KUDA LIAR (Pdt. Dr. John Campbell-Nelson)

KUDA LIAR

(Pdt. Dr. John Campbell-Nelson)

Ada sebuah cerita: suatu ketika, seorang petani mau beli kuda. Dia pergi ke pasar hewan dan memeriksa sejumlah kuda yang diikat di sana dan mencari seekor kuda yang muda dan kuat. Ada satu yang kaki tinggi, badan bagus, sehingga dia minta tuan kuda kalau dia bisa uji coba menungganginya.

Begitu dia naik kuda itu, si kuda berontak dan lari ikut lorong-lorong keliling kampung dan pak tani tidak sanggup mengendalikannya. Kebetulan mereka lari lewat di depan rumah seorang teman. Melihat keadaan petani itu, temannya bertanya, “Ay! Lu mau ke mana?” Sang petani hanya sempat berteriak, “Wah! Jangan tanya saya. Tanya pada kuda!”

Cerita ini pernah diangkat oleh seorang teolog pastoral Henri Nouwen untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi banyak orang pendeta/pastor dalam pelayanannya.  Tuntutan  jemaat dan masyarakat yang kita layani menjadi semacam “kuda liar” yang kita tidak mampu kendalikan; malah dia yang mengendalikan kita. Sebentar kita diminta melayani syukuran ulang tahun, sebentar ada orang mati, sebentar lagi ada rapat desa, sebentar ada laporan suami-istri berkelahi, ada lagi surat dari LSM yang minta kita menghadiri sebuah pelatihan pendampingan korban HIV/AIDS. Dalam keadaan seperti itu, seorang pelayan sulit untuk menentukan prioritas dalam pelayanannya atau mempersiapkan diri secara fokus karena dari saat ke saat sulit untuk diketahui apa yang akan dituntut lagi dari kita.

Saya mengingat cerita dari Nouwen ini beberapa tahun lalu ketika diminta memberi ceramah tentang “Spiritualitas Seorang Pelayan.” Dalam konteks itu yang dimaksud dengan “pelayan” adalah pendeta. Setelah menimbang beberapa saat, saya menarik kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang khusus dalam spiritualitas seorang pendeta. Kita menjadi pendeta bukan karena memiliki kerohanian dalam derajat yang lebih tinggi dari kaum awam; dan kalau kita mengakui imamat am orang percaya, maka semua orang dipanggil untuk menjadi pelayan terhadap sesama. Walaupun ada anggapan umum bahwa seorang pendeta harus “ekstra Kristen” ketimbang warga biasa, saya akhirnya sulit menemukan dasar teologis yang dapat membenarkan anggapan itu.

Walaupun sulit menemukan ciri khas yang positif dalam spiritualitas seorang pendeta, namun saya kira ada sejumlah tantangan dan godaan yang lebih terasa oleh pendeta daripada warga yang lain. Pendeta memiliki pendidikan yang khusus dalam bidang teologi, sehingga sejumlah masalah yang tidak terlintas dalam pikiran kaum awam menjadi beban bagi seorang sarjana teologi. Selain itu, kalau warga jemaat melayani secara sukarela pendeta seolah-olah digaji untuk menjadi seorang Kristen teladan.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti ini, saya memilih untuk menenpuh “via negativa” dan kalau tidak bisa memberi tanda-tanda positif tentang spiritualitas pelayan, paling sedikit memberi rambu-rambu berupa peringatan terhadap beberapa marabahaya spiritual yang sering dihadapi pendeta. Itu yang saya namakan “kuda liar” yang bisa bawa lari kita dari tujuan kita yang semula.

Catatan untuk didiskusikan:

  • Apakah kita juga mengalami tantangan seperti ini?
  • Apa yang dapat dibuat untuk mengatasi atau meminimalisir tantangan ini?
  • Apakah ada “kuda” lain yang perlu diwaspadai?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *