SUGUHAN “KOPI” POLITIK UNTUK PAKET SAHABAT DAN FIRMAN-MU

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Jelang Pilkada Kota Kupang 15 Februari mendatang, Badan Pengurus Pemuda lingkup Sinode GMIT bekerja sama dengan BEM Undana dan HU Timor Expres, menyelenggarakan panel diskusi yang bertema, “Kopi Pagi Pilkada Damai Kota Kupang bersama Paket Sahabat dan Paket Firman-Mu”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula rektorat Universitas Nusa Cendana pada Senin, 16 Januari 2017 dengan panelis rektor Undana Prof. Ir. Fredrik L. Benu dan Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon.

Prof. Fred Benu kepada kedua paket menguraikan persoalan sosial ekonomi yang sedang dihadapi kota Kupang belakangan ini di mana kota Kupang sedang menggeliat menuju kota jasa. Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan hotel-hotel yang membutuhkan tenaga kerja di sektor jasa namun pada saat yang sama generasi mudanya belum dipersiapkan untuk berperan dalam sektor tersebut. Arus tenaga kerja dari luar kota Kupang yang umumnya tidak cukup memiliki sumber daya merambah ke kota Kupang mengakibatkan terjadinya transfer kemiskinan dari desa-desa ke kota Kupang. Karena itu ia mengharapkan kedua paket agar bisa menolong kelompok marjinal ini melalui program-program pemberdayaan.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT memberi perhatian pada sejumlah tantangan yang dihadapi terkait isu pilkada diantaranya: teologi politik, realitas sosial dan ekologis. Politik, kata Pdt. Mery, bukan hanya urusan politisi dan masyarakat. Ia pertama-tama adalah urusan Tuhan Allah. Allah berpolitik menata bumi yang pada mulanya kacau balau menjadi bumi yang teratur. Karena itu siapapun yang terlibat dalam politik, ia terlibat bersama Allah menata yang kacau itu menjadi teratur. Mengutip Calvin, Pdt. Mery Kolimon mengatakan, kekuasaan politik tidak hanya suatu panggilan yang suci dan sah di hadapan Allah tapi juga adalah panggilan yang paling kudus dan terhormat. Karena itu ia mengharapkan kepada kedua paket dan masyarakat kota Kupang supaya dalam seluruh proses politik, nilai-nilai kekudusan dan kehormatan itu di jaga dengan cara tidak mengeksploitasi sentimen agama dan etnis untuk mendulang suara, menghindari praktik politik uang, menjadi teladan dalam penegakan hukum, menggunakan media untuk mengkampanyekan gagasan bukan saling serang.

Ketua sinode juga mengingatkan Paket Sahabat dan Paket Firman-Mu terkait persoalan ekonomi, ekologis dan kesetaraan gender: Pertama,agar bantuan-bantuan karikatif (dana tunai) perlu ditindaklanjuti dengan program-program pemberdayaan sehingga tidak menciptakan ketergantungan masyarakat. Kedua,rencana pengembangan daerah industri di wilayah Alak perlu dipertimbangkan oleh karena kawasan itu merupakan wilayah resapan air kota Kupang. Demikian juga privatisasi air melalui sumur-sumur bor yang tidak terkendali yang menguras kandungan air tanah. Ketiga, sebagai pemilih terbesar, perempuan perlu mendapat porsi yang cukup dalam program-program pemberdayaan.

Menanggapi kedua panelis, baik paket Firman-Mu maupun Sahabat berjanji untuk memberi yang terbaik bagi kesejahteraan masyarakat kota Kupang sekaligus mengedepankan nilai-nilai kekristenan dalam dinamika dan proses politik hingga pasca pilkada.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *