SUARA GEMBALA KETUA MAJELIS SINODE GMIT PADA IBADAH SYUKUR NATAL, TAHUN BARU DAN SYUKURAN PASTORI

Jumat, 13 Januari 2017

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Saya menyapa Bapak-Ibu sekalian, Orang Tua, Saudara-saudara saya, Anak-anak saya di dalam nama dan dalam kasih Yesus Kristus Tuhan kita. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus untuk kehadiran kita semua pada malam hari ini dalam momen syukur natal dan tahun baru serta syukuran pastori  majelis sinode Gereja Masehi Injili di Timor, saya menyapa dengan penuh kasih teman-teman Majelis Sinode, para gembala lingkup klasis dan jemaat, teman-teman yang datang dari tempat yang jauh, orang-orang tua kami, tokoh-tokoh jemaat dan masyarakat di NTT di GMIT, juga para pimpinan Majelis Sinode periode-periode lalu, om Dekker Mauboi dan tante Inge juga om Yes Sabuna. Ada oma Arnoldus, mama Fobia, Bapak Mes Beeh, Bapak Jack Karmany, Bapak Wem Nunuhitu, om Bobi Litelnoni dan semua kawan-kawan sekerja Allah dari generasi ke generasi. Saya juga menyapa kawan-kawan dari Badan Pembantu Pelayanan dan Unit Pembantu Pelayanan lingkup sinodal yang hadir malam ini, para pendeta emeritus, para pendeta jemaat, seluruh warga jemaat yang bersedia hadir berbakti bersama, bersyukur bersama malam hari ini. Saya menyapa juga tetangga-tetangga kami, dari kompleks Badan Pemerikasa Keuangan RI, ada tetangga kiri kanan, muka belakang, juga keluarga Nggoek di belakang yang mempersembahkan tanah ini untuk di atasnya didirikan pastori Majelis Sinode, panitia dan Majelis Jemaat Ebenhaeser Oeba, singkatnya semua hadirin termasuk sahabat-sabahat umat lintas agama, para komunitas korban perdagangan orang, tragedi 65 dan semua yang Tuhan Yesus kasihi.

Malam ini di momen syukur natal dan tahun baru kita berkumpul bersama untuk berkata,  terima kasih Tuhan. Terimakasih Tuhan, untuk kebaikan Tuhan memelihara kita sebagai gereja-Nya. Tuhan sungguh baik dalam keberhasilan dan kegagalan, gereja kita terus dipelihara dalam berbagai keterbatasan, Dia berkenan  memakai kita sebagai kawan sekerja-Nya. Dan tahun ini, 2017 kita memasuki usia 70 tahun Gereja Masehi Injili di Timor. 2017 akan menjadi tahun Yobel bagi GMIT. Kita akan meniupkan  terompet pembebebasan. Kita akan bergerak bersama-sama, menari bersama dalam tarian transformasi dan pembebasan karena ini tahun Yobel. Dan tahun 2017 juga adalah 500 tahun gereja reformasi. Menjadi kesempatan untuk merayakan Yobel juga menegaskan identitas kita sebagai gereja yang terus berubah dan memperbaharui diri, dan pada saat yang sama hari ini kami Majelis Sinode GMIT periode ini merayakan dan mensyukuri 1 tahun kesempatan memimpin di GMIT. 10 Januari menerima tugas pelayanan,  hari ini 13 Januari.

Jika tahun pertama adalah tahun kita mengenal medan pelayanan, masa transisi, masa konsolidasi, kami mohon doa bapak ibu sekalian, tahun kedua adalah tahun bergerak cepat, bergerak tepat dalam pimpinan Tuhan untuk transformasi, untuk pembebasan, untuk pembaharuan, sebagaimana kita memaknai tahun Yobel GMIT moment setengah milenium gereja reformasi dalam konteks di mana  NTT sebagai wilayah pelayanan GMIT dan sebagian NTB masih bergumul dengan banyak masalah. Kita membuka lembaran baru tuhun 2017 dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS)  kami provinsi termiskin ke 3 di kindonesia. Kita bergumul dengan masalah perdagangan orang,  NTT menjadi salah satu provinsi yang menghasilkan banyak korban perdaganagan orang, kita bergumul dengan gisi buruk, kerusakan lingkungan, ada banjir bandang di Bima (NTB) yang meminta perhatian kita semua  dan berbagai persoalan sosial dan ekologis lainya. Dalam situasi seperti itu pokok-pokok eklesiologi kita memberi arah yang jelas, gereja terbuka bekerja sama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk kemanusiaan untuk kebaikan semesta tapi posisi gereja adalah berpihak kepada kaum tertindas dan alam yang tidak dapat bersuara bagi dirinya sendiri.

Dalam kesempatan ini kita bersyukur juga bahwa mengawali tahun 2017 pekerjaan pembanguan rumah pastori MS GMIT yang baru dapat diselesaikan. Luar biasa. Rencana 2 tahun, hanya 1 tahun lebih. Rencana 1 Milyar tetapi  realisasi 800 juta. Saya mendengar banyak cerita yang dilakukan dari kerelaan panitia. Ada diskusi-diskusi yang kadang-kadang hangat di jemaat Ebenhaser Oeba tapi semua berkomitmen, anggota jemaat, pendeta, panitia, Pak Vivo Ballo dan kawan-kawan berkomitmen memberi yang terbaik bagi pembangunan pastori ini. Terpujilah Tuhan untuk semuanya itu. Bapak, Ibu, kami melihat di seluruh wilayah pelayanan GMIT biar jemaat hidup susah di rumah-rumah gubuk tapi pastori mereka rumah gereja mereka selalu yang terbaik. Kita pergi ke daerah yang paling sulit di NTT di sana biasanya gedung yang terbesar dan terindah adalah rumah gereja. Dan rumah tinggal yang terbaik itu adalah pastori para pendeta. Dan saya bilang kepada kawan-kawan pendeta setiap kali menahbiskan gedung kebaktian dan rumah pastori, “kita adalah orang-orang yang berhutang.” Saya tanya kepada jemaat di Pantar Barat, “Bagaimana mungkian di daerah tanpa listrik, tanpa sinyal Bapak Ibu punya gedung gereja yang luar biasa, pastori yang aduhai?” Dan mereka bilang, “Mama  kami jual rumput laut, di Amanuban mereka bilang kami jual asam, kami dapat kirim uang dari anak-anak kami di Malaysia, Hongkong dsbnya.” Rumah-rumah kami yang bagus dibangun dari persembahan terbaik bahkan dari kekurangan-kekurangan jemaat. Karena itu, kita semua, ketika menerima hal-hal baik seperti itu, didorong untuk terus menerus menjadikan pelayanan kita sebgai pelayanan yang benar-benar maksimal bagi daerah bagi masyarakat bagi umat diwilayah-wilayah pelayanan kita. Sekali lagi terima kasih yang tulus kepada keluarga Nggoek, Bapak Dance dan saudara-saudara yang telah mempersembahkan tanah ini bagi pelayanan gereja. Kami mengajak kita semua, kita berdoa agar rumah ini  menjadi rumah gembala, menjadi rumah doa, rumah yang terbuka untuk perjumpaaan-perjumpaan. Tadi Bapak Dan Nenotek bantu kita dengan filosofi ume dalam pemahaman antropologis orang Meto. Rumah ini mesti menjadi rumah semua orang tidak hanya rumah orang GMIT tapi rumah perjumpaan yang  melintasi batas-batas keagamaan, etnis, suku bahkan bangsa. Lebih daripada itu dia menjadi rumah inspirasi bagi pelayanan yang lebih baik di GMIT di periode ini tapi juga di periode-periode mendatang selama Tuhan mengijinkan kita melayani sebagai gerejanya. Di akhir kata kami berdoa, Tuhan Yesus melangkah bersama kita semua di tahun yang baru bersama Majelis Sinode, Badan Pembantu Pelayanan di kantor dan di luar kantor, bersama teman-teman Unit Pembantu Pelayan bersama seluruh Majelis Klasis dan Majelis Jemaat, bersama Dia Sang Pemelihara Hidup, kita diberkati di rumah dan di kantor di gereja dan di mana saja di ladang-ladang pelayanan kita, kita berkomitmen di tahun ini, dengan tema pelayanan kita “Berdasarkan karya Kristus yang memperbarui kami mau bekerja bersama-sama untuk perubahan dan pembaruan.” Selamat natal dan selamat Tahun baru. Tuhan Yesus Memberkati kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *