KETUA MAJELIS SINODE GMIT TERHENTAK NTT TERMISKIN, GUBERNUR NTT : MISKIN ASAL TIDAK RAWAN PANGAN

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan NTT di peringkat ke-3 provinsi termiskin di Indonesia ditanggapi beragam oleh para pemimpin di daerah ini. Di satu sisi, gereja-gereja menanggapinya sebagai persoalan genting, namun di sisi lain pemerintah malah meresponnya dengan enteng seolah-olah kemiskinan itu biasa dan wajar. Asal tidak rawan pangan, asal tidak ada yang tinggal di kolong jembatan, asal tidak ada pengemis, kemiskinan tidak perlu dibesar-besarkan apalagi diperdebatkan. Demikian pernyataan beberapa pejabat NTT yang beredar di berbagai media. Silang pendapat mengenai kemiskinan itu juga mencuat saat Ketua Majelis Sinode GMIT dan Gubernur NTT menyampaikan pesan Natal dalam acara Natal Oikumene yang di gelar pada Jumat, 6 Januari 2017 di restoran Milenium Ballroom.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery L.Y. Kolimon memandang predikat NTT sebagai provinsi termiskin ke-3 di Indonesia merupakan sebuah cambuk bagi masyarakat NTT terutama gereja-gereja untuk segera melakukan otokritik dan evaluasi  terhadap upaya-upaya pembangunan di daerah ini. Dalam suara gembalanya, ketimbang melemparkan tanggungjawab pengentasan kemiskinan pada pemerintah, Pdt. Mery Kolimon dengan cerdas mengalihkan fakta kemiskinan pertama-tama sebagai tugas dan tanggungjawab agama-agama terutama gereja-gereja.

“Kita mengawali tahun ini dengan sebuah hentakan,  berita dari BPS NTT mengenai kenyataan NTT masih merupakan provinsi ke 3 termiskin di Indonesia. Ini sebuah cambuk untuk kita semua. Termasuk bagi agama-agama di NTT. Sementara kita membangun gedung-gedung gereja yang besar, pada saat yang sama kita masih merupakan provinsi termiskin. Kita mesti bertanya kepada diri sendiri sebagai gereja dan pemerintah apa relevansi perayaan natal kita dengan keadaan masyarakat kita. Karena itu kami harap kita terbuka bersama melakukan otokritik terhadap perencanaan pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembangunan selama ini supaya ada perubahan yang mendasar dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Pdt. Mery.

Namun pada saat yang sama pernyataan gubernur NTT Drs. Frans Leburaya terkait predikat provinsi termiskin ke-3 cukup mengejutkan. Dalam pesan natal yang disampaikannya seusai suara gembala Ketua Majelis Sinode GMIT, gubernur NTT terkesan tenang dengan predikat provinsi termiskin. Menurutnya, kemiskinan  itu bagian dari tantangan hidup di dunia. Gubernur beralasan nasib NTT mungkin lebih baik seandainya input untuk setiap provinsi mendapat porsi yang sama.  Yang paling penting bagi gubernur adalah tidak ada rawan pangan. “Saat ini kita masih menghadapi berbagai tantangan. Itulah dunia. Itulah hidup, selalu ada tantangan termasuk kemiskinan yang masih kita hadapi. Kemarin kepala BPS lapor kepada saya kalau angka kemiskinannya menurun. Ya, saya bilang terimakasih. Tapi yang paling penting bagi saya adalah hampir tidak ada orang teriak rawan pangan selama 3-4 tahun belakangan.”

Pernyataan gubernur Drs. Frans Leburaya yang lebih mementingkan masalah rawan pangan ketimbang realitas kemiskinan yang mencolok di NTT, ibarat lirik lagu pop rohani yang seringkali dinyanyikan anak-anak sekolah minggu: “Biar ku miskin ilmu, uang ku tak punya, asal ku punya Yesus, senang selamanya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *