PERTAMA KALI DI GMIT, 17 ETNIS MENARI KOLOSAL RAYAKAN PASKAH

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Untuk pertama kalinya di lingkungan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sekitar 2000 orang dari 17 etnis di 16 rayon, menari kolosal menyambut perayaan Paskah. Tarian kolosal yang digelar di jalan utama Bundaran PU-Kupang tersebut diselenggarakan oleh jemaat Benyamin Oebufu-klasis Kupang Tengah pada Minggu, 16/04-2017.

Kegiatan ini diawali dengan acara pembukaan yang dilaksanakan di halaman gedung gereja pada pukul 13:00 wita. Acara pembukaan dihadiri oleh ketua sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, Sekretaris MS GMIT, Pdt. Yusuf Nakmofa, M.Th, Ketua MUI, Aba Makarim, Ketua Parisada Hindu Dharma-NTT, Dr. I made Gusti Putra Kusuma, Sekretaris Keuskupan Agung Kupang, Rm. Yono, Kapolresta Kupang Kota, Anton CN, Perwakilan Parpol, Daniel Hurek, tokoh pemuda, Winston Rondo, pimpinan Bank NTT dan Bank Crista Jaya, dll.

Pada kesempatan ini juga para pimpinan lembaga yang hadir menyampaikan statement kebhinekaan dan dilanjutkan dengan penandatanganan pakta kebhinekaan pada selembar kain berukuran 50 meter. Selain para pimpinan lembaga tersebut, ribuan peserta dan penonton ikut membubuhkan tanda-tangan.  Rencananya kain itu akan dikirim ke presiden Jokowi sebagai bukti NTT terdepan dalam merawat keberagaman dan keberagamaan.

Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam suara gembala menyampaikan penghargaan yang tulus kepada jemaat dan secara khusus untuk panitia yang sukses menyelenggrakan kegiatan yang ia sebut “acara yang hebat”.

Terkait makna paskah bagi upaya merawat kebhinekaan dalam konteks Indonesia, Ketua sinode GMIT mengatakan bahwa merayakan Paskah dalam keragaman adalah sebuah persembahan iman sekaligus tindakan iman di tengah-tengah kehidupan berbangsa di Indonesia yang harus disyukuri keragamannya yang juga dari waktu ke waktu diuji ketahananya.

“Sejak awal,” lanjutnya, “ketika bangsa ini berdiri kita berkomitmen bahwa kita mau menjadi Indonesia hanya kalau kita bersedia hidup dalam keragaman. Ketika keragaman itu hendak ditiadakan, ketika kita hanya mau menjadi satu warna kita berhenti menjadi Indonesia. Sebab itu pesan Paskah yang menyatakan  kami beragam adalah sebuah komitmen untuk mengatakan bahwa hanya kalau kita bersedia hidup dalam Indonesia yang berwarna-warni bangsa ini akan memiliki masa depan yang baik.”

Dalam terang tema Paskah “Kebangkitan Kristus Membebaskan kita dari Kuasa Kematian” Pdt. Mery Kolimon mengingatkan jemaat-jemaat GMIT untuk sungguh-sungguh mengambil peran dalam upaya memerangi kemiskinan, trafficking, korupsi yang merajalela, kekerasan, memperkuat solidaritas dan merawat lingkungan.

Sementara itu dalam statement kebhinekaan para tokoh agama, ketua Parisada Hindu Dharma Provinsi NTT memberi penghargaan yang tinggi pada kebersaamaan yang terjalin dalam acara Paskah yang melibatkan sesama lintas iman. Ia mengajak hadirin dan seluruh masyarakat untuk menjaga kebersamaan,  persaudaraan dan kasih antar sesama karena dimana ada kasih di situ ada Tuhan. Ajakan senada juga disampaikan ketua MUI Prov. NTT, Abdul Kadir Makarim.

Selepas acara pembukaan dilanjutkan dengan pawai menuju Bundaran PU yang berjarak sekitar dua kilometer dengan melibatkan tujuh belas etnis, terdiri dari: Amanatun, Malaka, Manggarai, Amarasi, Rote, Sabu, Sumba, Alor-Pantar, Maumere, Toraja, Bajawa, Amfoang, Kefa, Toraja, Bali, Bugis dan Jawa. Peserta dari masing-masing rombongan mengenakan pakaian adat lengkap mewakili etnisnya serta mobil hias yang dekorasinya juga bernuansa budaya. Etnis Jawa misalnya, menampilkan kesenian rakyat berupa  kuda lumping dan reog Ponorogo yang memukau penonton dengan atraksinya yang berbau mistik.

Suasana karib dalam semangat persaudaraan lintas etnis dan agama sangat terasa dalam perayaan ini.  Hal ini tampak dari para peserta yang bukan hanya berasal dari jemaat Benyamin tetapi ada juga yang berasal dari lintas agama (Islam dan Hindu Bali) yang berbaur satu dengan yang lain seakan-akan perayaan paskah saudara-saudara dari umat Kristen adalah juga perayaan mereka. Padahal kebangkitan Yesus dalam teologi Islam sangat bertolak-belakang.

Sekitar pukul 16:00 arak-arakan peserta tiba di Bundaran PU. Di sini diadakan penanaman anakan pohon oleh para pimpinan lembaga yang kemudian dilanjutkan dengan menari massal. Tatkala lagu “Injil di Flobamora” yang dipopulerkan oleh Vokal Grup Kole-kole di putar, spontan ribuan peserta dan penonton termasuk peserta lintas agama ikut menari dengan riang gembira. Dalam sekejap sebagian besar lokasi bundaran PU dan jalan utama menuju Tuak Daun Merah yang ditutup pihak keamanan, dipadati oleh warga yang sekedar menonton maupun meluapkan kegembiraan dengan turut menari massal. Perbedaan keyakinan yang biasanya mengeras, seakan-akan mencair begitu saja dan melebur dalam semangat persaudaraan dan kebhinekaan.

Peristiwa langka ini tak luput dari perhatian berbagai media lokal. Panitia bahkan menyiapkan drone (pesawat/robot kecil) guna merekam dari udara seluruh prosesi pawai yang  sarat makna dan spektakuler ini . Setelah puas menari bersama sekitar pukul 17:30, peserta kembali berkumpul di gereja untuk mengikuti beberapa kegiatan lanjutan.**

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *