JAMBORE PAR GMIT BUTUH FORMAT BARU

KUPANG, www.sinodegmit.or.id. Sejak 1997, atau 20 tahun yang lalu, jambore PAR (Pelayan Anak dan Remaja) GMIT telah menjadi ajang kerbersamaan tahunan. Namun, sepanjang 2 dekade itu, format dan isi kegiatan jambore relatif tidak berubah. Lomba dramatisasi, Cerdas-Cermat Alkitab (CCA), tekle, lintas alam, baca puisi, buka cepat alkitab, menyanyi, yel-yel, dst.nya masih menjadi kegiatan andalan. Padahal, isu-isu seputar persoalan anak ada di depan mata, makin kompleks, urgen dan membutuhkan penanganan segera, terencana dan sistematis jutru terabaikan.

Agar jambore PAR tidak monoton dan memberi dampak positif bagi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon, menghimbau panitia-panitia baik di lingkup klasis maupun jemaat-jemaat agar tidak hanya memberi perhatian pada materi-materi kegiatan menyangkut pengetahuan Alkitab kendati itu sangat penting, tetapi yang tidak kalah penting juga adalah membantu anak-anak membaca isu-isu sosial yang berkembang dalam masyarakat.

“Kami meminta agar kegiatan-kegiatan ke depan, bahan-bahan pengenalan Alkitab sangat penting tapi pada saat yang sama juga anak-anak ditolong membaca isu-isu sosial yang ada dalam masyarakat seperti diskriminasi dan eksploitasi. Banyak anak-anak di NTT menjadi korban kekerasan tetapi juga banyak yang menjadi pelaku kekerasan,” demikian pernyataan Ketua Majelis Sinode GMIT saat menyampaikan suara gembala pada kegiatan pembukaan jambore PAR V klasis Kupang Tengah, Senin, 3/07.

Kegiatan jambore PAR yang berlangsung selama 4 hari tersebut, melibatkan 720 peserta anak dan pendamping yang berasal dari 57 jemaat bertempat di Pos Pelayanan Ora Et Labora Oebaun, desa Mata Air-Tarus. Melalui kegiatan ini Pdt. Mery Kolimon berharap karakter iman anak-anak dibangun menjadi anak-anak yang mencintai sesama dan alam.

Pada kesempatan yang sama wakil gubernur NTT, Drs. Benny Litelnoni juga mengapresiasi kegiatan ini. Dalam sambutannya ia berharap akhir dari jambore ini bisa memberi sejumlah rekomendasi bagi pemerintah agar di masa mendatang dapat mejadi bahan pertimbangan dalam menyiapkan program-program yang mensejahterakan anak.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *