PASCA PELANTIKAN, WALIKOTA KUPANG TEMUI MAJELIS SINODE GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Dua minggu pasca dilantik, pasangan walikota dan wakil walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan Herman Man bertemu Majelis Sinode GMIT. Rombongan walikota diterima ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, Senin, 04/09-2017.

“Kami datang minta doa dari ibu ketua sinode dan jemaat supaya kami bisa memimpin kota Kupang dengan hati dan dengan sungguh, jujur, berani, berhikmat dan takut Tuhan” ujar Jefri singkat usai pertemuan.

Pada tatap muka yang berlangsung sekitar satu jam, walikota Kupang menyatakan komitmennya untuk memajukan pembangunan kota melalui beberapa program antara lain: membangun ruang terbuka hijau dengan cara mewajibkan pegawai, siswa dan mahasiswa menanam, merawat dan melarang penebangan pohon, membangun kawasan teluk Kupang menjadi ruang terbuka hijau, membantu masyarakat miskin melalui bantuan beras miskin (raskin) lewat kerjasama dengan pihak gereja untuk memperoleh data warga penerima diakonia yang akurat, mendukung sekolah-sekolah swasta serta kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna membangun pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

Menyambut kunjungan pucuk pimpinan kota Kupang ini, Pdt. Mery meminta keduanya agar tidak tersandera oleh berbagai kepentingan.

“Saat ini Bapak berdua menjadi pemimpin di kota ini untuk semua golongan jadi jangan memberi diri dibelenggu oleh mereka yang mendukung maupun tidak. Rangkul semua pihak untuk membangun kota ini. Di kota ini banyak orang-orang cerdas dan untuk itu harus terbuka dan menciptakan ruang bagi semua pihak terlibat dalam proses pembangunan kota,” pesan Pdt. Mery.

Sementara terkait rencana kerjasama pemerintah Kota Kupang dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan akuntabel, Ketua Majelis Sinode GMIT mengingatkan walikota bahwa upaya itu perlu dilandasi dengan motivasi yang tulus, bukan karena balas dendam.

“Kami mendukung  kepemimpinan yang transparan dan akuntabel. Terutama terkait pengelolaan dana publik. Kami menyambut baik rencana kerjasama dengan KPK asal itu bukan untuk balas dendam tetapi untuk memastikan kita memperjuangkan pengelolaan dana publik yang transparan.”

Ketua MS GMIT juga meminta perhatian pemerintah kota Kupang terkait pengelolaan tata ruang kota dan ruang-ruang komunikasi antar komunitas di Kota Kupang. “Kita butuh investor tapi jangan sampai ruang publik yang tersedia hanya berpihak pada investor. Tolong tata dengan baik sehingga masyarakat punya ruang terbuka hijau, kawasan pantai dll. Ruang-ruang itu kita dibutuhkan untuk mengelola masyarakat yang majemuk. Ruang yang kami maksud bukan hanya fisik tapi juga ruang-ruang perjumpaan yang diciptakan secara adil bagi semua kelompok dalam masyarakat,” ungkap Pdt. Mery.

Sebagai alumni dan juga pengajar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Pdt. Mery meminta walikota untuk menata lingkungan sekitar kampus agar tidak kumuh akibat bangunan kost-kost mahasiswa. Sebab menurutnya, mahasiswa adalah calon pemimpin daerah dan bangsa yang membutuhkan lingkungan belajar yang aman dan sehat. Ia juga berpesan kepada Walikota Kupang agar serius menangani isu eksploitasi anak baik pekerja anak maupun pelacuran anak yang marak di Kota Kupang.

Kunjungan walikota Kupang di kantor MS GMIT kali ini didampingi ketua komisi V DPRD NTT Winston Rondo. Sebelumnya, 16/02 atau sehari setelah pemilihan walikota Kupang, Jefri juga menemui Majelis Sinode GMIT untuk agenda yang sama.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *