GURU IBARAT KODOK SISWA IBARAT IKAN – WORKSHOP INTERNASIONAL “TEACHING LEARNING ASSESSMENT”

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Apa itu belajar? Apa itu mengajar? Bagaimana guru membantu anak belajar? Apakah siswa sungguh-sungguh mempelajari apa yang guru ajarkan? Apakah siswa benar-benar termotivasi untuk belajar? Dan, bagaimana guru memastikan bahwa siswa mengerti apa yang guru ajarkan? Itulah sederet pertanyaan yang mengemuka dalam workshop internasional yang disampaikan oleh Dr. Bill Allen, pengajar dari Edith Cowen University Australia pada “workshop internasional on teaching learning assessment” yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Artha Wacana Kupang bekerja sama dengan BPP Pendidikan Majelis Sinode GMIT.

Workshop yang berlangsung selama 2 hari, Senin dan Selasa, 6-7 Pebruari tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas belajar-mengajar para guru. Bertempat di aula S2 Teologi-UKAW, sekitar 50 orang guru TK-SD, SMP dan SMA dari sekolah-sekolah GMIT dibawah Yayayan Pendidikan Kristen (Yapenkris) se-daratan Timor menjadi peserta dari kegiatan ini.

Menurut Dr. Bill Allen, umumnya mengajar dipahami sebagai transfer pengetahuan (knowledge) dari guru kepada siswa. Hal ini tidak salah, namun yang seringkali dilupakan oleh setiap pengajar adalah bahwa setiap siswa punya ‘pengetahuan sebelum’ (prior)atau pra pengetahuan yang belum tentu jatuh sama dengan apa yang guru harapkan dimengerti oleh siswa. Karena itu, kata Dr. Bill, guru harus tahu apa yang sudah diketahui siswa sebelum guru mengajar.

DONGENG TENTANG KODOK DAN IKAN

Untuk menjelaskan apa itu ‘pra pengetahuan’ Dr. Bill mendongeng tentang Kodok dan Ikan. “Berudu dan ikan hidup di sebuah kolam. Selang beberapa waktu, berudu berubah menjadi kodok dan melompat keluar dari kolam lalu pergi. Sekali waktu, kodok kembali mengunjungi sahabatnya ikan. Ikan bertanya, “Kemana saja kau selama ini kodok?” “Saya berkeliling dunia,”balas kodok. “Apa yang kau lihat,” tanya ikan lagi. “Aku melihat burung,” jawab kodok.  “Burung memiliki 2 kaki, 2 sayap dan punya bulu berwarna-warni,” demikian penjelasan kodok.

Mendengar itu, ikan mulai membayangkan wujud burung, namun karena tidak pernah bertemu burung ia membayangkan burung seperti ikan yang bisa terbang. “Apalagi yang kau lihat,”tanya ikan. “Saya melihat sapi. Sapi itu punya empat kaki, dua tanduk punya susu dan makan rumput,”ujar kodok. Sekali lagi karena tidak pernah melihat sapi ikan membayangkan sapi dengan ciri yang disebut kodok tapi dalam wujud seperti ikan yang di punggung ada siripnya. Lalu kodok menceritakan pula perjumpaannya dengan manusia. Ia punya dua kaki, dua tangan, mulut, bicara tanpa henti, dst.

Mendengar kisah tentang manusia lagi-lagi dalam pikiran ikan adalah manusia yang menyerupai ikan. Begitulah cara ikan memahami cerita kodok. Apakah ikan sungguh-sungguh memahami “pelajaran” yang disampaikan kodok?  Ya dan tidak.

Itulah yang dimaksud dengan pra pengetahuan. “Tidak ada siswa yang kepalanya kosong, kata Dr. Bill yang juga sering diundang menjadi fasilitator untuk pengembangan guru-guru di provinsi Papua dan Papua Barat.

“Sebelum guru mentransfer sebuah pengetahuan setiap siswa sudah memiliki pengetahuan awal yang mana mesti diketahui oleh guru. Tanpa memahami apa yang sudah sebelumnya diketahui siswa, sulit mencapai tujuan pembelajaran,”demikian ungkap Dr. Bill Allen yang pernah mengajar di sekolah-sekolah di Inggris dan Australia ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *