PENDETA BERTANI, EKONOMI JEMAAT BERSERI

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Kalimat bijak, “dibalik pria sukses ada seorang perempuan hebat” diaminkan sosok keluarga pendeta ini. Berbekal latar belakang pendidikan ilmu teologi dan ilmu pertanian, pasangan suami istri Pendeta Markus Leunupun dan Destriana Rohi Djami memulai sebuah model pemberdayaan ekonomi jemaat melalui budidaya tanaman hortikultura.

Ditempatkan di jemaat Imanuel Ruteng tahun 2013 menjadi awal mula ia belajar bertani. Dengan menggandeng kelompok tani jemaat dan juga individu, mereka  menanam bermacam sayuran. Kerja keras mereka tidak sia-sia. Omset penjualan mencapai 50-60 juta rupiah.

DARI KOTOR KE KANTOR

Tahun 2016, Pdt. Markus Leonupun dimutasikan dari jemaat Imanuel Ruteng-Flores ke Yayasan Tanaoba Lais Manekat-Kupang. Kebiasaan bergelut kotor tanah kini beralih ke kantor megah di belakang meja. Namun, peralihan itu tidak menyurutkan niatnya bertani meski bekerja di kota. Melihat lahan kebun tetangga di Nasipanaf-Penfui yang hanya ditanami jagung pada musim hujan, ia mengajak 4 orang tetangganya untuk bertanam sayur. Dengan modal 5 juta rupiah, mereka memulai usaha bertani.

Di tengah derasnya hujan, Kamis, 2 Pebruari 2017 kami menyambangi kebun sayur Pak Pdt. Markus. Di kiri-kanan jalan tampak kebun-kebun warga ditanami jagung. Tak satu pun yang menanami kebunnya dengan sayur-mayur. Memang begitulah kebiasaan para petani di desa-desa di NTT. Mereka percaya bahwa musim hujan bukan waktu yang tepat untuk menanam sayuran. Banyak yang takut sayuran diserang hama ulat yang banyak berkembang biak pada musim hujan. Ada juga yang khawatir air hujan yang berlebihan akan merusak dan mematikan sayuran.

Cara pandang petani desa yang tradisional bertolak-belakang dengan pengalaman Pdt. Leonupun. Pengalaman itu yang meyakinkannya menanam aneka sayuran justru di musim hujan. Ia tentu paham hukum ekonomi: Persediaan sedikit harga melangit.

Memasuki kebun sayur, tampak ratusan pohon tomat sedang berbuah lebat. “Kalau tomat kami tanam  700 pohon. Satu atau dua hari sudah panen pertama,” jelas om Okto Lakat, pemilik lahan. “Di sebelahnya itu, buncis, ada  400 pohon.” Dahi saya mengernyit, mencoba menghitung-hitung dalam hati berapa laba yang di peroleh dari sayuran sebanyak ini.

Pdt. Markus membantu menghitung. “Harga tomat sekarang Rp. 15 ribu/kg. Satu pohon menghasilkan paling kurang 2 kg. Jadi, 700 pohon X 2 kg X 15.000 = Rp. 21.000.000,- (dua puluh satu juta rupiah). Itu kalau 2 kg/pohon, sedangkan kalau 1 pohon menghasilkan 4 kg, tinggal di kali 2.  Itu baru tomat. Belum buncis, peria, bawang, dan melon yang jumlahnya 700 pohon.” Saya menarik napas panjang mendengar jumlah rupiah yang akan masuk kantong mereka hanya dalam waktu relatif pendek, yakni 3-4 bulan menanam.

Seandainya saja ¼ dari 1.300 pendeta GMIT mencontoh apa yang telah dimulai Pdt. Markus Leonupun, perlahan namun pasti sekali waktu NTT akan mendapat predikat baru, entah apa namanya, yang pasti bukan lagi provinsi termiskin. Dan yang paling membanggakan adalah Gereja memelopori hadirnya tanda-tanda perubahan itu ditengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *