PESTA PUTERI-PUTERI FLOBAMORA

Sebuah Catatan Perjalanan (Oleh: Pdt. Mery Kolimon)

PESTA PUTERI-PUTERI FLOBAMORA

Sebuah Catatan Perjalanan

Oleh: Pdt. Mery Kolimon

Sejak Agustus 2016 yang lalu, salah satu koordinator persekutuan ekumene buruh migran Indonesia (BMI) asal NTT di Hongkong, Pdt. Marthen Djari, menghubungi saya untuk merayakan natal dengan warga NTT di negeri ini. Dia membujuk saya dengan berkata: “Ibu Ketua Sinode mesti datang kunjungi anak-anak NTT, termasuk GMIT, yang jumlahnya ribuan di sana. Mereka pasti akan sangat senang dikunjungi. Ibu juga bisa melihat bagaimana keadaan warga gereja kita di sana”. Pendeta Djari sendiri adalah warga GMIT yang telah pensiun sebagai pendeta TNI. Alumni Akademi Teologi Kupang ini datang mengundang kami bersama isterinya, Ibu Helena Djari, staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hongkong. Beliau berdua memberi informasi bahwa jumlah BMI di sana berjumlah sekitar 150.000 orang. Di antara jumlah itu terdapat banyak BMI perempuan asal NTT.

Selanjutnya kami berhubungan melalui whats app. Beliau selalu mengatakan: “Ibu harus datang”. Panitia Natal kemudian mengundang saya dan Bapak Uskup Agung Ende secara resmi untuk menghadiri natal itu. Turut diundang artis asal Kupang yang sedang terkenal, Mario Klau, bersama menejernya. Selain itu datang pula Dr. Danial Yusmic Foekh, Ketua Pengurus Perwakilan GMIT di Jakarta. Sebenarnya Panitia sudah berusaha juga mengundang Pak Gubernur untuk datang. Mereka juga mengundang Bapa Uskup Atambua. Namun baik Pak Gubernur maupun Bapa Uskup Atambua berhalangan.

Tanggal 6 Januari 2017 petang saya terbang ke Hongkong dan tiba di sana dini hari tanggal 7 Januari. Panitia membelikan tiket untuk kami. Di bandara saya dijemput oleh Pdt. Aris Illu, Pdt. Marthen Djari, dan seorang buruh migran asal NTT, Ibu Dina Lumba Kaana. Pdt. Aris adalah alumni Institut Injili Indonesia (I3) Batu Malang yang melayani buruh migran di Hongkong. Pendeta asal Pulau Pantar, Kabupaten Alor itu, sudah melayani lebih dari 20 tahun di sana bersama isterinya yang juga adalah seorang pendeta asal Sulawesi. Mereka merintis dan memimpin salah satu jemaat Gereja Misi Kasih Indonesia (GMKI) di Hongkong. Mereka menyebutnya GMKI Hongkong atau GMKIH. Kebanyakan warga jemaat gereja ini adalah warga GMIT.

Saat dijemput kedua pendeta dan Ibu Dina di bandara Hongkong, air mata saya tak tertahankan. Saya membayangkan akan bertemu dengan para buruh migran Indonesia (BMI): perempuan-perempuan hebat, para pahlawan keluarga. Mereka bekerja banting tulang di negeri orang, mengumpulkan dollar Hongkong untuk dikirim dalam bentuk rupiah kepada keluarga di kampung halaman. Uang itu dipakai untuk menyekolahkan anak-anak mereka, membangun rumah di kampung, membuka usaha bagi keluarga, bahkan untuk kolekte ke gereja dan bagi sumbangan pembangunan gedung-gereja gereja. Gaji kami sebagai pendeta, juga berasal dari uang yang mereka kirim dari tanah rantau. Pdt. Djari benar, saya harus datang. Gereja perlu pergi menjenguk para (BMI), untuk berdoa bersama mereka dalam perjuangan mereka, mendengar cerita mereka, dan untuk  berterima kasih kepada perempuan-perempuan hebat itu, para pahlawan keluarga, para pahlawan devisa, juga pahlawan-pahlawan gereja.

Kami Senang Mama Datang”

Pada tanggal 7 setelah beristirahat sejenak, saya dijemput makan siang oleh Pdt. Aris. Turut bergabung belasan perempuan buruh migran, warga GMIT. Mereka memeluk ku erat dan berkata: “Terima kasih mama datang lihat kami. Apakah Pak Gubernur juga akan datang? Kami rindu orang-orang tua di kampung datang lihat kami. Kalau mama dan bapak-bapak pemerintah datang, kami senang”. Saya kemudian mendengar bahwa para buruh migran NTT di Hongkong merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah. Mereka membandingkan Pemda Jawa Tengah yang rutin menjenguk BMI asal daerah mereka. Pemda di sana bahkan melakukan banyak terobosan untuk kesejahteraan BMI dan keluarga mereka. Misalnya bekerja sama dengan UGM untuk studi lanjut para BMI melalui jalur UT. Juga membuka pelatihan-pelatihan usaha bagi keluarga buruh migran agar dapat memanfaatkan dengan baik hasil kerja para BMI itu. Saya sendiri berpikir bahwa hal-hal seperti ini sebaiknya diupayakan juga oleh Pemda NTT untuk kesejahteraan para BMI kita, melalui kerja sama dinas-dinas terkait di daerah, maupun dengan Undana, UKAW, Unwira, dsb.

Diskusi Human Trafficking: They Are the Real Fighters

Panitia telah menyusun jadwal yang padat untuk kehadiran kami selama di sana. Selepas makan siang, kami langsung menuju ke sebuah gedung gereja di Hongkong, Solomon Porch, namanya. Pendeta yang melayani di sana adalah Pdt. Slamet, seorang berlatar belakang Cina Jawa. Beliau sudah beberapa kali mengunjungi Kupang, khususnya Amarasi Timur, untuk apa yang mereka sebuat mission trip. Ketika kami tiba di sana dengan taksi yang mengantar kami, telah berkumpul para aktifis buruh migran Indonesia. Saya bertemu dengan sejumlah kawan aktifis yang sudah mengenal masalah buruh migran di NTT dengan baik, misalnya mbak Nurul dari IOM; Eny Lestari yang adalah seorang pengacara terkenal yang berjuang untuk hak-hak hukum BMI di sana; Sri Ngatin dari Serikat Buruh Migran; suster-suster yang membuka shelter untuk BMI yang bermasalah; dan sejumlah pastor dan pendeta yang melayani para buruh migran.

Saya dan bapak uskup Ende diminta untuk berbicara mengenai apa yang sudah dan sedang dilakukan gereja di NTT terkait isu perdagangan orang yang sangat memperihatinkan. Yang menjadi moderator percakapan kami adalah Romo Heri, seorang pastor muda asal Flores yang melayani secara khusus untuk isu buruh migran di Hongkong. Masing-masing kami memulai dengan mengatakan kami datang untuk belajar. Sebagai pemimpin gereja, kami mau menyerap sebanyak-banyaknya agar kami menata pelayanan kami lebih baik lagi. Kami memaparkan fakta bahwa di tahun kemarin lebih dari 50 orang buruh migran asal NTT meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, terutama oleh kekerasan yang mereka alami. Kami juga bercerita tentang apa yang sedang kami lakukan di gereja masing-masing untuk masalah ini. Di babak diskusi kami mendapat banyak masukan berharga dari para aktifis itu. Bapak uskup mengatakan bahwa gereja masih amatiran dalam memberikan tanggapan terhadap masalah kemanusiaan yang sangat besar ini. Saya mengakui bahwa GMIT juga masih sangat terbatas dalam tanggapannya, namun kami sudah mulai dengan langkah-langkah strategis yang kami harapkan dapat memberi sumbangan bagi penyelesaian masalah.

Ibu Cynthia, seorang utusan gereja Protestan Filipina yang melayani para buruh migran mengatakan bahwa banyak kali gereja belum melihat pelayanan kepada para BM sebagai tugas gereja. Kalau ada pastor atau suster yang melayani itu hanya dilihat sebagai hobby yang bersangkutan. Padahal ini terkait masalah kemanusiaan yang sangat penting. Dia juga mendorong gereja-gereja agar lebih serius bergumul dengan masalah kemanusiaan ini. Dia mengapresiasi cerita saya bahwa sekolah teologi di Kupang (FTh UKAW) mulai terlibat dengan isu ini, baik melalui penelitian, maupun melalui kuliah-kuliah di kelas dan pendampingan terhadap korban.

Mbak Nurul dari IOM menggarisbawahi bahwa NTT itu unik. Dalam pengalamannya dalam pendampingan di Batam, baik korban, pelaku, dan penolong adalah sama-sama orang NTT. Pada saat yang sama perhatian Pemda sangat minim, padahal amanat UU adalah jelas bahwa tugas pencegahan dan penanganan TPPO adalah tugas negara. Menurut dia, gugus tugas di NTT tidak berjalan. Dia sendiri membayangkan kalau misalnya tak ada gereja di NTT, dan para pemimpin gereja seperti para suster dan pastor tidak berpihak kepada korban, situasi pasti akan lebih buruk. Dia juga mendorong agar gereja turut memfasilitasi lahirnya peraturan-peraturan desa (Perdes) yang berpihak kepada BM. Dia belajar dari pengalamannya di IOM, bahwa Perda terbatas perannya, sedangkan yang lebih efektif adalah Perdes yang langsung berkaitan dengan masyarakat di akar rumput. Dia menceritakan pengalaman kerja sama mereka dengan Keuskupan Atambua untuk maksud itu untuk save migration. Dia juga meminta agar gereja menjadi apa yang dia sebut “migrant resource center”. Ini sebenarnya tugas negara, menurutnya. Namun selama negara belum melakukannya, demi kemanusiaan, gereja perlu mengambil peran itu sambil mendorong negara melakukan tugasnya.

Ibu Eny Lestari, pengacara buruh migran, berterima kasih kepada gereja yang telah menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada bara buruh migran selama ini. Dia menyesalkan sejumlah elit agama di tanah air, yang lebih sibuk mengurus isu ISIS daripada berpihak kepada para korban perdagangan orang. Dia juga meminta gereja agar mengajak kawan-kawan Muslim lebih luas lagi.  Banyak di antara kawan Muslim yang pikirannya terbuka juga (open minded). Dia meminta agar gereja tidak lelah mencari dan melibatkan kawan-kawan Muslim dalam gerakan ini. Isu lain yang dia angkat adalah terkait pentingnya melibatkan penyintas/korban sebagai juru bicara perjuangan. Dia berkata: “At the end of the day, they are the real fighters”. Mereka adalah para pejuang yang sesungguhnya. Keterlibatan gereja dan badan-badan peduli lainnya mestinya memfasilitasi peran para BMI sendiri untuk perjuangan dan bukan mengambil alih peran tersebut.

Pendeta Samuel menutup percakapan itu dengan mengatakan sekolah-sekolah teologi, baik Katolik maupun Protestan di Asia, perlu mengajarkan mata kuliah Pastoral Migran. Dengan cara itu gereja membangun dasar teologis yang kuat untuk keberpihakan pada isu ini dan ketrampilan pastoral yang dibutuhkan dalam pendampingan.

Setelah hari yang panjang itu, kami makan malam di restaurant Cina yang lezat. Salah satu kemajuan Hongkong sebagai kawasan industri adalah juga industri makanan yang luar biasa. Dalam kelompok yang lebih kecil, dengan kawan-kawan pendeta dan pastor, sekitar 6 orang, saya dan Uskup Ende, menikmati Chinese Food yang memanjakan selera setelah bicara berat tentang hidup yang sulit. Di sekitar meja makan itu, saya belajar lebih mengenal kawan-kawan pelayan gereja dan kemanusiaan itu. Dari mereka juga kami belajar mengenai kehidupan para BMI asal NTT di tempat tersebut. Selepas makan, kami kembali masing-masing ke penginapan. Saya menginap di KJRI, di dekat Victoria Park yang terkenal itu. Uskup menginap di salah satu penginapan gereja Katolik di sana. Menginap di tempat yang sama dengan saya, Mario Klau, artis muda yang kedatangannya telah dinantikan oleh para BMI asal NTT.

Jangan Ada Lagi Korban!

Hari Minggu 8 Januari adalah hari yang padat bagi saya. Pagi hari saya memimpin kebaktian di GMKIH. Jemaat itu berbakti di salah satu ruangan KJRI. Ruang tempat kebaktian itu penuh sesak oleh sekitar 300 orang peserta kebaktian, kebanyakan perempuan. Memang Hongkong hanya mau menerima TKI perempuan dari Indonesia. Jumlah 150 ribuan TKI di Hongkong karena itu didominasi oleh TKW.

Kebanyakan yang berbakti di GMKIH yang saya lihat pagi itu adalah BMI. Kami berdoa dengan seorang ibu BMI asal Sumba yang baru saja mendengar kabar duka dari tanah air. Puteranya, seorang mahasiswa di Kota Kupang, dan menantunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Kupang. Dia menangis sepanjang kebaktian. Meskipun begitu, dia tetap menjalankan tugas sebagai pemandu lagu dalam kebaktian itu.

Selepas kebaktian di sana, kami mampir sebentar menikmati makan siang, lalu buru-buru berangkat ke tempat perayaan Natal di Sing Yin Secondary School di daerah Kowloon. Sebelum pergi ke Kowloon, saya mampir sebentar ke Victoria Park. Hari itu seperti hari-hari Minggu lainnya, taman itu penuh sesak dengan para BMI. Di sana mereka berpesta, bermain musik, berjualan buku dan makanan. Suasananya tak ubah seperti pasar di tanah air. Setelah hari-hari kerja yang padat, akhir minggu, terutama pada hari Minggu, para BMI dari berbagai daerah di Indonesia itu tumpah ruah di Victoria Park, bercengkerama dengan kawan-kawannya.

Saat tiba di tempat perayaan Natal, bapak uskup, saya, dan Mario disambut dengan tarian daerah Belu. Suasana Flobamora terasa kuat dalam busana yang dikenakan para BMI, dalam musik, serta tarian yang ditampilkan. Kami dapat melihat bahwa para BMI asal NTT itu sangat senang menyambut kehadiran kami, apalagi ada Mario, artis idola mereka. Ada yang membisiki saya bahwa ketika Mario bersaing untuk audisi di salah satu stasiun televisi nasional, dia mendapatkan banyak sekali dukungan sms dari para BMI asal NTT di Hongkong.

Kebaktian Natal kami didahului oleh diskusi panel terkait perdagangan orang di NTT. Hadir dalam kesempatan itu, sejumlah aktifis BMI, termasuk non-Kristiani yang hadir dalam disekusi sehari sebelumnya. Diskusi itu mendapat perhatian yang besar dari para BMI asal NTT. Meskipun perlindungan BM oleh pemerintah Hongkong sangat kuat, para BMI asal NTT prihatin dengan apa yang terjadi pada banyak buruh migran di tempat lain. Mereka bertanya apa yang dilakukan oleh pemerintah dan gereja untuk menekan jumlah korban perdagangan  di NTT. Mereka mengatakan tidak ada seorangpun yang mau meninggalkan kampung halamannya. Kalau mereka ke Hongkong atau ke berbagai tempat di luar daerah atau luar negeri, itu karena mereka tidak punya banyak pilihan di kampung halaman untuk membiayai hidup, terutama anak-anak mereka. Mereka berharap semua pihak melakukan upaya terbaik untuk melindungi para BMI dari kejahatan kemanusiaan. Mereka mohon jangan ada lagi korban meninggal atau disiksa di tahun ini di tahun-tahun akan datang. Setelah diskusi yang berlangsung sekitar 1,5 jam, kami memulai kebaktian Natal.

Be Strong Sisters and Flobamora Will Be Strong!

Kebaktian Natal itu dikemas dengan sangat meriah oleh panitia, yang terdiri dari para pendeta dan pastor yang melayani di sana, serta para BMI. Saya kembali berkhotbah dalam kebaktian itu, sedangkan bapak uskup penyampaikan suara gembala. Ada saat-saat di dalam refleksi natal itu kami semua yang hadir tertawa bersama. Banyak kali kami mengusap air mata: mensyukuri kasih Tuhan, dan menumpahkan kerinduan pada tanah air dan semua yang ditinggalkan untuk perjuangan di tanah rantau.

Saya tersentuh bahwa doa syafaat disampaikan oleh 4 ibu BMI dari berbagai latar belakang agama dan denominasi. Seorang ibu berjilbab dari Ende menjadi salah satu pembaca doa untuk bangsa dan negara yang adil dan makmur. Pak Yusmic Ketua Pengurus Perwakilan GMIT di Jakarta juga didaulat untuk menyampaikan pesan dan kesan kepada para BMI asal NTT.

Sambutan paling meriah diberikan kepada Mario. Setiap kali Mario menyanyi, para BMI seperti diaduk-aduk emosinya. Suaranya yang indah menghibur mereka dengan lagu-lagu NTT. Selepas kebaktian mereka menyanyi, menari, makan bersama. Semua larut dalam pesta bahagia. Beberapa dari mereka buru-buru pulang sebab terikat pekerjaan mereka. Namun tak sedikit yang tinggal sampai larut menikmati kebersamaan dengan kami yang datang dari kampung halaman.

Di sela-sela acara itu, seorang gadis datang berkata pada saya: “Terima kasih bapa dan mama datang lihat kami. Kami bukan anak tiri, bukan? Kedatangan bapa mama membuktikan kami diperhatikan.” Saya memeluknya dan berkata: “Kalian berharga bagi Flobamora. Terima kasih untuk semua yang telah kalian lakukan untuk pulau-pulau kita”.

Baik di dalam khotbah saya di jemaat GMKIH, maupun dalam diskusi tentang perdagangan orang, dan dalam renungan Natal, saya katakan pada saudari-saudari saya para BMI asal NTT di Hongkong. Dalam berbagai pergumulan, mereka beruntung berada di negeri di mana hak-hak mereka dilindungi. Mereka juga beruntung sebab ada banyak kesempatan bagi mereka untuk belajar. Saya mendorong mereka menggunakan berbagai kesempatan untuk melengkapi diri melalui berbagai kesempatan belajar, baik pada jalur formal, maupun informal. Dunia aktifis di Hongkong sangat kuat. Para buruh migran perempuan ini bisa menjadikan kesempatan berada di Hongkong juga untuk memperkuat identitas sebagai elemen masyarakat sipil, yang kelak akan berguna untuk pemberdayaan masyarakat di tanah air. Saya katakan: “Jadilah kuat saudariku, maka Flobamora akan menjadi kuat. Jadilah kuat kawanku, maka Indonesia akan menjadi kuat! (Be strong sisters and Flobamora will be strong. Be strong my friends and Indonesia will be strong!)”

Hari itu saya pulang ke penginapan dengan lelah, namun puas. Kami telah berjumpa dengan puteri-puteri Flobamora di tanah rantau. Kami telah menjawab kerinduan mereka untuk dikunjungi. Besok siangnya saya berkemas pulang ke tanah air dengan membawa pesan yang kuat: BMI asal NTT telah memberi banyak sumbangan untuk kesejahteraan keluarga-keluarga mereka di kampung halaman. Mereka bahkan secara terbuka maupun diam-diam telah menjadi berkat bagi gereja dan pemerintah, melalui devisa dan kolekte yang mereka berikan. Gereja dan negara perlu melakukan upaya terbaik melindungi mereka dari kejahatan.

Catatan dalam perjalanan di Garuda menuju Kupang, 10-1-2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *