LITURGI KONTEKSTUAL WARNAI PERAYAAN MINGGU-MINGGU SENGSARA

Kupang, www.sinodegmit.or.id. Dua perempuan berbusana adat Sabu tampil di panggung. Masing-masing tampak sibuk menenun dengan peralatan tenun sederhana. Terlihat beberapa lembar kain adat sudah selesai dikerjakan. Buah tangan berupa selimut dan sarung dengan ragam motif  yang bercorak bunga-bunga dengan paduan warna kuning, coklat dan hitam, tampak seindah lukisan. Namun, keindahan tenunan kakak beradik ini tak tampak di wajah mereka. Keduanya terlihat tegang. Tidak saling bicara. Tak lama berselang, keduanya terlibat adu mulut. Mereka saling tuding dan bertengkar dalam bahasa Sabu.

Itulah fragmen  yang mengawali kebaktian minggu sengsara ketiga yang berlangsung di jemaat Benyamin Oebufu-Kupang, Minggu, 12 Maret 2017. Sejak beberapa tahun terakhir jemaat ini memaknai minggu-minggu sengsara dengan kebaktian bernuansa etnis. Setelah 2 minggu sebelumnya kebaktian di kemas dalam liturgi etnis Sulawesi dan Jawa, pada minggu ketiga ini giliran etnis Sabu dengan tema “Hanya Tertinggal Kain Lenan”.

Dekorasi ruang kebaktian bernuansa sengsara dengan dominan warna ungu dan putih, lilin merah serta gambar salib menghiasi latar depan. Terdapat juga alat musik tradisional gong, tambur dan bambu serta peralatan sadap lontar yang menggambarkan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya orang Sabu, seperti haik, sikat, jepit mayang lontar, ikat pinggang dan pisau sadap digantung pada sebuah “pohon” di sudut kanan panggung.

Fragmen yang diangkat dari legenda masyarakat Sabu tersebut di atas, berkisah tentang ikhwal pembagian warna dan motif tenun ikat. Fragmen singkat ini bertujuan mengantar jemaat memahami tema liturgi yang diangkat minggu itu.

Legenda: Muji Bab’o dan Lao Bab’o

Alkisah, di pulau Sabu hiduplah dua gadis bersaudara. Seorang bernama Muji Bab’o dan satunya lagi bernama Lao Bab’o. Kedua kakak beradik ini pandai menenun. Hasil tenunan mereka sangat indah dan dikagumi di mana-mana tempat.

Sekali waktu pewarna nila Muji Bab’o hilang. Ia mencari-cari namun tidak menemukannya. “Pasti ini perbuatan Lao Bab’o,” pikir Muji Bab’o dalam hati. Ia lantas mengata-ngatai adinya sebagai pencuri. Lao Bab’o tak terima. Terjadilah pertengkaran hebat.

Agar tidak saling fitnah, keduanya membuat perjanjian. Pewarna nila dibagi. Muji Bab’o menenun dengan motif hubi ae  dan Lao Bab’o dengan motif hubi iki.Itulah latar historis dibalik motif tenun ikat orang Sabu.

 

 

 

Dialog Budaya dan Injil

Berangkat dari kisah legenda kakak beradik yang saling rebut hak penggunaan warna dan motif pada kain tenun ikat, pemberitaan Firman yang dipimpin oleh Pdt. Samuel Pandie, S.Th. diawali dengan menggali makna dibalik legenda Muji Bab’o dan Lao Bab’o. Pesan kisah itu adalah penghargaan terhadap karya cipta.

“Setiap perempuan Sabu terlatih dalam menciptakan motif tenun. Motif itu tidak boleh ditiru oleh yang lain. Itu adalah hak patennya. Di Indonesia, orang baru bicara soal hak paten belakangan ini, tapi leluhur orang Sabu sudah memberlakukan itu ribuan tahun sebelumnya. Siapa yang suka tiru-tiru, itu kejahatan,” tutur Pdt. Sem Pandie yang disambut tepuk tangan jemaat.

Bertolak dari topik tentang kain adat yang menjadi simbol identitas, kreatifitas, status sosial, dan nilai-nilai kultur lainnya, khotbah kemudian ditautkan dengan kisah seorang pemuda misterius yang ikut dalam rombongan Yesus dan hendak ditangkap oleh para prajurit  pada malam saat Yesus ditangkap. Karena ketakutan, ia lari meninggalkan kain lenan satu-satunya yang menutupi tubuhnya. Kain lenan yang dilepaskan itu melambangkan eksistensi dan status sosial pemuda tersebut. Kisah ini hanya ditulis oleh Injil Markus 14:43-52.

Tindakan melepaskan kain lenan kata Pdt. Sem berimplikasi juga pada sikap separuh jemaat yang sengaja membarter kehadiran mereka dalam mengikut Tuhan Yesus dengan sejumlah materi. Persembahan materi itu baik, tetapi tidak boleh mengabaikan persembahan diri (tubuh seutuhnya) bagi pekerjaan pelayanan.

Siapakah pemuda itu, tetaplah misterius dalam kisah Markus. Namun, ada peristiwa yang mengejutkan ketika Yesus bangkit. Menurut Markus ada seorang pemuda (bukan malaikat seperti versi matius, Lukas dan Yohanes) mengenakan jubah putih, muncul di kuburan Yesus.

Dengan mengutip tafsiran Pdt. Dr. John Campbell-Nelson, yang mungkin bersifat spekulatif, jawaban terhadap siapa pemuda itu adalah: Bisa jadi si pemuda yang menjaga kuburan Yesus yang telah kosong itu adalah pemuda malang yang 3 hari sebelumnya lari tunggang-langgang dengan telanjang pada malam Yesus ditangkap. Kebangkitan Yesus memberi pembaharuan hidup bagi pemuda yang satu ini. Kain lenan diganti jubah putih.

Melalui refleksi ini, Pdt. Semuel Pandie mengajak jemaat agar membuang cara  hidup yang kotor dengan bersembunyi di balik penampilan yang memukau. Mereka yang mau membuang ‘kain kotor’ yakni hidup yang berlawanan dengan kehendak Tuhan akan diberi janji oleh Tuhan akan menerima jubah putih pada hari kedatangan Tuhan sebagaimana dikatakan dalam kitab Wahyu.

Tata liturgi yang Apik

Penataan liturgi oleh tim bengkel liturgi cukup komprehen di jemaat ini.  Liturgi kebaktian mengakomodir sekaligus aneka ragam budaya seperti bahasa lokal yang muncul dalam monolog dan dialog, nyanyian jemaat yang diterjemahkan dalam bahasa lokal, busana adat oleh para pemeran liturgi dan jemaat yang hadir, perlengkapan kerja masyarakat lokal, makanan khas, cerita rakyat, alat musik tradisonal, tarian dan lain-lain.

Agar warna dan irama musik tidak monoton, tim musik gereja menampilkan kolaborasi musik modern  organ, gitar dan biola dalam mengiringi nyanyian jemaat sehingga tercipta harmoni dan warna musik yang indah. Perhatian yang sama juga diarahkan dalam menata nyanyian jemaat. Kantoria berperan penting dalam membantu jemaat bernyanyi 4 suara. Begitu pula dengan cara bernyanyi yang disesuaikan dengan sifat lagunya. Ada lagu yang dinyanyikan secara responsoris; ada juga yang dilagukan secara kanon sehingga terdengar irama yang merdu.

Kemasan liturgi kebaktian yang bersifat teatrikal semacam ini memang menarik. Hal ini tampak pada antusias jemaat mengikuti kebaktian. Tak ada kursi dan bangku yang kosong setiap minggu. Jemaat bahkan terpaksa duduk berdesakan memenuhi setiap tempat duduk yang tersedia baik di dalam ruangan maupun di halaman. “Meski diakui kebaktian membutuhkan waktu yang relatif agak lama namun sejauh ini belum terdengar keluhan dari jemaat,” kata salah satu anggota presbiter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *