SUARA KRITIS UNTUK LITURGI ETNIS

KUPANG, WWW.SINODEGMIT.OR.ID, Kendati mendapat sambutan luas di jemaat-jemaat GMIT,  penggunaan liturgi etnis sepanjang bulan Mei ini, tak luput dari suara-suara kritis. Matheos Viktor Messakh, dalam akun facebooknya mewanti-wanti agar ibadah tidak terjebak pada apa yang ia sebut sebagai ritual tanpa makna. Belajar dari kapitalisme yang kadang mencaplok dan menyalahgunakan simbol-simbol dan ritual tradisional untuk kepentingan kapitalnya, Matheos, jurnalis dan sejarawan asal NTT yang juga mengenyam pendidikan sarjana teologi mengatakan, “Ibadah gereja bisa jatuh dalam ritual dan simbol tanpa makna kalau mengambil dan menggunakan ritual dan simbol tanpa mengerti makna atau memberi makna. Ingat ritual tanpa makna adalah SHOW. Terus terang saya tidak suka kreasi baru asal menyenangkan mata dan telinga kita. Itu show!” kritiknya.

Elia Maggang M.Th, pengajar dari fakultas teologi UKAW-Kupang, juga punya kesan yang mirip. Menurutnya terjemahan lurus terhadap lirik lagu dari kidung jemaat ke dalam bahasa daerah misalnya, tidak cukup menangkap makna dari lagu aslinya. Karena itu ketimbang mengalihbahasakan lirik, ia mengusulkan menggunakan lagu-lagu berirama etnik, sementara liriknya tetap dalam bahasa Indonesia sehingga bisa dipahami oleh semua suku.

Di pihak lain Pdt. Em. Deker Mauboi, M.Th, juga turut mengkritisi pemberitaan firman yang belum cukup mendialogkan budaya dengan pesan Injil. “Semua liturgi berbasis etnik sungguh indah dan mengesankan, hanya saja teologi lokal kontekstual belum nampak dalam khotbah-khotbah gereja kita,” ungkapnya melalui pesan singkat kepada redaksi sinodegmit.or.id.

Menanggapi sumbangan pikiran kritis dari berbagai kalangan, Pdt. Samuel Pandie, salah satu anggota tim penyusun liturgi menandaskan bahwa tim telah melakukan sejumlah kajian dan latihan namun ia mengakui masih ada kekurangan di sana sini karena beberapa keterbatasan termasuk dalam hal penerjemahan nyanyian. Kendati demikian menurutnya, antusiasme jemaat mengaplikasikan liturgi cukup besar. Ia berharap usul saran dari berbagai pihak terkait bulan bahasa dan budaya tahun ini menjadi masukan berharga bagi tim dan ke depan bisa melahirkan inovasi baru yang dapat memperkaya khasanah liturgi di GMIT.

Terkait berbagai suara kritis tersebut, ketua majelis sinode GMIT Pdt. Dr Mery Kolimon  berterima kasih dan akan memberi perhatian serius sekaligus mengajak warga gereja untuk terus berteologi, mencari dan menemukan kehendak Tuhan dalam keragaman budaya. Ia berjanji akan memperhatikan semua masukan tersebut untuk perbaikan di masa mendatang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *