MATIAS TIKAN: “TUHAN TIDAK MAU SD GMIT DITUTUP”

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Sekolah Dasar (SD) GMIT Taloi yang dibangun tahun 1944, satu-satunya SD yang menjadi tanda kehadiran GMIT dalam bidang pendidikan di perbatasan RI dan Timor Leste kini terancam tutup. Sebabnya adalah sekolah kekurangan tenaga pengajar sehingga orang tua memindahkan anak-anak mereka ke SD Negeri terdekat.

Akibat perpindahan tersebut, SD GMIT Taloi yang terletak di Oepoli, klasis Amfoang Timur kekurangan murid. Kondisi ini diperparah oleh sikap Yapenkris (Yayasan Pendidikan Kristen) Sonaf Honis yang membawahi sekolah ini juga tidak menaruh perhatian. Menurut kepala sekolah sejak 20 tahun terakhir pihak yayasan tidak pernah mengunjungi sekolah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste ini.

“Tahun 2013 yang lalu pemerintah bangun lagi satu SD negeri sekitar 1 kilometer dari SD GMIT Taloi sehingga orang tua memilih kasi sekolah anak mereka di SD Negeri. Jadi, tiap tahun jumlah murid makin turun. Dari 100 lebih murid, sekarang sisa hanya 46 orang. Tahun ini murid yang daftar hanya 9 orang. Itu pun murid dari orang-orang tua yang tidak mau sekolah ini ditutup. Sementara yayasan tidak pernah datang kunjungi kami. Terakhir kali datang tahun 1997,” kisah Leonard Lelan (60) kepala sekolah SD GMIT Taloi.

Senada dengan itu, Ketua Komite Matias Tikan mengatakan akibat ketidakpedulian yayasan dan gereja sejumlah warga termasuk orang tua murid di Taloi mengharapkan sekolah ditutup. Kerena itu mereka meminta kepada pemerintah kabupaten Kupang agar mendirikan sekolah negeri yang kemudian disetujui. Setelah itu, sejumlah orang tua memindahkan anak-anak mereka ke SD Negeri yang mereka bangun kendati kondisinya darurat.

“Sebelum  SD Negeri dibangun (2013) SD GMIT ini bagus. Walaupun kami kurang guru tapi kondisinya baik. Setelah SD negeri darurat dibangun orang tua kasi pindah anak-anak mereka sehingga SD GMIT kekurangan murid sampai hari ini,” ujar Matias.

Ketua komite juga menyesalkan sikap Ketua Majelis Klasis Amfoang Timur, Pdt. Jerison Djo Rake yang menurutnya belum memberi perhatian serius pada kondisi sekolah melalui persidangan klasis.

“Kami sudah sampaikan kondisi sekolah GMIT ini dalam persidangan klasis namun jawabannya, persoalan sekolah itu urusan yayasan. Tapi sampai hari ini itu yayasan tidak pernah datang lihat perkembangan sekolah. Sehingga saya dilema dan jadi lemah, soalnya tidak ada perhatian. Saya bukannya mau cari kesalahan orang tapi sekolah jadi begini juga karena Pak klasis kasi sekolah dia punya anak-anak bukan di sini (SD GMIT Taloi, red.) tapi di SD katolik akhirnya orang-orang GMIT su tidak setuju. Kebetulan di sini kurang guru maka dengan alasan itu orang tua dan jemaat di sini  bilang lebih baik kita bangun SD Negeri supaya tutup buang ini sekolah karena kita orang GMIT sendiri tidak cinta ini sekolah GMIT. Akhirnya ini sekolah jadi rusak sudah. Tapi sampai hari ini mungkin Tuhan juga tidak mau supaya ini sekolah ditutup dan hilang, biar anak hanya berapa tapi sekolah tetap jalan,” ungkapnya.

Saat ini SD GMIT Taloi memiliki 2 guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan 4 orang tenaga honorer. Bertolomeus Obe, salah satu guru PNS yang tahun 2018 akan pensiun mengharapkan Gereja secepatnya mengambil tindakan untuk menyelamatkan SD GMIT Taloi yang sudah berusia  73 tahun ini. Ia juga  meminta kerja sama yang baik antara pemerintah, gereja, yayasan  dengan SD Negeri supaya setiap tahun ajaran baru ada pembagian murid secara merata supaya SD GMIT tidak tutup.

Hal yang juga disampaikan kepala sekolah setempat yang memasuki usia pensiun pada bulan Desember mendatang. Ia meminta yayasan untuk segera mengirim guru, bila tidak maka SD GMIT Taloi tidak punya kepala sekolah usai dirinya pensiun. ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *