GEREJA MESTI JADI PELOPOR SPIRITUALITAS UGAHARI

KUPANG, www.sinodegmit.or.id Persidangan-persidangan gereja baik di lingkup jemaat, klasis maupun sinode di tahun 2017 ini dituntut memberi perhatian serius terhadap persoalan-persoalan sosial, moral, ekonomi dan politik. Terkait hal itu, setidaknya terdapat dua hal yang perlu ditindaklanjuti oleh gereja-gereja di Indonesia termasuk GMIT. Pertama, menghidupi spiritualitas keugaharian dan kedua menanamkan pendidikan anti korupsi sejak dini mulai dari lingkungan keluarga.

Dua hal tersebut di atas disampaikan oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon saat menyampaikan suara gembala dalam ibadah pembukaan persidangan  Majelis Klasis Kota Kupang di jemaat Bukit Karang Hoinbala, Selasa 7/2-2017.

Spiritualitas keugaharian dimaksud adalah berani berkata cukup terhadap godaan materi sebagaimana doa yang Tuhan Yesus ajarkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

“Ketika kita berbicara tentang spiritualitas keugaharian salah satu pendeta di Republik ini ditangkap karena dia melakukan penyuapan terhadap salah satu hakim di Mahkamah Konstitusi. Dan ini sebuah tamparan yang sangat keras terhadap kekristenan, kepada para pendeta termasuk kepada kami di GMIT. Dalam pembukaan sidang MPL PGI beberapa waktu lalu di Salatiga, Bapak Saur Sirait (anggota komisioner KPK, red.) sebagai salah satu warga gereja di Indonesia hadir dan memberikan sambutan dalam sidang itu. Dia menitipkan hal-hal yang sangat penting  bahwa pendidikan anti korupsi sudah harus dimulai dari sejak usia dini,” kata Ketua Majelis Sinode GMIT.

Hal lain yang juga disinggung oleh Pdt. Mery dalam suara gembalanya adalah terkait kejahatan narkoba yang kini telah menerobos masuk di ruang-ruang keluarga, persekutuan yang  makin tergerus oleh sikap individualisme dan pilkada serentak.

Kata Pdt. Mery, individualisme yang menjadi  ciri masyarakat urban di jemaat-jemaat kota  ditandai dengan ketidakpedulian terhadap sesama. “Banyak kali terjadi, seorang suami memukul istrinya sampai berdarah-darah tapi tetangga di sebelah tidak tahu. Juga sudah pernah terjadi di kota ini seorang suami mengubur istrinya  di dapur tapi kami tidak tahu. Itu menunjukan sesuatu tentang kualitas persekutuan kita.”

Sementara mengenai Pilkada serentak 2017 Ketua sinode GMIT mengajak anggota jemaat dan juga para pendeta agar belajar dari apa yang terjadi di Jemaat GMIT Horeb Perumnas. Bahwa di sana pendeta dan majelis jemaat melakukan sebuah niat untuk berdoa bagi anggota jemaat mereka yang akan masuk ke dalam pilkada. Namun hal itu mesti dilakukan dengan berhati-hati supaya jangan sampai pesan yang tiba di masyarakat ialah gereja berpolitik secara partisan karena Tata Gereja memberi amanat bahwa tugas gereja adalah mengawal nilai dan bukan untuk mengawal individu tertentu. Karena itu, siapa pun di kota Kupang, agama dan denominasi apa pun, dia berhak untuk dipilih dan tugas gereja adalah mendoakan siapa pun untuk maju ke arena Pilkada.

Persidangan kali ini mengusung sub tema tahunan “Berdasarkan karya Kristus yang memperbaharui kita berkarya untuk pembaharuan dan perubahan  diri, gereja dan masyarakat.” Terkait sub tema itu Pdt. Yandi Manobe, S.Th. yang memimpin ibadah pembukaan dalam khotbahnya menantang jemaat untuk berani menolak sikap-sikap materialisme, kapitalisme dan fundamentalisme yang kini merajalela di masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *