalui MoU dengan Sinode GMIT menjadi sekolah model sedangkan asset berupa gedung tetap dimiliki Yapenkris. Kelima SD itu antara lain, SD Bonipoi 3, 4, 5, 6 dan SMP dan SMA Naikoten 1. Kini sekolah-sekolah itu beralih nama menjadi Sekolah Lentera.

Ir. Budhi Yuwono, dalam pertemuan ini menyatakan kesediaan Yayasan Pelita Harapan untuk mengembangkan sekolah-sekolah model serupa di tempat-tempat lain di GMIT. Bila sebelumnya pengelolaan sekolah diambil-alih oleh Yayasan Pelita Harapan, ke depan sebaliknya,  sekolah tetap dikelola oleh Yapenkris namun manejemen dan penguatan kapasitas sumber daya sekolah akan diintervensi oleh Yayasan Pelita harapan. “Selain mengelola sekolah-sekolah yang telah dipercayakan kepada kami tetapi juga ada sekolah yang kami bantu. Sekolah tetap dibawah wewenang Yapenkris, cuma kami bantu manejemennya. Guru-guru kita akan kirim ke Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk tinggal dan belajar dalam jangka waktu tertentu, bisa 1 tahun, bisa 4 tahun, dengan harapan ketika kembali mereka bisa menjadi agen perubahan. Untuk mengisi kekosongan selama guru-guru menjalani study di UPH kami akan kirim guru-guru pengganti,”terang Asisten Rektor UPH ini.

Menanggapi tawaran ini, ketua sinode GMIT, Pdt. Mery L.Y. Kolimon menyampaikan terima kasih kepada UPH yang mau terlibat dalam upaya pembenahan dan peningkatan kualitas sekolah-sekolah yang berada dalam naungan Yapenkris. Menurut Pdt. Mery, perencanaan sekolah model di beberapa tempat merupakan amanat persidangan sinode ke-33 di Rote kepada Majelis Sinode GMIT yang akan dikerjakan dalam periode kepemimpinannya.

Mengenai siapa-siapa yang berkesempatan study di UPH, ketua sinode GMIT mengusulkan agar guru-guru yayasanlah yang dikirim, pasalnya menurut Pdt. Mery, bila beasiswa diberikan kepada guru-guru PNS, mereka terikat dinas, sehingga bisa jadi ketika pulang study mereka dimutasikan ke tempat lain. “Lebih baik kita berkonsentrasi pada guru-guru yayasan, sehingga nantinya mereka loyal pada visi pendidikan kita. Saya melihat kebutuhan kita bukan hanya menarik minat orang dengan fasilitas dan mutu pendidikan yang baik tetapi pada pendidikan karakter. Karena ini sekolah Kristen kita ingin identitas dan karakter Kristen yang kuat di dorong ke sana,”tandas Pdt. Mery.

Seusai pertemuan tersebut, Ir. Budhi Yuwono bersama Pdt. Sally Bulan, dari BPP Pendidikan mengunjungi beberapa sekolah di Tarus dan Soe. Hasil perkunjungan ini diharapkan menjadi pertimbangan bagi kedua lembaga untuk membuat MoU yang baru.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *