AHOK di MATA PDT. DR. ANDREAS YEWANGOE

Kupang, www.sinodegmit.or.id.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok tidak luput dari perhatian Pdt. Dr. Andreas Yewangoe. Tak jarang, Ahok menjadi topik dalam status akun facebook mantan ketua umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) 2 periode (2014-2009, 2009-2014) ini. Meski di matanya Ahok bukan pemimpin paripurna namun apresiasinya terhadap kepemimpinan Ahok selalu disampaikan blak-blakan dalam berbagai forum regional maupun nasional.

Dalam sebuah seminar menyongsong perayaan Paskah yang digelar Universitas Kristen Artha Wacana-Kupang, Senin 10/04-2017 yang lalu, fenomena Ahok turut menjadi perbincangan Yewangoe. Secara pribadi ia memuji kepribadian dan integritas Ahok. Yewangoe bahkan mengaku belum pernah sekalipun mendengar pejabat publik yang begitu berani menyaksikan imannya tentang Tuhan Yesus Kristus di muka umum sebagaimana yang diperlihatkan gubernur DKI Jakarta ini. Kepada peserta seminar, Pdt. Andreas Yewangoe, memuji pernyataan Ahok di salah satu TV Swasta. Ketika presenter bertanya kepada Ahok siapa idolanya, tanpa ragu-ragu ia menjawab “Yesus Kristus”.

“Anda nonton wawancara Ahok beberapa hari yang lalu di JAK TV? Ketika ditanya siapa idola anda: Yesus Kristus dia bilang. Tidak ragu-ragu dia. Saya belum pernah dengar seorang pejabat Kristen yang di ruang publik mengatakan itu. Kalau di ruang tertutup seperti gereja ya…biasa-biasa itu,” tutur Yewangoe dengan “muka kering” disusul tawa peserta seminar.

Pdt. Andreas Yewangoe juga menyentil pernyataan Ahok terkait tudingan “kafir” kepadanya pada salah satu persidangan di pengadilan. Jawaban Ahok yang tegas dan lantang “ Saya bukan orang kafir dan Tuhan saya juga bukan orang kafir” membuat lawan-lawan Ahok tak berkutik. Terkait pernyataan itu, Yewangoe menyebut pernyataan Ahok sebagai sebuah kredo.

“Ketika dia (Ahok) dituduh kafir, dia bilang tidak betul. Tuhan saya bukan orang kafir. Bagi saya ini sebuah kredo yang diperbarui terus menerus tanpa berubah menjadi seorang fanatik. Ahok bukan seorang fanatik. Kalau dia fanatik, dia tidak mungkin membangun sekian banyak mesjid di Jakarta,” kata mantan pimpinan UKAW yang pada usia sangat muda 27 tahun telah menjabat rektor pertama Akademi Theologi-Kupang ini.

Pada sesi tanya jawab, ia ditanya mengapa Ahok begitu fenomenal, Yewangoe senada dengan pernyataan sahabatnya, Prof. Syafi’i Maarif yang ia kutip bahwa fenomena Ahok merupakan gejala kegagalan partai Islam mempersiapkan kader-kadernya. Andaikata saja partai Islam sukses, tidak akan muncul orang seperti Ahok.

Kegagalan partai-partai Islam tersebut katanya, menjadi peringatan bagi masyarakat terutama para pemimpin di NTT yang mayoritas Kristen. “Saya kira kita bisa analogikan fenomena Ahok itu adalah disebabkan oleh kegagalan dari ambil contoh NTT yang gagal mempersiapkan kadernya. Primordialime di sini NTT tinggi sekali.  Orang naik dia tarik ke bawah. Bagaimana bisa orang lain bisa naik. Ini bukan dongeng, ini fakta. Saya tahu betul itu dari dulu.”

Terkait Pilkada DKI Jakarta yang diambang pintu, Yewangoe mengatakan, “Target kita bukan supaya Ahok menjadi gubernur di Jakarta, sebab bila itu target kita, kita akan kecewa kalo dia tidak terpilih jadi gubernur. Tapi target kita sekarang adalah untuk mengatakan bahwa Ahok adalah ikon dari kejujuran dan komitmen. Dan ikon ini akan tetap tertanam dalam istilah yang saya pakai ingatan kolektif masyarakat Jakarta baik yang anti maupun yang pro. Saya pakai istilah “ingatan kolektif” atau dalam bahasa Perjanjian Baru “memoria”. Mestinya Yesus sudah hilang, tapi karena ada “ingatan kolektif” yang tertanam dan terus dikembangkan terus-menerus maka sekarang kita bisa mendengar berita itu. Maka nanti siapa pun yang menjadi gubernur akan katakan Ahok dulu begini dan begini, dst. Dan ini akan sulit untuk gubernur yang akan datang. Saya katakan tanamkan itu.” **

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *