HAMBA SERIBU TUAN (Pdt. Dr. John Campbell-Nelson)

Ada semacam dongeng yang sering tedengar, bahwa kehidupan pendeta enak karena hanya bekerja sehari seminggu. Betapapun kita bosan mendengarnya, ada baiknya kalau kita tanggapi secara serius.

Di belakang sikap yang sedikit sinis ini ada sebuah realitas: bahwa kebanyakan warga jemaat tidak begitu mengerti pekerjaan pendeta sebenarnya mencakup apa saja– dan oleh karena itu mereka bisa minta apa saja dari pendeta. Bisa diminta nasehat memilih pacar atau memilih partai politik, petunjuk strategi usaha, bantuan mendapat KTP atau JAMKESMAS, jawaban terhadap teka teki Alkitab, sikap terhadap KB, alokasi dana bantuan pemerintah, atau bagaimana cara suntik ayam. Ini semua contoh nyata, bukan karangan saya. Apalagi di jemaat pedesaan di mana pendeta mungkin merupakan satu-satunya sarjana yang menetap di desa, pendeta dapat mengaku bersama Paulus, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya” (I Kor. 9.22).

Selain peran pendeta dalam masyarakat secara umum, ada juga harapan bahwa pendeta akan hadir dalam semua peristiwa keluarga yang penting, dari kelahiran sampai kematian dan semua langkah-langkah di antara kedua kutub itu. Untung kalau jemaatnya kecil, tapi kalau sudah mencapai seratus k.k. atau lebih, pendeta pada posisi harus memilah-milah permintaan mana yang akan dilayani dan mana yang harus dilewati atau diserahkan pada majelis jemaat. Faktor yang lain lagi adalah kewajiban pendeta selaku pegawai gereja untuk mengamankan keputusan dan program dari birokrasi gereja. Dia harus mengisi laporan-laporan, memeriksa administrasi jemaat, menegakkan peraturan, menghadiri persidangan, dsb. Kadang kadang dia hanya bisa dibedakan dengan pegawai negeri karena tanda salib yang ganti garuda di dada safarinya.

Ada potensi konflik yang cukup besar karena peran yang begitu luas dan beraneka ragam. Bagaimana terlibat dalam penentuan kebijakan desa tanpa dianggap memihak? Bagaimana menolong usaha ekonomi jemaat tanpa mengganggu kepentingan saingannya (yang juga adalah warga jemaat)? Kalau melayani syukuran di keluarga A, dasar apa pendeta tidak melayani syukuran di keluarga B? “Berbahagialah mereka yang tidak kecewa dengan Aku,” kata Yesus, dan berbahagialah pendeta kalau tidak ada yang kecewa dengan dia.

Namun dari segi spiritualitas, mungkin bahaya terbesar terletak pada soal yang lain:dengan terus-menerus melayani permintaan jemaat dan masyarakat, akan sulit sekali untuk pendeta sendiri berprakarsa untuk menentukan sendiri prioritas mana yang paling penting. Dan kesulitan itu barulah menyangkut upaya untuk memimpin diri sendiri. Apalagi kesulitan yang dialami untuk memimpin jemaat dalam misi Yesus Kristus yang diemban oleh gereja. Mimpi untuk menjadi jemaat yang misioner tenggelam dalam misi melayani tuntutan jemaat sendiri. Jemaat yang diharapkan menjadi pelayan selaku Tubuh Kristus ditengah-tengah dunia sekitarnya, justru menjadi konsumen pelayanan. Pendeta yang dijuluki sebagai “Hamba Tuhan” dalam kenyataan menjadi hamba seribu tuan.

Kalau pendeta menghabiskan waktu menjadi hamba status sosial keluarga, hamba program pemerintah dan LSM, hamba perluasan ekonomi kapitalis sampai ke pelosot-pelosot, kapan dia ada waktu untuk menjadi hamba Yesus Kristus? Maksud saya bukan bahwa pendeta seharusnya mengundurkan diri dari keterlibatan sosial, tapi bahwa keterlibatannya selayaknya berdasarkan sebuah pemahaman yang jelas dan transparan mengenai panggilan gereja. Kalau tidak, segala jerih payahnya hanya menegakkan status quo.

Gereja (baik pada lingkup jemaat, klasis, maupun sinode) akan menolong para pendetanya kalau memberi bingkai yang jelas yang memberi definisi, prioritas, dan batas-batas pada tempatnya pendeta dalam misi gereja. Sangat diperlukan sebuah landasan eklesiologis dan misiologis bagi kepemimpinan pastoral—sebab pada dasarnya, seorang pendeta adalah hamba yang memimpin, bukan hamba seribu tuan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *