CARA UNIK PEMBEKALAN DIAKEN JEMAAT EBENHAEZER TARUS BARAT

 

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Tidak seperti kebiasaan umum, di mana para presbiter usai ditahbiskan lantas diceramahi tentang tugas pokok mereka, Jemaat GMIT Ebenhaeser Tarus Barat menempuh cara yang unik. Ketimbang mengadakan pembekalan dalam ruangan, mereka memilih belajar di lapangan. Selasa pagi 28/03-2017, 32 orang diaken menumpang 2 bus meninjau 2 lokasi perkebunan buah dan tanaman holtikultura organik. Sembari mengisi libur Nyepi bapak dan ibu diaken berpiknik sambil belajar.

Berita GMIT turut diundang dalam agro wisata pelayanan yang mengesankan ini. Ada Juga Pdt. Elisa Maplani yang didaulat akan memimpin sebuah sesi pendasaran teologis mengenai diaken. Pdt. Merah Fanggidae-Leki memimpin doa sebelum kami berangkat. Dipandu Diaken Adri Yusuf Tonak kami menuju Baumata. Menurut Pak Adri, menjadi diaken tidak bisa mengandalkan doa. Harus ada sesuatu yang dilakukan untuk menolong jemaat yang susah. Dan salah satunya caranya adalah pemberdayaan di bidang pertanian.

Dalam perjalanan Pak Adri yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai pada dinas pertanian kota-Kupang meyakinkan kami bahwa tempat yang kami tuju sangat inspiratif dan edukatif.

Sekitar 20 menit perjalanan bus berhenti di depan sebuah papan baliho bertuliskan, “Pengelola Kebun Taman Eden”.

Peserta turun dan berjalan kaki melintasi areal persawahan. Gemericik air dan hamparan hijau tanaman padi sepanjang jalan setapak yang kami lalui seakan menyambut kedatangan kami.

Kurang lebih 100 meter, tibalah kami ditempat tujuan. Di sisi kanan dan kiri berderet beberapa tanaman buah naga dan pepaya. Di depan berdiri sebuah rumah berdinding kayu yang menjadi sekretariat bagi 7 orang pengelola “Kebun Kampung Daun”. Di sisi kanan rumah tampak sebuah kolam ikan lele berukuran kecil diselingi oleh ratusan polibek yang diisi dengan bibit tanaman buah naga. Di sebelahnya lagi ada sebuah rumah panggung yang menjadi tempat tinggal para pekerja. Sepintas tak ada yang terlalu menarik di area yang tampak sempit ini.

Pak Laode Jamil, menyambut dan segera mengajak kami ke belakang rumah. Para diaken yang rata-rata akrab dengan pertanian sawah dan kebun di kawasan Tarus dibuat terkagum-kagum dengan area seluas 1 hektar yang disulap menjadi “hutan” tanaman buah. Sejauh mata memandang seribuan pohon buah naga, pepaya California dan pisang tumbuh subur di atas tanggul. Rapi tersusun mirip barisan dalam upacara.

“Di sini produk unggulan kami buah naga dan pepaya california. Buah naga sekitar 700 pohon dan pepaya 600 pohon.”ujar Pak Jamil menjelaskan.

Para peserta yang gemas dengan buah-buahan yang bergelantungan berukuran ekstra jumbo berebut bertanya bagaimana budidaya buah naga pada Pak Jamil. “Menanam pohon naga itu pekerjaan orang malas,” jawab Pak Jamil singkat membuat kami bingung apa maksudnya. “Kenapa”? Ia melanjutkan, “karena pohon naga itu tanaman gurun. Ia tidak butuh perawatan khusus. Hamanya pun cuma semut karena rasa manis pada buahnya.” Pak Jamil menjawab satu persatu pertanyaan. Mulai dari cara pembibitan, tanam, hama, pemupukan, penyerbukan, pengairan, panen hingga pemasaran.

 

Keuntungan dari berkebun buah di kebun Kampung Daun ini terbilang lumayan. Sebulan keuntungan dari penjualan buah pepaya dan naga saja Rp. 15-20 juta. Jumlah ini belum termasuk hasil penjualan bibit. Seorang pekerja di sini setiap bulan bisa mengantongi Rp.1 sampai 2,5 juta.

Ditanyai soal peluang pemasaran, Pak Jamil mengatakan bahwa mereka memasok buah ke Hypermart, Hotel dan restoran di Kota Kupang. Namun katanya, sejauh ini mereka masih kewalahan dan belum mampu melayani semua permintaan.

Sekitar 2,5 jam kami memanjakan mata berkeliling kebun Kampung Daun, Pak Jamil mengajak kami melihat cara pembibitan benih pepaya dengan sistem pencahayaan dalam ember yang berisi air. Cara ini lebih efektif ketimbang menaruhnya dalam polibek atau persemaian dalam tanah karena bibit rentan dimakan semut atau cacing.

Usai melihat teknik pembibitan benih, kami pun pamit. Beberapa peserta tampak menenteng batang stek tanaman buah naga. Meski cuaca cukup panas, namun para peserta tampak menikmati “pembekalan unik” ini. Setumpuk ide di kepala mengiringi perjalanan kami menuju spot berikut yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *